Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 48


__ADS_3

Kursi Loralei sengaja diputar saat mendengar pintu ruangan dibuka dari luar. Dua bola mata seketika membulat kala melihat suaminya masuk dengan napas sedikit terengah-engah. Memastikan stopwatch di layar ponsel, ternyata sungguh lima menit Agathias sampai, bahkan ada sisa beberapa detik.


“Kau berlari?” tanya Loralei.


Agathias mengangguk seraya kaki terayun semakin dekat. Berhenti di depan sang istri dan mengusap puncak kepala wanita berambut cokelat gelap. “Kenapa memintaku datang?”


Loralei menggigit bibir. Tidak mungkin aku mengatakan sedang mengujinya, bukan? Nanti dia marah. “Em ... sudah jam kerja. Aku hanya mengingatkan supaya tidak berkeliaran di luar seenaknya, sementara karyawanmu sedang menyelesaikan semua kepentingan perusahaan.”


Tangan Agathias kian mengendur, dan berakhir berhenti memberikan usapan. “Ku pikir kau merindukanku.” Mungkin ia terlalu percaya diri. Ternyata, membuat Loralei jatuh cinta tak semudah yang dibayangkan. Sosok penurut itu tidak mau mengikuti perintah jika ia titahkan untuk memberikan seluruh hati padanya.


Agathias memilih kembali duduk ke kursi kerja. Menatap sebentar sosok cantik yang belum bisa ditakhlukkan, barulah fokus pada layar komputer.

__ADS_1


Sementara Loralei, dia menopang dagu, dengan mata berusaha mengintip dari sela sekat yang memisahkan antara bos dan sekretaris. Kalau begini caranya, aku benar bisa jatuh cinta pada si bos.


Loralei masih tak menyangka saja, Agathias rela berlari demi mengikuti permintaan konyolnya.


...........


Satu minggu berlalu, Agathias masih tidak menjajah, menindas, atau mencabuli Loralei. Pria itu justru terkesan lebih lembut. Nampaknya, memang tidak main-main saat mengatakan ingin memiliki hati sang istri.


Selama itu pula Loralei memberikan permintaan yang aneh-aneh. Mulai berangkat ke kantor dengan bis, memasak setiap pagi untuk dirinya, memijat, dan masih banyak lagi. Bahkan, Agathias sungguh menggunakan pakaian serba merah selama satu hari penuh saat keisengan itu keluar dari bibirnya. Padahal, si bos sangat benci warna merah.


Loralei menghela napas ketika berada di ambang pintu kamar. Ia tengah menatap Agathias yang fokus menyelesaikan disertasi. “Sepertinya, aku tidak bisa menuruti larangan Annora.” Gumaman itu keluar begitu lirih.

__ADS_1


Berhenti menatap wajah fokus suami, Loralei masuk ke dalam kamar. Tujuannya langsung ke almari, mengambil papperbag berisi bunny girl costume.


“Selama ini, aku yang tidak tahu terima kasih. Agathias membayar seluruh tagihan pengobatan ibu, tapi tak pernah bibirku mengucap terima kasih, justru selalu berburuk sangka.”


Oke, Loralei mengeluarkan kostum itu. Dia sudah memutuskan untuk memakai malam ini juga. Agathias terlihat bersungguh-sungguh saat mengatakan ingin membuatnya jatuh cinta. “Dan ... kau berhasil. Sekarang aku memiliki perasaan pada suami sendiri.”


Pakaian seksi yang tidak menutupi area pantat secara penuh, juga bagian dada yang menjadi lebih menonjolkan belahan. Loralei berjalan keluar dengan kondisi seperti itu.


Meski tahu sang istri berjalan ke arah meja bar, tapi tidak membuat Agathias menatap ke arah sana. Fokusnya pada layar MacBook.


Merasa diabaikan, Loralei berhenti di belakang Agathias. Ia memeluk pria itu. Pastilah area dada jadi menempel pada punggung yang tidak tertutup kain karena suaminya sejak tadi bertelanjang dada.

__ADS_1


Agathias reflek mengusap tangan istrinya yang melingkar di leher. “Kenapa? Butuh sesuatu?”


Loralei menggeleng, lalu menempatkan kepala di pundak Agathias. “Suamiku sibuk sekali, sampai istrinya sejak tadi diabaikan. Aku cemburu dengan MacBookmu yang disentuh terus.” Suara itu berbisik sensual di telinga.


__ADS_2