
Loralei mulai bosan bermain dengan ponsel. Pekerjaan juga tidak ada. Tapi ia enggan ditinggal di apartemen sendirian. Sekarang statusnya adalah sekretaris makan gaji buta.
Wanita itu meletakkan gadget yang sudah dipandangi terus selama satu setengah jam. Mengambil micellar water dan kapas yang selalu ada di dalam tasnya. Kemudian berdiri dan mendekati kursi kerja suami.
Agathias langsung merentangkan tangan saat dihampiri oleh istri tercinta. Sudah tahu apa yang akan dilakukan wanita itu selanjutnya. Loralei mendudukkan pantat di pangkuannya dengan posisi miring.
Si bos langsung mencium pipi ibu hamil itu. Tangan kiri dilingkarkan pada perut untuk memberikan usapan seperti biasa, sementara bagian kanan kembali mengoperasikan mouse.
Agathias senang kalau Loralei bermanja ditubuhnya. Bahkan setiap hari selalu seperti itu. Dia membiarkan sang istri melakukan apa pun yang diinginkan, asalkan senang.
Loralei meraih selembar kapas. Membuka tutup micellar water dan menuangkan cairan itu hingga membasahi kapas.
“Maaf, ya ... aku mengerjaimu terus,” ucap Loralei seraya menghapus make up yang ia buat di wajah Agathias.
“Santai, toh malamnya gantian kau yang aku kerjai.” Agathias menyeringai, lalu menggigit telinga Loralei yang terpampang nyata di depan mata.
Agathias memang selalu meminta ganti setelah didandani yang aneh-aneh. Mana mungkin suka rela dan secara cuma-cuma, apa lagi ada kesempatan.
“Ya ... tapi, kan, kau tidak pernah mempermalukan aku di depan umum.” Loralei kembali mengambil kapas dan membasahi dengan cairan yang sama. Dia membersihkan wajah Agathias untuk kedua kali supaya memastikan bersih. “Tapi kau tak pernah marah padaku.”
__ADS_1
“Untuk apa marah? Lagi pula bagus juga kau buat aku dengan penampilan yang aneh. Jadi, tidak perlu susah payah menyingkirkan wanita yang sering menatapku dengan sorot memuja.” Pria itu mendekatkan dagu ke pundak Loralei, menggesekkan bulu tipis yang ia punya supaya membuat sang wanita kegelian.
Loralei meletakkan kapas yang sudah kotor ke atas meja. Ia lalu mengalungkan tangan ke leher Agathias setelah wajah suaminya bersih. “Tapi, kau jadi bahan tertawaan orang-orang, terutama karyawanmu.”
“Memangnya kenapa? Baguslah, sesekali aku menghibur mereka, bukan menakuti terus. Kapan lagi bos yang dikenal galak bisa membuat orang lain tertawa? Apa lagi karyawan yang selalu bekerja dalam tekananku.” Memang lain pemikiran bos satu itu, dia tidak takut dipermalukan atau menganggap harga dirinya jatuh hanya karena berpenampilan aneh. Justru berpikir dengan sudut pandang berbeda.
Loralei kagum, sangat. Suaminya tidak pernah menyalahkan atau menganggap negatif semua yang ia lakukan. Dia meraih tengkuk Agathias, mendaratkan ciuman di bibir sang pria. “Terima kasih, ya, sudah memilihku menjadi istrimu. Aku bahagia menjadi bagian dalam hidupmu.” Tangannya mengusap rahang tegas kesukaannya.
Agathias hanya membalas dengan kecupan di rambut, tapi pandangan tetap di layar komputer.
“Hari ini terakhir aku memintamu melakukan hal yang aneh-aneh, serius,” tutur Loralei seraya melepas bando kelinci dari kepala Agathias.
“Yakin? Tidak mau lanjut sampai anak kita lahir?”
“Ada titipan untuk Nona Loralei,” ucap sekretaris Agathias yang baru.
Si bos menatap istrinya. “Beli apa?”
“Aku tidak beli, tapi sewa.” Loralei menunjukkan rentetan gigi, lalu turun dari pangkuan suaminya.
__ADS_1
Wanita itu lekas menerima hanger yang tertutup oleh kain hitam sebagai pembungkus pakaian yang ada di dalamnya. “Terima kasih.”
Sekretaris Agathias yang baru pun keluar. loralei kembali menghampiri suami seraya menarik ritsleting pembungkus. “Aku ingin melihatmu memakai ini.”
Agathias menatap pakaian berwarna hitam yang bentuknya aneh. Alisnya sampai naik sebelah. “Nanti aku pulang pakai itu? Sambil mengayuh becak?”
Loralei menggeleng. “Tidak, kau pakai di sini saja, aku hanya ingin memotretmu. Mau, ya? Janji, ini yang terakhir. Sebagai koleksi pribadi. Kau sudah punya banyak poseku dengan model kelinci, aku ingin kau menjadi model balon.”
Agathias langsung mengangguk. Ya ... mereka selalu melakukan take and give. Jadi, tidak pernah ada yang merasa dirugikan. Keduanya juga enjoy dengan pernikahan yang seperti itu, merasa lebih hidup dan berwarna. Apa lagi si bos biasanya sangat monoton, datar, begitu-begitu saja. Kini sudah tidak lagi.
“Mana.” Agathias berdiri dan mengambil alih pakaian aneh tersebut.
Pria itu melucuti jas, kemeja, dan celana di depan Loralei. Menyisakan celana pendek saja. Agathias lalu membungkus tubuh dengan kostum aneh yang entahlah berbentuk apa.
Loralei tersenyum ketika suaminya tenggelam dalam busana yang ia sewa. Lucu sekali. Wajah Agathias yang datar memakai kostum bagaikan balon. Dia lekas mengambil ponsel dan memotret.
“Kau senang?” tanya Agathias.
“Ya, wajahmu yang kaku, datar, memakai kostum menggelembung seperti itu, menggemaskan.”
__ADS_1
“Oke, berarti malam ini kau yang di atas dan bonusnya adalah memakai mulut juga.” Agathias tersenyum miring saat mendapati wajah Loralei melongo menatapnya. Istrinya paling jijik kalau dia meminta menggunakan mulut.