
Tidak terasa dua bulan sudah berlalu. Pernikahan Loralei dan Agathias juga berjalan dengan baik, tidak ada lagi salah paham atau perseteruan yang mengguncang. Mungkin beberapa kali sedikit berbeda pendapat karena hal-hal kecil, misal si bos yang minta istri untuk berhenti bekerja tapi ditolak. Tapi tetap berakhir sang pria yang memilih untuk mengalah.
Mereka juga sering datang menjenguk orang tua Loralei, bahkan setiap pulang kerja selalu disempatkan. Sekaligus melihat perkembangan kesehatan. Walaupun stuck tidak ada perubahan.
Akhir-akhir ini Loralei lebih sering memasak dibandingkan makan roti panggang seperti kebiasaannya. Lihat saja pagi ini, dia sudah berkutat di dapur setelah mandi.
Sedang asyik berkutat dengan pasta yang tengah dimasak, tiba-tiba Loralei merasakan ada sepasang tangan kekar yang memeluk dari belakang. Dengan mencium aroma tubuh pun langsung tahu kalau itu Agathias.
“Sudah bosan sarapan roti panggang terus?” bisik Agathias. Pria itu sengaja menyandarkan dagu di pundak sang wanita dan tangan pasti mengusap perut. Selama menjadi suami Loralei, setiap hari selalu diberi roti, katanya simple dan cepat matang. Untunglah ia bukan orang yang pemilih makanan, jadi apa pun yang dibuatkan akan dilahap tanpa banyak protes.
“Ingin spaghetti, tumben sekali. Biasanya aku malas kalau pagi-pagi harus dirumitkan dengan urusan dapur,” jelas Loralei. Dia membiarkan sang pria terus seperti anak monyet yang bergelayutan pada induk. Sudah biasa. Ternyata si bos ada manja-manjanya juga kalau sedang bersama dengannya. Tidak lagi otoriter dan galak. Mungkin karena dua puluh empat jam selalu bersama.
__ADS_1
“Aku saja yang ambilkan piring.” Agathias langsung melepaskan rengkuhan saat Loralei mematikan kompor. Dia bergerak menuju kabinet yang ada di bawah, dan mengambil dua alat makan. Memberikan itu pada istri.
Agathias membiarkan sang wanita bergerak leluasa menyiapkan sarapan, sementara dirinya mengambil vitamin di kabinet atas yang paling ujung.
“Ayo sarapan, sudah siap,” ajak Loralei. Wanita itu duduk di tempatnya.
Agathias hanya mengangguk. Menghampiri istri tercinta dan tiba-tiba melabuhkan kecupan sebelum akhirnya duduk di kursi yang ada di samping Loralei. Sengaja, supaya bisa sembari mengusap perut.
Loralei masih tidak paham kenapa suaminya selalu memberikan vitamin setiap hari. “Lagi?” Keningnya mengernyit. Sementara Agathias hanya menjawab berupa anggukan. “Akibat aku minum itu, napsu makan naik drastis.”
“Memang kenapa? Bagus jika kau banyak makan.” Agathias menjawab dengan santai seraya mengunyah makanan buatan sang istri. Ya ... walaupun kali ini terasa asin karena terlalu banyak keju. Tapi tetap dinikmati karena ia maklum, Loralei sedang senang sekali dengan keju, bahkan setiap hari sering nyemil itu.
__ADS_1
Berbeda dengan Loralei yang mencebik. “Kau sengaja membuatku gendut?” Dia mengeratkan baju hingga menunjukkan perut yang mulai tak rata. “Lihat, sekarang aku jadi buncit.”
“Memang kenapa kalau gendut? Toh kau sudah memiliki suami juga. Aku tidak masalah dengan postur tubuhmu yang mulai bertambah besar sedikit demi sedikit.” Agathias justru mengusap perut Loralei. “Hasil karyaku ini.”
“Iya, setiap hari aku dicekoki vitamin penambah napsu makan. Jadilah bengkak.” Loralei yang sudah menandaskan makannya pun meraih gelas berisi air mineral, meneguk cairan itu. “Bisa tidak kalau hari ini aku libur minum vitamin? Rasanya curang kalau hanya aku yang bertambah napsu makannya, sementara kau tidak.”
Agathias menggelengkan kepala. Menelengkan kepala hingga ia bisa menyaksikan wajah cemberut sang istri yang nampak cantik sekali. “Tidak boleh, harus setiap hari dikonsumsi supaya kau tak dilirik pria lain kalau perutmu semakin ku buat buncit.” Ia mengambil vitamin dan diletakkan ke telapak Loralei supaya lekas diminum.
Masih sempat Loralei mencubit lengan Agathias walau susah karena terlalu banyak otot dibanding lemak. “Curang, aku yang kau buat gendut supaya tidak dilirik pria lain. Sementara kau tetap saja bertubuh kekar, seksi, mempesona. Sengaja, ya? Supaya dilirik wanita di luar sana?”
Telapak Agathias mengacak-acak rambut Loralei gemas. “Mau banyak wanita yang melirik pun aku tidak akan memperdulikan mereka karena di mataku hanya terisi satu orang.” Dia kian mendekatkan wajah saat sang istri berhasil meminum vitamin. “Kaulah pusat perhatianku.” Lalu melabuhkan kecupan yang terasa begitu manis.
__ADS_1