
Agathias menurut saja saat tangan dituntun untuk menyentuh perut Loralei. Wajahnya bisa datar terus padahal dalam hati menjerit ingin tertawa. Menggemaskan sekali melihat istrinya yang terlalu polos atau mungkin cuek sampai tidak sadar kalau sedang hamil.
Tapi memang tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Kalau saja saat itu Loralei tidak datang ke rumah sakit dan pingsan, dia pun tak akan tahu kalau saat ini istrinya sedang mengandung.
Agathias sengaja menyembunyikan, tidak memberi tahu pada Loralei karena wanita itu pernah mengkonsumsi obat pencegah kehamilan. Siapa tahu memang berencana tidak memiliki anak terlebih dahulu. Jadi, ia memilih bungkam dan menjaga, merawat, serta menjauhkan dari bahaya. Memberikan vitamin dari dokter yang setiap bulan ia ambil ke rumah sakit.
Rencananya Agathias ingin membiarkan Loralei sadar sendiri, mungkin sampai anak itu mulai bisa memberikan tendangan. Pasti sangat seru melihat wajah istri terkejut karena hamil besar. Tapi, berhubung mulai ada kecurigaan dan memintanya untuk mengantarkan ke rumah sakit, sepertinya rencana itu gagal.
“Iya, besok aku antar, mau cek apa?” tanya Agathias sembari menuntun wanitanya menuju ranjang.
__ADS_1
“Ke obgyn, aku tidak datang bulan selama ....” Loralei menjeda sejenak karena berpikir. Kapan terakhir kali ia memakai menstrual cup. Ingatnya sampai diputar lagi ke beberapa bulan belakang.
Sementara Agathias dengan sabar menanti lanjutan cerita istrinya. Menikmati nyamannya memeluk wanita yang dicintai dari belakang. Membiarkan tangan kiri digunakan untuk bantal, dan sebelah kanan menelusup masuk ke balik kemeja putih kebesaran miliknya yang membalut tubuh Loralei. Tentu tidak lupa mengusap bagian yang buncit karena di sana ada anaknya.
“Kapan?” Agathias sudah menanti selama tiga menit, tapi Loralei belum juga melanjutkan bicara. Dia senang sekali menghirup aroma tubuh wanitanya, walau memakai sabun dan shampoo yang sama, tetap saja kecanduan untuk mendekatkan hidung di leher istri tercinta.
“Sepertinya sejak kita menikah, aku belum pernah datang bulan. Berarti berapa lama?” Loralei menggeliat kegelian saat merasakan ada lidah mulai menggelitik bagian leher.
Kini mata Loralei bisa menangkap wajah Agathias yang mulai mendamba. Dia sangat tahu tatapan itu karena setiap hari selalu menyaksikan. Tapi, kepalanya menggeleng saat suaminya hendak mencium. Tahu betul apa yang akan terjadi setelah itu, apa lagi kalau bukan berpolos ria dan menyatukan kulit tanpa halangan sedikit pun.
__ADS_1
“Besok saja, ya? Hari ini libur dulu. Remuk juga badan ini kalau setiap hari ditusuk bagaikan sate.” Loralei memberikan penolakan seraya tangan mengusap lembut rahang tegas Agathias.
Agathias menghela napas. Dia menarik istri ke dalam dekapan hangat. “Berada di dekatmu selalu membuatku sulit mengendalikan yang ada di bawah sana.”
Loralei memang bisa merasakan ada yang keras dan mengganjal. Pasalnya, posisi mereka saat ini sangatlah tak berjarak. “Dasarnya kau saja yang cabul.” Ia mencubit kecil perut yang tak terbalut apa pun. “Tahan sehari.”
“Iya, Sayang.” Agathias menurut sekali. Padahal image bos satu itu terkenal otoriter. Namun, pada istri tercinta mulai berubah, walau untuk orang luar tetap berlaku sesuai sifat aslinya.
Loralei mulai membalas melingkarkan tangan di tubuh suami juga. Menikmati sensasi kehangatan yang disalurkan oleh kulit dengan bulu di dada. “Kita menikah sudah berapa lama?”
__ADS_1
“Empat bulan.”