Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 61


__ADS_3

Agathias duduk menanti Loralei keluar dari kamar. Dia memasang wajah sedingin dan sangat menyeramkan karena ada amarah yang ditahan. Bisa-bisanya memiliki obat pencegah kehamilan secara diam-diam. Sudah dikonsumsi beberapa pula.


Di meja makan ada dua roti panggang yang tersaji. Tapi, belum disentuh sedikit pun oleh Agathias karena selera mendadak hilang.


Beberapa saat menanti, akhirnya Loralei keluar juga dari kamar. Wajah wanita itu nampak segar ditambah rambut lembut tergerai indah.


Kian mendekati sang suami, justru membuat Loralei mengernyit bingung. Agathias tidak pernah menatapnya sebengis itu. Biasanya selalu sorot cabul, meneduhkan, dan terkadang menyebalkan saat melakukan penjajahan. Tapi, kini ia mendapati dua pasang mata mengikuti pergerakannya tanpa berkedip.


“Apakah kau tidak suka dengan baju yang ku pakai?” tanya Loralei seraya melihat outfit hari ini. Dia pikir, suami marah karena berpenampilan press body.


“Duduk!” perintah Agathias dengan suara lantang dan tegas. Menunjuk kursi di hadapannya menggunakan dagu.


Loralei sedikit terkejut karena Agathias mendadak berubah. Tapi, ia menurut, mendaratkan pantat di hadapan suami walau tak paham apa kesalahannya hingga membuat pria itu marah.

__ADS_1


Agathias meletakkan obat dalam genggamannya ke atas meja, secara kasar. “Apa maksudmu mengkonsumsi pencegah kehamilan? Tidak mau memiliki anak denganku? Sebenci itu kah dengan suamimu ini?”


Loralei menelan ludah. Baru juga dibuang supaya tidak menjadi masalah, justru membuat suaminya marah. Lagi pula, Agathias juga tumben sekali membuka tempat sampah, biasanya jarang.


“Dulu, iya. Aku memang sempat membencimu karena di mataku kau sangat menyebalkan, cabul, penindas, penjajah, selalu memaksakan kehendakmu—” Belum juga selesai menjelaskan, Agathias si pemilik kesabaran sekecil debu itu sudah melotot dan memotong.


“Oh ... jadi, di matamu hanya ada keburukanku?” Sunggingan senyum sinis bercampur kecewa pun tercetak di wajahnya. Agathias sudah semaksimal mungkin menjadi suami yang baik. Tapi, di mata istri tetaplah buruk.


Loralei menghela napas pelan, perlahan tangan terulur untuk menggenggam suaminya. Memberikan usapan supaya obrolan mereka tidak menggunakan emosi. “Dengarkan penjelasanku dulu, jangan dipotong.”


“Di mataku memang kau sangat buruk. Tapi, itu dulu, sebelum aku menyadari bahwa semua sifat menyebalkanmu yang membuatku terbiasa dan nyaman berada di sisimu. Jadi, aku tidak lagi membenci suami sendiri.” Loralei memasang wajah mengiba supaya Agathias percaya dan tidak marah padanya.


Agathias coba meredam emosi. “Lalu, sejak kapan kau mengkonsumsi obat ini?” Sekarang nada bicaranya tidak setinggi tadi.

__ADS_1


“Itu Annora yang memberikan padaku. Saat kita bertiga bertemu di coffee shop depan perusahaan beberapa minggu yang lalu.” Bukan berniat mengadu. Tapi, memang kenyataan seperti itu. Daripada Agathias marah padanya dan berakhir membuatnya kurang belaian seperti saat itu. Sangat menyiksa jika tidak mendapatkan sentuhan suami.


“Annora?”


“Ya.” Loralei mengangguk pelan untuk membenarkan.


Helaan napas Agathias keluar kasar. Dia melepaskan genggaman sang istri dan langsung berdiri. “Kau di dalam apartemen saja! Jangan keluar sampai aku pulang! Tidak perlu bekerja!” titahnya seraya menggeser kursi hingga menimbulkan suara decitan.


“Kau mau ke mana?” tanya Loralei menahan pergelangan suami.


“Bertemu Annora,” jawab Agathias sangat dingin.


“Jangan marah padanya. Dia hanya memperingatkan aku supaya tak sakit hati. Maksudnya baik, Aga.” Loralei mencegah suami supaya tidak menimbulkan masalah baru. Tahu sekali bagaimana si bos galak kalau sudah marah.

__ADS_1


“Ini bukan urusanmu. Jadi, kau diam di sini!” Agathias melepaskan tangan Loralei. Dia tetap pergi meninggalkan wanita itu seorang diri.


__ADS_2