
Loralei duduk dengan perasaan gelisah. Baru juga tiga menit sejak suaminya pergi dari ruangan, tapi ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Membuatnya mau melanjutkan bekerja pun jadi tak bisa. Pikirannya mendadak melayang-layang, berceceran semua, termasuk hatinya yang resah.
Melepaskan tangan dari keyboard, Loralei menyandarkan tubuh. “Kira-kira, dia pergi ke mana, ya?” Loralei bergumam dipenuhi rasa penasaran.
Wanita itu sampai berdiri dan berjalan menuju jendela kaca untuk mengintip ke arah luar. Siapa tahu terlihat dari lantai atas.
Tapi, justru decakan yang keluar dari bibir. “Mana aku tahu mana Agathias, semua terlihat kecil dari sini,” gerutunya.
Loralei pun melihat komputer milik si bos, ternyata sudah dimatikan. Jadilah ia kembali ke meja sendiri.
Ponsel di depan mata dengan layar sudah menunjukkan kontak Agathias. Tapi, Loralei bimbang, antara menghubungi suaminya atau tidak. “Haruskah ku tanya ke mana dia pergi?” Merasa tak biasa ditinggalkan sendirian karena biasanya selalu diajak kalau si bos pergi kemanapun.
Kepala Loralei bergeleng dan menekan tombol power hingga layar kembali gelap. “Ingat kata Annora, jangan jatuh cinta sebelum Agathias yang mengungkapkan perasaan.” Jadilah ia meletakkan benda itu ke atas meja.
Helaan napas kasar keluar dari bibir Loralei, berusaha menendang semua ganjalan di dada yang membuatnya menjadi overthinking tentang suami sendiri. Ia meletakkan sikut ke atas meja, lalu menopang dagu menggunakan tangan.
__ADS_1
“Tapi, pria itu berubah karena ingin membuatku jatuh cinta. Bukankah sama saja dia sedang mengatakan kalau memiliki perasaan denganku?” Masih saja Loralei belum selesai dengan rumitnya pemikiran sendiri tentang si bos yang terlalu tak jelas, tapi mampu membuatnya menjadi tak karuan seperti sekarang.
Oke, setelah berperang dengan pikiran sendiri. Akhirnya Loralei sudah memutuskan untuk mengirimkan pesan kalau mau pulang bersama. Suaminya juga cepat sekali membalas dengan menyanggupi.
Loralei mengulas senyum seolah baru saja mendapatkan ide. “Bagaimana kalau aku telepon dia dan minta untuk segera kembali? Apakah akan menurut sesuai ucapannya? Kalau iya, berarti Agathias tidak bohong dengan perkataan tadi.” Biasanya si bos yang suka seenaknya, kali ini dia ingin mencoba juga.
Anggap saja ini adalah ujian dari Loralei sebagai pembuktian dan keputusan selanjutnya untuk menentukan cara menghadapi suami. Tangannya sudah menempelkan ponsel ke telinga dan menanti panggilan diangkat.
Cukup tiga kali suara sambungan terdengar, Agathias sudah menyahut. Cepat sekali respon pria itu. “Halo?”
“Iya?”
“Em ... jika aku memintamu untuk sampai ke ruangan dalam waktu lima menit, apakah kau akan melakukan?”
“Kau mau aku di sana, sekarang?”
__ADS_1
“Ya. Tapi, kalau kau sedang sibuk, tidak perlu dipaksakan.” Aku hanya sedang mengujimu.
“Oke, lima menit aku sampai.”
Loralei sampai membulatkan mata. Aku tak salah dengar, kan? Dia menyanggupi? “Serius?”
“Ya, ada lagi yang kau inginkan?”
“Oh, tidak. Cukup itu saja.” Loralei pun menekan tombol merah dan meletakkan ponsel lagi. “Sial, dadaku berdebar lagi. Padahal, dia hanya menyanggupi permintaan konyolku, dan belum tentu sungguh lima menit sampai juga.”
Sementara itu, Agathias memasukkan ponsel ke dalam saku setelah panggilan dari istrinya berakhir. “Sorry, Aretha, aku harus kembali ke kantor.” Dia lekas berdiri.
“Tunggu, Ga, bahkan aku baru sampai dan belum sempat berbincang penting denganmu,” cegah Aretha.
Tapi, Agathias tidak peduli. Dia mengabaikan itu dan berjalan cepat keluar dari coffee shop depan perusahaannya.
__ADS_1
Sembari melihat jam di pergelangan tangan. Waktu sudah berkurang satu menit, jadilah Agathias berlari supaya bisa tepat sesuai durasi yang diinginkan istrinya.