
Loralei pikir, Agathias akan menelanjanginya. Tapi, ternyata pria itu justru tidur dan menempatkan wajah di dadanya. Tidak ada suara sedikit pun yang dikeluarkan, hanya memeluk dan memintanya untuk balas melingkarkan tangan juga.
“Sebentar, aku janji tak akan melakukan apa pun padamu.” Agathias berbicara dengan hembusan napas hangat keluar dari bibir hingga menyapu kulit sang istri di depannya persis.
“Iya.” Loralei mengusap rambut Agathias. Kalau tidak usil, dia bisa memperlakukan pria itu dengan lembut juga. Membiarkan mencari ketenangan dalam dirinya.
Agathias selalu suka dengan salah satu bagian tubuh Loralei yang kini sedang digunakan sebagai tempat bersembunyi wajahnya. Tahu saja lokasi yang empuk. Amarahnya selalu berhasil reda setiap kali melihat sisi istrinya yang menonjol, apa lagi kalau dilakukan dengan cara sekarang, cepat redanya.
Tapi ... namanya juga Agathias, mana tahan dia kalau tak mengusili Loralei. Bibirnya menyeringai saat merasakan ada detakan semakin cepat. Pasti dia sedang memikirkan hal yang tidak-tidak.
Supaya semakin berdebar, Agathias pun mendaratkan bibir untuk meninggalkan sesap di dada, kemudian menggerakkan lidah juga di sana. Dijamin, pasti Loralei kegelian.
“Kenapa tidak bisa diam, Sayang?” tanya Agathias ketika merasakan kalau wanita dalam rengkuhannya menggeliat.
__ADS_1
“Geli, jangan diulangi lagi!” peringat Loralei seraya menarik telinga Agathias. Hanya dia yang berani melakukan seperti itu pada si bos.
“Apa? Sepertinya, aku tak melakukan apa pun, hanya menumpang wajah di ....” Agathias menaikkan kepala sejenak supaya bisa berbisik. “Belahan dadamu, nyaman.” Dan ia kembali ke posisi semula.
Loralei memukul punggung suaminya. “Cabul!”
Agathias terkekeh senang. Dia selalu merasa lebih hidup setiap kali di dekat Loralei karena wanita itu sangat ekspresif.
“Bagaimana caranya untuk membuatmu jatuh cinta padaku?” tanya Agathias. Suaranya sudah pasti menggema di telinga sendiri.
Agathias berdecak kecal, malas sekali mengulangi pertanyaan untuk kedua kali. “Besok ku bawa kau ke THT supaya langsung bisa mendengar.”
...........
__ADS_1
Sudah dua minggu lebih Loralei tidak mengunjungi ibunya di rumah sakit. Sejak menikah, ia terlalu disibukkan oleh Agathias. Kalender di ponselnya sudah mengingatkan bahwa hari ini adalah jatuh tempo pembayaran bulanan.
“Aga?” panggil Loralei sembari melirik wajah suaminya yang sedang fokus bekerja dari rumah.
Sekarang mereka sudah pindah tinggal di apartemen pria itu. Daripada Agathias melakukan hal nekat, atau membeli satu-satunya aset miliknya, lebih baik mengalah saja. Dan hari ini, meski weekdays, tapi si bos maunya work from apartment. Suka-suka pemilik perusahaan sajalah, Loralei menurut saja.
“Panggil Sayang, baru aku mau bicara denganmu.” Agathias tidak menatap wajah Loralei sedikit pun. Dia tetap fokus duduk di depan MacBook, bukan mengerjakan urusan kantor, tapi menyelesaikan disertasi yang perlu revisi.
Loralei mencebikkan bibir. Ada saja modus pria itu. “Sayang?” Sedikit geli ketika mengucapkan panggilan tersebut. Mungkin karena tidak terbiasa.
Nah, barulah Agathias mau berhenti fokus pada layar, dan memilih mengisi kornea dengan sosok istrinya. “Ya? Kau butuh bantuanku?”
Loralei menggelengkan kepala. Dia berangsur berdiri untuk pindah duduk dari sofa ke depan suaminya. “Boleh aku keluar sebentar?”
__ADS_1
“Ke?”
“Jalan-jalan saja.” Loralei belum mau menceritakan tentang ibunya yang sakit dan ia tinggalkan di rumah sakit. Selain tidak mau dikasihani, juga hubungan mereka tak sedekat itu sampai harus tahu mendalam satu sama lain. “Tapi, aku mau sendiri, kau tidak perlu ikut, ya?” mohonnya kemudian, karena kemanapun ia pergi, pasti Agathias selalu tidak mau ditinggalkan.