Married To Fierce Boss

Married To Fierce Boss
Part 80


__ADS_3

Bagaimana Loralei bisa tak sedih berkepanjangan. Baru melihat raga ibunya yang tak berdaya dan mengucapkan kalimat yang terdengar sangat menyayat hati pun berhasil membuatnya berlinang air mata. Bahkan masker yang sejak awal menutup wajah juga sudah basah akibat tetesan yang tak bisa dibendung.


Bukan sekedar itu, rasa sakit disekujur tubuh akibat kontraksi juga dikesampingkan karena tak ingin melewatkan sisa waktu yang mungkin sebentar lagi tak akan bisa berjumpa. Loralei ingin berpikir positif kalau ibunya pasti akan sembuh. Tapi, melihat bagaimana cara bernapas yang mulai tersengal, grafik detak jantung juga perlahan menurun, rasanya dia hanya mau ada di samping wanita yang sudah melahirkannya.


Awalnya Loralei pikir akan menyakitkan ketika menyaksikan orang tua menghembuskan napas terakhir di depan mata. Tapi, setelah dipikir-pikir, jauh lebih menyesal kalau ia tak ada di sisa umur yang bisa saja beberapa hari, jam, menit, atau bahkan detik.


Loralei tidak mampu menanggapi apa pun yang ibunya ucapkan. Tenggorokan yang tercekat seakan menahannya untuk berbicara. Tapi tak ada untaian kata yang lebih mewakili kesedihannya dibanding tetesan air mata.

__ADS_1


“Aga.” Suara lirih Linda memanggil menantunya. Dengan bibir mengulas senyum tipis dan mata sayu menatap sosok pria jangkung yang selalu setia berdiri di samping anaknya. Tangannya melambai, memberikan pertanda supaya mendekat.


“Ya?” Agathias mendekat. Dia ikut membungkuk karena suara mertuanya semakin sulit didengar dalam jarak jauh. Tangannya sembari merangkul Loralei dan memberikan usapan kekuatan.


“Jaga Loralei, ya? Cintai, kasihi, dan sayangi dia sampai kapan pun.” Ada buliran menetes dari ekor mata Linda. Dalam kondisi kritis yang bahkan untuk bernapas pun susah, dia berusaha menitipkan anak satu-satunya untuk dipercayakan pada orang lain.


Ada senyum lega di bibir Linda. “Aku senang karena pria yang menjadi suami Loralei adalah sosok yang baik. Jadi, tak ada beban rasa takut seandainya aku meninggalkannya di dunia untuk melanjutkan hidup sendiri.”

__ADS_1


Loralei justru semakin terisak mendengar setiap untaian kata yang terdengar seperti perpisahan. Tahu kalau memang tak ada harapan untuk hidup sehat seperti sedia kala. Tapi, dia tak pernah menyangka akan sesakit ini kehilangan untuk kedua kalinya. Meski berusaha menerima dengan lapang dada, tapi tetap saja sulit kalau ia hanya diam tanpa menunjukkan kesedihan melalui air mata.


“Aku bukan orang yang baik seratus persen. Tapi, akan berusaha untuk menjadi pelindung dan membahagiakan putrimu.” Dia mulai menggenggam tangan mertuanya yang tak membalas genggaman. “Tidak perlu takut putrimu akan sendiri atau kesepian. Aku pastikan dia bahagia bersamaku. Jadi, hilangkan semua beban, dan pergilah dengan damai seandainya tak lagi kuat menahan sakit.” Matanya berkaca-kaca saat mengatakan itu. Enggan untuk diteteskan karena ia harus kuat supaya istrinya tetap ada yang memberikan topangan bahu untuk bersandar.


Bagi Agathias, dibandingkan melihat mertuanya terus merasakan sakit dan berusaha melawan juga menyembunyikan semuanya, lebih baik memang kehilangan nyawa. Tapi, mungkin berbeda pemikiran dengan Loralei yang ingin tetap bisa melihat raga walau harus berjuang melewati banyaknya proses pengobatan.


Linda mengangguk. Dia beralih menatap Loralei. Berusaha mengangkat tangan untuk mengusap kepala yang sejak tadi menunduk di sampingnya. “Mungkin raga dan jiwaku tak bisa selamanya di dunia. Tapi, cintaku tak akan pernah hilang untuk putriku. Sudah lama aku ingin bertemu dengan daddymu, mungkin memang saatnya sudah dekat untuk kami bertemu.”

__ADS_1


Loralei meringis, bukan sekedar sakit karena mendengar ucapan ibunya. Tapi perutnya juga semakin tidak keruan. Ia merasakan ada yang mulai merembes keluar dari jalan lahir.


__ADS_2