Married To My Childhood Friend

Married To My Childhood Friend
Eps.12 kumpulan berandalan


__ADS_3

Kembali dengan malam yang serupa, pikiran yang banyak memikirkan hal yang sensitif untuk aku yang berkepribadian begitu, sekarang soal teman, bagaimana aku menyelesaikannya? Bagiamana aku akan berkembang? Dan bagaimana bisa Hanian, semuanya runyam dikepala, tidak ada penyelesaian dan tidak ada keinginan untuk menyelesaikan, karena aku hanya dapat membiarkan semuanya runyam dikepala, hanya mengingat lalu menerima apa terjadi padaku, tentu saja aku memang merasa tidak nyaman, aku melihat handphoneku.


"Mah apa kau tidak merindukanku?" dia sama sekali tidak meneleponku, lalu Hanian.


'Hey kau sudah tidur?' tanyanya dalam chat


'Sudah'


'Haha bagaimana bisa kau tidur sambil main ponsel'


'Bisa karena aku seorang genius' mari kita lupakan apa yang ada di kepala, aku hanya ingin fokus padanya saja, meskipun ternyata masih banyak di pikiran, yeah coba ku ingat, hubungan aku dan temanku buruk itu salahku, Hanian sekarang berubah, dan yang lainnya adalah masalah yang tidak pernah ada penyelesaian, dan seburuk apapun ini aku hanya harus bertahan, seperti apa yang aku lakukan selama ini.


'Good night'


"Good night Hanian, aku tidak tahu harus bagaimana lagi, jadi bisakah seseorang memberitahuku?" tapi aku bukanlah orang yang seterbuka itu, ada banyak tapi yang dapat menyangkal, juga banyak tapi yang memprotes.


...***...


Yeah yeah, hari yang ingin cepat ku selesaikan, semoga ini cepat selesai. Jika aku memikirkan pagi, pasti akan cukup lama kembali ke malam, dimana aku bisa sendirian, merenung dan memperbaiki pikiran, juga terpenjara dari pertanyaan yang tidak ada jawaban. Aku duduk ke bangku lalu membaca buku, seperti yang selama ini aku tekuni.


"Dia sendirian lagi,"


"Yeah biarkan saja dia"


"Tapi,"


"Dia tidak menghargai pertemanan,"


"Tapi Jey, ingat kah dulu kita sepertinya?"


"Kenapa membahas itu?"


"Sepertinya dia juga punya masalah yang sama" blablabla tidak begitu jelas karena aku mulai fokus pada bukuku


"Lilian"


"Ya?"


"Oh, bisakah kau berhenti membaca dulu?"


"Ya?"


"Kau mendengarkanku?"


"Hmm ya ya,"


"Hey" dia mengambil bukuku


"Oh?" Dion berada tepat di depanku


"Hay" sapanya tersenyum


"Sekarang ada apa?"


"Bisakah kita membicarakan tugas kita setelah pulang?" Kimia ya? Hmm


"Baiklah" tugas itu dikumpulkan Senin depan dan sekarang hari rabu, masih banyak waktu, tapi lebih cepat lebih baik.

__ADS_1


"Bagus" setelahnya, semua berjalan seperti biasa, biasa yang aku katakan adalah dalam artian belenggu. Waktunya untuk memperkuat tubuhku, makan.


"Hai Lili,"


"Hanian,"


"Kenapa kau terlihat malas begitu? Apa ada yang menggangu pikiran mu?" Peka sekali


"Tidak ada," lebih baik hanya aku yang tahu


"Kau ini, sikecil yang tertutup,"


"Hey gulali bodoh! Kau panggil aku apa?!"


"Si kecil?"


"Sekarang kau berani ya,"


"Iya" akhhh Hanian jadi berandalan!!!


"Aku membencinya," gumamku


"Apa? Kau membenciku?" Wajahnya terlihat syok


"Apa? Tidak tidak, aku benci kau memanggilku seperti itu,"


"Baiklah aku tidak akan memanggil mu seperti itu,"


"Emm" lalu dia memesan makanannya


"Kau kelihatannya banyak pikiran,"


"Kita ke atap yu?"


"Hmm apakah itu membantu?"


"Hmm kurasa bisa" dia tersenyum, kami segera menghabiskan makanan kami, lalu menuju tempat yang ingin ditunjukkan Hanian kepada ku.


"Yang paling tinggi ya?"


"Iya," senyumnya, saat dia membuka pintunya, dia membeku.


"Hanian? Kenapa diam? Ayo cepat jalan,"


"Anu kita sebaiknya," aku menerobos badannya


"Memangnya ada a.... pa?" dan kulihat tiga orang itu melihat kami dengan tatapan dingin.


"Oh hey Hanian!" sapanya sambil tersenyum, diantara tiga orang itu, William menjadi salah satu dari mereka.


"Yo kita bertemu lagi,"


"Hanian kau tidak akan lari kan?" tanya si rambut hitam dengan matanya yang hitam keunguan.


"Heh apa maksudmu? Aku lari dari mu?" Hanian tidak kalah dingin, akhhhhh ini membuatnya semakin keren, eh tunggu, berandal tidak ada yang keren! Yang ada mereka sok jagoan!


"Tampaknya kau bersenang senang?" Kata si rambut merah, William. Yang satunya hanya melihat tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Jangan main-main," akhhh dia berandal yang kerennn! Eh tunggu, berandal kan? Tidak, Hanian berbeda, dia berandal yang keren, meski aku tidak setuju dia jadi nakal.


"Sudah kubilang kan? Kita pasti akan bertemu kembali," senyuman yang menggoda


"Itu hanya sebagian, senyuman Hanian lebih mempesona," gumamku


"Hey aku bisa dengar itu!" Kata William tersinggung


" Aku mempesona?" Hanian menunjukan senyumannya


"Tidak, aku bercanda," itu sangat indah Hanian!


"Pfttt... " ketiganya tertawa


"Apa? Kenapa? Mereka sedang menggila?"


"Sepertinya begitu," Hanian menatap mereka dengan marah


"Emmm ekhemm," mereka meredakan tawa mereka


"Jadi, kenapa kalian disini?"


"Kami mencarimu," apa mereka berniat jahat? Seperti mengajak berkelahi contohnya?


"Aku di kantin,"


"Tapi kau akan selalu ketempat ini"


"Pergilah, ini bukan saatnya"


"Baik, tapi,"


"Apa?" Hanian semakin galak


"Jangan ganggu Hanian!" Teriakku


"Huh?" Mereka terkejut, Hanian tidak terkecuali.


"Jangan ganggu Hanian ku bilang! Pergi ya pergi! Dasar bodoh!" Ups


"Dia bilang kita bodoh,"


"Iya ini kedua kalinya untukku,"


"Ohh," kata pria datar itu, dia baru sekali bersuara dan hanya bilang ohh saja?


"Pfft... Lili kau menggemaskan" dia mengusap kepalaku


"Akhhh hentikan!"


"Haha menarik, aku ingin punya satu di kamarku" apa? Apa maksudnya itu?!


"Benar, wanita tsundere," aku bukan tsundere!


"Hmm aku juga, alangkah menyenangkannya dia menjadi adikku" tersenyum, hey pria datar???


( Hay para readers!! Jika kamu menyukai cerita ini, tolong sukai dan dukung agar novel ini selesai sampai tamat^^)

__ADS_1


"Kau tidak harus mendukungku" ahh tolong dukunglah aku dan Hanian!


__ADS_2