
Loralei mengejan sekuat tenaga diiringi air yang keluar dari mata. Dia mencoba kuat walau tenaga sebenarnya begitu tipis setelah terkuras oleh kesedihan di depan ibunya.
Air mata wanita itu bukan sekedar luapan rasa sakit karena tubuh seperti remuk dan dipatahkan seluruh tulangnya. Tapi juga pertanda kesedihan karena mengingat ibunya yang sedang sendirian. Dia ingin segera melewati proses persalinan supaya bisa cepat berada di samping orang tuanya di saat-saat terakhir.
Sekuat tenaga Loralei mengejan tanpa suara, dan mata berusaha tetap terbuka. Sakit ... hati dan tubuh. Tapi dia akhirnya berhasil juga, suara seorang bayi menggema di dalam ruang bersalin.
Agathias langsung mengecup kening sang istri yang jelas sekali kelelahan. Mengusap seluruh wajah untuk menghilangkan keringat sisa perjuangan. “Thanks sudah berhasil sampai di titik ini.” Berkali-kali rasa syukur digumamkan, ia mengecup bibir Loralei sebagai ungkapan cinta dan rasa sayangnya.
Loralei mengangguk, dan dia tersenyum ketika bayi mungil ditidurkan di dadanya. “Setelah ini kita temui nenekmu, ya? Setidaknya dia melihat cucu pertama walau tak bisa menggendong.”
Agathias tersenyum antara bahagia dan duka. Dia ingin memberi tahu sang istri tentang kondisi mertuanya, tapi diurungkan karena tidak ingin mengguncang hati Loralei yang belum selesai total melewati persalinan. Bagian jalan lahir masih perlu dijahit juga. Jadi, dia cukup mengusap dua kepala dari bagian keluarga kecilnya.
Tadi, saat Agathias keluar ruangan mertuanya, dia sempat menengok sebentar. Monitor detak jantung sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, membentuk garis lurus. Namun ia tetap keluar dan mempercayakan pada dokter. Beberapa kali ia merasakan ada getaran di telepon, tapi diabaikan karena sedang fokus pada istrinya.
__ADS_1
Lalu, sekarang panggilan itu kembali dirasakan. Ponsel dalam saku bergetar. Kali ini Agathias tak lagi mengabaikan. Dia mengeluarkan benda tersebut, dan benar saja sesuai dugaan, nomor dokter yang merawat mertuanya.
Agathias melirik wajah Loralei sebentar yang masih nampak senang sembari mengusap anak mereka yang menangis. Dia lalu tersenyum ketika wanita itu melirik ke arahnya.
“Wajahnya persis daddy,” beri tahu Loralei.
Agathias mengangguk membenarkan. Sementara tangan kanan masih mengusap puncak kepala sang istri.
Wajah berbinar Loralei langsung menghilang saat tak sengaja melihat layar ponsel suaminya menunjukkan nama dan display picture seorang dokter. Jantungnya kembali berdebar. “Kenapa tidak diangkat?”
“Angkat saja sekarang, siapa tahu penting.” Suara Loralei keluar dengan sedikit bergetar. Firasatnya seolah memberi tahu kalau akan ada kabar yang tidak menyenangkan.
Kepala Agathias tetap menggeleng. “Nanti saja.”
__ADS_1
Tapi, tangan Loralei justru terulur untuk menekan tombol hijau dan langsung menyentuh logo speaker supaya ia bisa mendengar juga.
Agathias menghela napas. Tangannya menggenggam Loralei dan mendengarkan bersama-sama.
“Selamat sore.”
“Ya, sore.” Agathias yang menjawab karena Loralei sudah kembali bergertar menahan isakan. Untunglah dokter sudah memberi tahu kalau selesai dijahit.
“Saya ingin memberi tahu bahwa pasien bernama Linda Nyx—”
Rasanya Loralei tak siap untuk mendengar kelanjutannya. Dia sudah kembali terisak dengan mendekap sang anak.
“Dinyatakan meninggal dunia pada pukul lima sore waktu Finlandia.”
__ADS_1
Isakan Loralei semakin kuat. Diantara mau sedih atas kehilangan orang tua, atau bahagia mendapatkan buah hati sebagai penawar duka. Wanita itu sampai sesegukan karena tak tahu lagi harus mengekspresikan dengan cara apa. Bayi dalam dekapan dadanya pun turut menangis kencang seolah menemaninya berduka.