Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 68


__ADS_3

Awalnya Loralei terbuai dengan penjelasan tentang Agathias yang menikahinya. Terdengar sangat manis di telinga. Ternyata si bos sudah tertarik sejak dahulu, walau diperlihatkan dengan cara yang menyebalkan demi mendapatkan perhatiannya. Ya ... untuk masalah satu itu ia sudah clear, paham, dan tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Toh hatinya juga sama, mulai terisi suaminya. Mungkin karena terbiasa juga selalu bersama, jadi membangkitkan perasaannya.


Namun, masih ada hal mengganjal lain. Alasan Agathias berada di rumah sakit menjaga sang mantan. Loralei langsung merubah wajah berserinya menjadi mendung kembali. Seharusnya kalau tidak memiliki rasa apa pun dengan masa lalu, tidak perlu menjaga atau menunjukkan rasa kepedulian. Atau kalau memang mantan sedang sakit, menjenguk dengan mengajak istri bisa, untuk apa justru sembunyi-sembunyi?


Loralei menarik tangan yang sejak tadi digenggam oleh suami. Membuat pria itu mengernyitkan kening kala menatap kembali, dan mendapati istri sudah cemberut.


“Kenapa? Apa kau tidak percaya dengan alasanku menikahimu?” tanya Agathias. Tangannya yang ada di perut tetap bersemanyam dan mengusap daerah itu. Tidak ditepis juga oleh Loralei karena merasakan nyaman.


Loralei menggeleng. “Kenapa kau ada di rumah sakit ini bersama Aretha?” tanyanya menggunakan nada sinis penuh sindiran.


Agathias merasakan ada kilatan kecemburuan dari mata Loralei. Dia senang kalau wanitanya menunjukkan rasa tidak suka ketika ia terlihat bersama lawan jenis selain istri sendiri. Tandanya Loralei menyukainya.


Tapi, Agathias sedang tak ingin membuat Loralei banyak pikiran. Sesuai saran dokter supaya membuat istrinya lebih enjoy dalam menjalani hari. Jadi, ia perlu meluruskan.


Agathias menggeser kursi hingga tubuhnya bisa lebih dekat dengan daerah kepala. Tangan kekar itu mengusap rambut yang lembut, perlahan turun menyingkirkan surai yang menutupi kening, lalu ke pipi. Lama jemari itu bergerak di sana. Tatapan keduanya juga bertemu begitu intens.


“Tadi aku ke apartemenmu, sudah dipencet bel berkali-kali tapi kau tidak membukakan dan pin juga diganti, jadi aku tak bisa langsung masuk,” ungkap Agathias.


“Aku sebal denganmu, jadi malas melihatmu.” Langsung ditanggapi oleh Loralei.

__ADS_1


Agathias justru terkekeh dan menoel hidung sang wanita. “Aku tahu. Berhubung aku ada ujian disertasi, jadi ku tinggalkan apartemenmu, rencananya setelah itu mau kembali lagi untuk membujukmu supaya mau berbicara dan mendengar penjelasanku.”


“Terus?”


“Aku pergi ke kampus, ujian, dan ....” Agathias sengaja menggantungkan cerita, memancing rasa penasaran sang wanita.


“Lulus?”


Dengan kepala mengangguk dan bibir tersenyum, Agathias membenarkan. “Jelas, bisa diejek kakekku kalau tidak lulus,” kelakarnya diiringi kepongahan yang tidak terlupakan.


Loralei mencebikkan bibir dan mencubit lengan suami. “Sombong,” cibirnya.


“Dih ... ceritamu belum tuntas, ya.”


Begitu gemas, Agathias menarik hidung istrinya. “Wanita itu selalu ingat dengan kesalahan pasangan, ya? Padahal sudah diputar-putar ke cerita lain, masih saja kembali ke awal bahasan.”


Bola mata Loralei memutar. “Sudahlah, tinggal cerita apa susahnya.”


Kembali menggenggam tangan Loralei, sengaja mengusapkan telapak wanita itu ke rahangnya yang berbulu tipis. “Saat aku hendak pulang dari kampus, tiba-tiba Aretha muncul di depan mobilku yang melaju. Aku terkejut dan sedikit menyenggol tubuhnya karena rem mendadak pun terlambat untuk langsung berhenti dalam sekejap. Jadi, ku bawa dia ke rumah sakit sebagai pertanggungjawaban atas lukanya.”

__ADS_1


“Terus, aku sempat mendengar dia mengatakan kalau hamil, anak siapa?” Mata Loralei memicing penuh ancaman. “Bukan milikmu, kan?”


Agathias terkekeh dengan tuduhan itu. “Dia masih berstatus istri orang, walau dalam proses perceraian.”


“Cih ... tahu sekali tentang kehidupan mantan,” cibir Loralei.


“Dia yang menceritakan, bukan aku yang mencari tahu.”


“Tetap saja.”


Agathias tiba-tiba mengecup bibir yang masih menggerutu. “Bukan anakku. Jadi, dia sengaja ingin menabrakkan tubuh ke mobilku karena mau menggugurkan kandungannya.”


“Orang gila.” Respon Loralei langsung terlontar begitu saja. Sampai kepala menggeleng.


“Aku menunggu dia di ruang rawat karena suaminya sedang perjalanan menuju ke rumah sakit. Berhubung aku menabraknya, jadi ku tunda sebentar untuk menjelaskan masalah kita. Tapi, ternyata yang dia lakukan hanyalah akal-akalan untuk membuat kita salah paham.” Agathias mengunci sorot mata Loralei. “Ceritanya seperti itu, kau percaya, kan?”


“Ya ... aku lebih percaya denganmu daripada si wanita licik perebut suami orang itu.”


“Terima kasih karena kau mempercayaiku.” Bertubi-tubi Agathias mengecup permukaan tangan Loralei. “Maaf untuk masalah yang terjadi hari ini, sampai membuatmu banyak pikiran.” Ia lalu melabuhkan ciuman di bibir, begitu dalam dan lembut.

__ADS_1


Dalam waktu tidak ada dua puluh empat jam, Agathias dan Loralei berdamai. Tanpa ada emosi yang menggebu. Semua sirna begitu saja karena yang dibutuhkan hanyalah saling terbuka.


__ADS_2