
Mana bisa Loralei diam saja di dalam mansion. Sementara suami sedang diselimuti amarah dan pergi beberapa saat lalu. Tahu kalau Agathias dan Annora memang saudara kembar yang sering berdebat. Tapi, tidak mungkin sebagai istri tutup mulut tanpa melakukan apa pun.
Loralei pun keluar dari apartemen. Mau menyusul ke basement tapi sudah pasti mobil suami telah pergi. Jadilah ia berjalan sembari menelepon ipar.
“Nora?” sapa Loralei ketika ia menanti pintu lift terbuka dan panggilan sudah diangkat oleh iparnya.
“Ya, kenapa Lo?”
“Kau di mana?”
“Mansion, kenapa?”
“Agathias bertanya keberadaanmu juga?”
“Iya, barusan. Tapi langsung dimatikan saat kuberi tahu.”
“Oh, oke. Aku segera ke sana juga.”
__ADS_1
Annora sampai dibuat bingung dengan pasangan itu. Suami istri, tinggal dan bekerja juga sama-sama, tapi keduanya harus menanyakan keberadaannya secara terpisah. Sudahlah, dia tidak memiliki firasat apa pun.
Loralei pergi ke mansion milik orang tua Agathias dengan menaiki taksi. Sementara si bos yang diselimuti amarah itu sudah sampai di tempat tujuan.
“Di mana Annora?!” tanya Agathias dengan suara lantang, menggelegar, dan tentunya intonasi penuh kemarahan.
“Ruang keluarga, Tuan,” jawab salah satu pelayan yang tadi ditanya.
Kaki Agathias langsung terayun ke sana. Dia sudah menyiapkan rentetan omelan untuk kembarannya. Ternyata Annora tidak sendiri, tengah duduk bersama Mommy dan Daddy mereka. Tapi, hal itu tidak menyurutkan niat untuk memarahi wanita yang satu rahim dengannya.
“Aga, minggir!” usir Annora dengan tangan mengibas. “Kau mengganggu acara santai kami.”
Tak diindahkan, Agathias justru membanting tablet obat yang tadi ditemukan dalam tempat sampah. “Apa maksudmu memberi istriku itu, ha? Ada masalah apa kau denganku? Tidak suka memiliki keponakan, iya?”
Annora berhenti bersantai, dia meraih barang yang dilempar ke atas meja. Oh ... obat pencegah hamil masalahnya. Namanya bukan Annora Gemala Dominique kalau tidak membalas kembarannya dengan emosi juga.
Tubuh Annora berdiri. Walau tersekat meja, tapi tidak menyurutkan dua pasang mata yang saling mendelik dan tidak ada satu pun mau mengalah. “Aku hanya menyelamatkan sesama wanita dari permainan seorang bos yang tersindir oleh omongan mantannya.”
__ADS_1
Melihat perdebat dua anak itu, membuat Danesh dan Felly bergeleng kepala. Dari kecil sampai besar tidak pernah ada perubahan, ada saja yang membuat anak kembar itu adu mulut.
Danesh memijat pelipis. “Mom ... anak kita kenapa emosian semua.”
Felly juga menggeleng, tidak tahu. Padahal ia dan suami tidak ada yang pemarah akut. Sebagai orang tua, dia harus menengahi. “Kalian ada masalah apa? Bicarakan baik-baik. Duduk dan diskusikan secara dingin.” Lembutnya suara itu saat menasehati.
Tapi, percuma saja, kalau si kembar sudah menggebu ingin adu mulut, tidak ada yang bisa menghentikan sampai salah satu mengalah. “Dia terlalu banyak ikut campur urusanku.” Jarinya menunjuk wajah Annora.
Annora berkacak pinggang, mendongak sedikit karena Agathias lebih tinggi. “Seandainya kau menikahi Loralei atas dasar cinta, pasti aku tak akan ikut campur. Tapi, alasanmu menikahi wanita itu sangat tak menyenangkan.”
“Benar apa yang dikatakan Annora?” tanya Danesh.
“Tidak, dia saja yang sok tahu. Yang paham dangan perasaanku adalah diriku sendiri, mengerti?!” Bengis sekali Agathias saat bertengkar.
Biasanya Agathias yang selalu mengalah. Tapi, kini pria itu tidak mau. Dia tetap perlu mengeluarkan amarah.
“Lantas, apa alasanmu? Cinta? Suka? Tertarik? Atau hanya menginginkan tubuhnya?” Annora melipat dua tangan di dada, tidak mau kalah angkuh.
__ADS_1