
Tubuh Agathias berangsur berdiri tanpa melepaskan ciuman. Walau harus sedikit menunduk dan sang wanita mendongak, kakinya terus mendorong maju hingga Loralei terpentok di dinding.
Tangan kekar pria itu sudah tak bisa diam. Menggerayang ke mana-mana, selain pantat, area dada pun menjadi sasaran juga.
Bibir Agathias berhenti menarik lidah. Beralih memberi sensasi geli di bagian leher, hingga mendengar suara desahaan lepas dari mulut Loralei.
Agathias senang sekali menghadapi perubahan sang istri yang mulai berani meminta penyatuan padanya. Akhirnya, dia berhasil membuat Loralei luluh juga, tanpa perlu dipaksa lagi, wanita itu menyerahkan diri.
Kepala Agathias berhenti tepat di telinga istri, lalu membisikkan sesuatu. “Gaya kelinci haus belaian, akan segera menyenangkanmu, Sayang.”
__ADS_1
Selepas itu, tangan Agathias berhenti di punggung Loralei, menarik ritsleting ke bawah. Jadilah kostum kelinci seksi begitu mudah terlepas, dan menampakkan tubuh molek di hadapannya.
Masih sempat Agathias mengambil jarak untuk memandangi dari atas sampai bawah. “You look so beautiful, Babe.” Mengatakan itu sembari menurunkan kain yang menutupi area pinggul ke bawah, dan ia menjadi sama polos. Melangkah ke depan, kembali mendekat. Tapi, langsung menggendong Loralei di depan. “I like your body.”
Telinga Loralei sudah tuli, tak terlalu fokus dengan seluruh kalimat yang diucapkan. Hanya mendengar bagian ‘i like you’ saja. Dia langsung senang, tanda pria itu menyukainya. Jadi, tidak perlu risau dengan peringatan Annora. Sebab, Agathias sudah menyatakan perasaan. Padahal, ada kata ‘body’ yang belum masuk ke gendang telinga karena terlalu bergairah.
Wanita itu sudah menyerang bibir, kedua tangan melingkar di leher. Sengaja meliak-liukkan tubuh saat merasakan ada desakan dari bawah yang terasa nikmat.
Agathias berusaha mencoba menghentak dengan cara berdiri menggendong sang istri. Tapi, ternyata sulit dan tidak nyaman. Membuatnya justru kurang enjoy dengan penyatuan. Jadilah ia membawa Loralei menuju ranjang.
__ADS_1
Merebahkan wanitanya, Agathias langsung menindih tanpa basa-basi. Masih terus melakukan segala serangan. Bibir menikmati setiap sesap di bagian dada yang sudah menonjol dan menantang. Sementara tangan mengusap bagian utama yang paling sensitif, sampai merasakan ada basah mulai banyak keluar.
Tanpa banyak bicara, serangan di area inti pun dilakukan juga. Agathias memasukkan miliknya dengan begitu mudah, tanpa hambatan seperti saat pertama mereka bercumbu. Walau tetap saja Loralei mencakar punggung ketika ditusuk.
Pria itu menunjukkan pesona beserta keahlian yang luar biasa menyenangkan. Buktinya, Loralei sampai dibuat memejamkan mata disetiap hentakannya. Apa lagi bibir yang mengeluarkan suara erotis itu semakin membuktikan kalau mereka sama-sama tengah terbang ke angkasa, menuju planet penuh gelora panas yang membara.
Agathias lebih banyak mengambil peran. Dia sedang memenuhi permintaan sang istri yang ingin dibelai. Terus menggerakkan ke atas dan bawah. Mulai ritme pelan hingga cepat. Dan ... setelah lima belas menit, ledakan pun keluar juga.
Sengaja semakin mendalamkan senjata ledakan, membiarkan cairan itu terbuang bebas mencari inang. Untunglah Loralei sedang sangat menginginkan penyatuan. Jadi, tidak terlalu mempertanyakan pengaman.
__ADS_1
Agathias ambruk di samping sang istri setelah melabuhkan kecupan di kening. Sekarang ia terkekeh saat menyadari ada sesuatu di kepala Loralei. “Ternyata baru saja aku bercinta dengan kelinci sungguhan,” selorohnya sembari melepas bando berbentuk telinga panjang.
Namun, Loralei tidak peduli, yang penting sudah dicabuli oleh suami lagi. Lebih baik memeluk tubuh kekar yang masih penuh peluh.