Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 67


__ADS_3

Untunglah Agathias sedang mendekap sang istri. Jadi, saat Loralei terkulai lemas secara tiba-tiba, langsung ia gendong. Dia keluar begitu saja meninggalkan mantannya seorang diri. Menulikan telinga ketika Aretha berteriak untuk tak ditinggalkan dan memintanya supaya bertanggung jawab.


Agathias sigap membawa istri ke IGD supaya lekas diperiksa dan diberi pertolongan seandainya ada kondisi yang mengkhawatirkan. Bersyukurlah pria itu saat dokter jaga memberi tahu kalau Loralei baik-baik saja dan tidak perlu rawat inap.


Berhubung Loralei belum siuman, Agathias duduk di kursi samping brankar di mana wanitanya tengah berbaring dengan mata terpejam.


Sepasang mata itu terus menatap wajah cantik yang pucat. Dia usap pipi yang terasa mulus. Ada rasa bersalah hinggap dalam hati karena membuat Loralei pingsan.


Walau dokter mengatakan kondisi istrinya baik-baik saja, tapi tetaplah karena dirinya yang terlalu banyak membuat Loralei dalam kondisi tertekan dan banyak pikiran.


Meski waktu semakin malam dan Agathias juga belum makan dari pagi. Roti panggang yang ia buat bahkan tidak jadi tersentuh. Namun, dia tetap setia mau berada di sisi Loralei.


Agathias mau menjelaskan situasi yang tadi dilihat oleh sang istri, juga yang didengar saat di mansion keluarga. Ia merasa kondisi Loralei tertekan karena kejadian hari ini yang terlalu mengejutkan.


Tangan kekar si bos mengusap perut, dan satu lagi di menggenggam tangan lembut sang istri. Dia tidak berniat memejamkan mata sedikit pun, justru fokus terus menatap wajah yang sudah mengisi setiap harinya dalam kurun waktu tiga tahun menjadi sekretaris, dan hampir menginjak dua bulan sebagai pasangan sah.


Agathias tidak pernah menyangka kalau hatinya benar-benar dibuat porak poranda oleh sosok sekretarisnya, yang pada akhirnya secara nekat dinikahi. Bahkan sebelum Loralei menjadi istri pun dia sudah tertarik dengan wanita itu.

__ADS_1


Sepasang kelopak yang sudah dua jam terpejam itu akhirnya mengerjap, Agathias lekas menyambut dengan ulasan senyum.


“Jangan buru-buru duduk, tetaplah tiduran,” larang Agathias saat mendapati Loralei hendak mengangkat kepala.


Wajah wanita itu langsung berubah sendu, kembali sedih saat melihat Agathias. Ia teringat betapa perhatian suaminya pada mantan, sampai mau menjaga di rumah sakit. Melengos supaya tidak menatap sang pria.


Agathias tersenyum melihat tingkah istrinya yang sedang merajuk. “Tadi kau pingsan, jadi ku bawa ke IGD.”


“Sana, kembali ke mantanmu. Untuk apa menjagaku di sini? Bukankah lebih menarik mantan daripada istri?” sindir Loralei. Sepertinya sebagian besar wanita memiliki sifat yang hampir mirip kalau sudah cemburu, akan mengungkit kesalahan prianya.


“Tidak ada yang lebih menarik dibanding kau,” jelas Agathias. Meski tidak ditatap, ia tak memaksa. Tangannya tetap memberikan usapan di perut dan tangan Loralei.


“Itu yang orang lain tahu. Tapi, yang paham bagaimana hati dan perasaanku adalah diriku sendiri.” Agathias menjeda sejenak, berharap Loralei mau menatapnya. “Semoga kau mau mendengar penjelasanku. Jangan dipotong saat aku menceritakan bagaimana perasaanku padamu.”


Menarik tangan Loralei untuk dikecup. Agathias menempatkan telapak wanita itu untuk menyentuh rahang tegasnya. “Apa kau tahu kenapa Aretha memutuskanku?”


Loralei masih bungkam, hanya menjawab dengan kedikan bahu.

__ADS_1


“Karena satu tahun sejak kau menjadi sekretaris, perhatianku selalu tertuju padamu. Aku tidak pernah memberikan perhatian pada Aretha, mungkin sejak awal menjalin hubungan dengannya pun aku tidak pernah memiliki alasan untuk menyukainya. Dia marah dan cemburu karena aku lebih banyak menghabiskan waktu denganmu daripada kekasih sendiri.”


Loralei hanya diam, sesuai perintah, ia tidak memotong sedikit pun dengan tanggapan.


“Aku justru lebih tertarik dengan seorang wanita yang selalu ku jajah, tindas, dan cabuli.” Agathias mengulas senyum saat Loralei mau menatapnya.


Diulurkan tangan kekar itu untuk mengusap pipi lembut. “Sifatmu yang penurut, wajah polosmu yang menggemaskan, gerutuanmu setiap kali aku memberikan perintah tak masuk akal, mimikmu saat membenciku. Semua ku suka. Bahkan saat aku selalu meneleponmu di tengah malam hanya bertanya hal yang seharusnya bisa dilakukan besok, itu adalah caraku ingin mendengar suaramu sebelum aku tidur.”


Loralei mencubit lengan Agathias. Matanya berkaca-kaca mendengar penjelasan suaminya. “Menyebalkan.”


Agathias terkekeh, mengecup permukaan tangan Loralei dengan durasi lama. “Aku tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi denganmu kecuali masalah pekerjaan. Kau tahu kalau aku lumayan kaku.”


Rasa marah yang tadi menyelimuti hati Loralei pun perlahan memudar seiring haru yang menjalar. “Jadi, kau menikaiku karena?”


“Tentu saja tertarik denganmu. Sudah lama aku berniat mau menikahimu. Tapi, bingung caranya, kau membenciku dan kita tidak terlihat dekat kecuali masalah pekerjaan. Jadi, ku gunakan sifat penurutmu dan aku yang otoriter.”


“Tertarik saja?” Loralei menaikkan sebelah alis.

__ADS_1


Agathias mengangguk. “Awalnya. Tapi, sekarang rasa lain sudah mulai menyelimuti hatiku, ada namamu di dalam sini.” Ia mengarahkan telapak Loralei untuk menyentuh dadanya.


__ADS_2