
Loralei baru bangun saat waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Dia segera membasuh wajah untuk menghilangkan kantuk. Sembari menatap pantulan diri di cermin, ia bergumam. “Tumben sekali aku ketiduran saat kerja. Tidak biasanya seperti ini, lama pula.”
Lekas mengeringkan wajah menggunakan tisu, Loralei menyusul bosnya ke ruang meeting karena ingat kalau ada agenda di sana. Dalam sana kedap suara. Jadi, ia tak tahu sudah selesai atau belum rapatnya.
Namun, tetap saja Loralei harus masuk karena memang seharusnya ada di dalam juga. Dia langsung mendorong pintu. “Maaf terlambat—”
Suara Loralei menggantung begitu saja ketika menyaksikan suaminya berhadapan dengan wanita lain. Iya, tahu, mantan kekasih Agathias. Tapi, tetap saja ia tidak suka melihat pemandangan di depan mata.
“Oh, sudah selesai, ya?” tanya Loralei dengan wajah menyengir ketika kaki terayun menghampiri bos sekaligus suaminya.
Loralei berdiri di samping Agathias. Langsung merasakan ada tangan kekar yang merengkuh pinggulnya.
“Baru saja berakhir, dan aku hendak kembali ke ruangan. Tapi, ada sedikit gangguan,” jelas Agathias seraya mengusap puncak kepala istrinya. Memang sengaja menunjukkan kemesraan di depan mantan, supaya sadar diri. Sekaligus memperlihatkan kalau kini sudah bahagia bersama Loralei. Tapi, matanya menatap ke arah wanita di samping terus.
Hanya Loralei yang menatap mantan suaminya dengan alis terangkat sebelah. “Wanita ini yang kau maksud gangguan?”
__ADS_1
“Iya, siapa lagi.” Agathias kian mengeratkan rengkuhan tangan di pinggul istri. “Ayo, kita makan siang. Kau pasti lapar.” Dia mengabaikan Aretha. Bahkan tak peduli dengan reaksi wajah wanita itu yang dongkol.
Loralei menurut, mengikuti langkah kaki Agathias yang terus membawanya keluar. Saat sudah satu langkah dari pintu, ia menengok ke belakang. “Mata mantanmu seperti mau lepas, melotot ke arahku terus.”
“Abaikan saja, anggap dia tak ada.” Tangan Agathias menggerakkan kepala Loralei supaya kembali fokus ke depan.
Sementara itu, Aretha kesal sekali melihat mantannya begitu terang-terangan bermesraan di depan mata. Tangan mengepal kuat, rahang juga mengeras karena gigi saling mengerat. Terakhir, kaki menghentak kesal. “Sekretaris sialan! Merebut pria yang seharusnya menjadi milikku!”
Empat perwakilan dari perusahaan lain sampai berdecak dengan kepala menggeleng. “Kasihan ... diabaikan.” Mereka terkikih seraya satu persatu meninggalkan ruang rapat.
...........
Setelah makan siang, Agathias dan Loralei kembali ke ruang kerja. Keduanya berada di kursi masing-masing dengan kesibukan yang berbeda.
Kalau Loralei tengah mengecek jadwal si bos untuk hari ini. “Aga.” Kini ia memanggil lebih santai ketika berdua.
__ADS_1
“Ya, Sayang?” Agathias langsung menghentikan aktivitas, demi berbicara dengan Loralei dan menatap wajah istrinya.
“Bos perusahaan Okrona menelepon. Dia meminta bertemu malam ini di club malam yang biasanya, bisa?” Loralei masih menutup pegangan telepon nirkabel uang terhubung oleh seseorang. “Kalau dari jadwalmu, kosong.”
Agathias nampak berpikir. Orang yang dimaksud merupakan rekan bisnis. Tapi, ia tidak cocok dengan tempatnya. “Pindah ke restoran saja, Blooms. Kalau dia setuju, maka aku mau.”
“Oke, aku tanyakan dulu.” Loralei kembali berkomunikasi melalui telepon nirkabel. Baru ditutup setelah panggilan berakhir.
“Dia mau, aku buat reservasi di private room, ya?” ucap Loralei. Dijawab anggukan oleh suaminya.
...........
Tidak ada waktu untuk pulang ke apartemen terlebih dahulu, Agathias dan Loralei langsung berangkat ke restoran Blooms. Mereka berjalan saling menggandeng seolah tidak mau kehilangan satu sama lain.
Agathias selalu lurus ke depan, sementara Loralei sembari menatap sekitar. Kening wanita itu mengernyit saat melihat seseorang.
__ADS_1
“Kenapa mantanmu ada di restoran ini juga?” gumam Loralei. Dia bertambah bingung saat orang yang dimaksud justru menyunggingkan senyum sinis pertanda tak baik.