
Loralei tak kuasa menahan isakan yang kian hebat saat ibunya tak juga memberikan respon. Hal paling buruk yang tak pernah diharapkan untuk hadir kedua kali. Menyaksikan orang tuanya tak berdaya melawan sakit.
Hati Loralei begitu terisis. Sebagai seorang anak yang memiliki satu orang tua, dia tak kuasa dan belum rela melepaskan. Paham kalau keinginan itu terlalu egois. Menahan ibunya untuk tetap di dunia sama saja membiarkan rasa sakit terus menyerang dan menggerogoti tubuh yang sudah tua dan renta.
Tapi, bolehkah Loralei meminta sekali saja? Setidaknya biarkan ibunya merasakan bahagia bertemu cucu pertama dan satu-satunya. Menggendong walau hanya sesaat. Atau paling tidak biarkan ia berbincang sebentar, meski hanya akan ada kalimat perpisahan.
Setidaknya Loralei bisa mengobrol di saat-saat terakhir, bukan sekedar melihat kondisi yang mana mata sudah terpejam seolah pasrah seandainya nyawa teregang.
__ADS_1
Loralei tidak kuasa menahan remasan di hati dan cekatan pada leher yang begitu mencekik. Perlahan ia beringsut, rangkulan suaminya seakan tak lagi kuat menahan segala kesedihan yang menggunung. Dia bersimpuh di samping ranjang pasien, membiarkan lutut menyentuh lantai dan mengabaikan kontraksi yang kembali menyerang lebih dahsyat.
“Mom ... aku tahu waktu kita tak lama lagi. Bisakah kau bangun? Sebentar saja,” pinta Loralei. Dia menangis di tangan yang sejak tadi digenggam. Setiap tetes air matanya jatuh pada kulit yang tak lagi kencang dan mulai terasa dingin. “Aku belum pernah mengucapkan terima kasih padamu karena sudah melahirkan dan membesarkanku, juga belum meminta maaf kalau selama ini tak merawatmu setiap hari, tidak ada di sisimu setiap saat.”
Loralei terus terisak dan tak tahu bagaimana cara mengatasi nyeri di dada dan perut serta sekujur tubuhnya. Rasanya bagaikan hujaman yang begitu menyayat karena bukan sekedar fisik yang diserang, tapi juga remasan di hati yang tak kunjung reda. Jantung sejak tadi berdebar, walau monitor masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan dan ibunya belum pergi dari dunia.
Agathias mencoba memberikan kekuatan, mengusap lengan dan menuntun Loralei supaya berdiri. Dia tidak bisa memberikan kalimat yang menenangkan. Seandainya berada di posisi istrinya, pasti terpukul juga kalau melihat satu-satunya keluarga yang dimiliki sudah berada diambang antara hidup dan mati. Jadi, ia biarkan wanita itu meluapkan kesedihan. Setidaknya ia ada di samping untuk menjadi orang pertama yang menjadi sandaran seandainya kaki tak lagi mampu menompang tubuh.
__ADS_1
“Lo ....”
Suara lirih yang nyaris tak terdengar itu membuat Loralei lekas menghapus air mata. Dia membungkukkan badan supaya lebih dekat dengan kepala ibunya. “Aku di sini, Mom.” Kembali menggenggam tangan renta itu, dan mengusap penuh kasih sayang.
“Maafkan aku—” Linda Nyx berbicara dengan napas mulai terlihat tersengal sehingga membuatnya perlu menjeda sejenak. “Aku terlalu banyak merepotkanmu.”
Kepala Loralei menggeleng kuat. “Aku tidak merasa direpotkan. Semua yang ku lakukan untukmu adalah baktiku untuk orang tuaku.”
__ADS_1
Ada seutas senyum tipis di wajah Linda. Pandangan matanya sudah terlihat sayu dan nyaris tidak memancarkan sorot apa pun. “Semoga lancar persalinannya.” Dengan sekuat tenaga tangannya menyentuh perut putrinya yang buncit. “Anak ini pasti akan memberikan kebahagiaan untukmu. Jangan sedih berlarut-larut seandainya aku sudah tak kuat lagi menahan sakit.”