
Jika aku menyuruh jantungku untuk berhenti berdetak, aku akan mati, tapi di situasi saat ini jantungku berdetak kencang, berdebar karena senang, aku tidak bisa mengendalikannya.
"Hmm? Ada apa Lili?" karena kamu Hanian
"Bukan apa-apa"
"Kau diam saja dari tadi," aku mengatur nafasku Hanian
"Memangnya kenapa?"
"Kau tidak suka aku mengajak mu pergi?" tentu saja suka dasar gulali bodoh
"Kau tidak membuat janji,"
"Apa maksudmu, aku sudah menelpon mu dan mengechatmu beberapa kali," gerutunya, ukhh kau manis sekali Hanian
"Ah, itu... " aku sedikit malu
"Ya kau tidur seperti anak kucing," ejeknya dengan tertawa
"Ya, aku hanya lelah, lagi pula ini hari libur,"
"Kau benar," perjalanan santai melewati sekelebat perumahan dan pepohonan.
"Kau tahu? aku kira kita tidak akan bertemu lagi," benar, kami ini memang berteman sejak kecil, saat masa kanak-kanak sekitar usia 7-8 tahunan kurasa? tapi waktu itu singkat sekali, kami terpisah dengan cepat, aku tidak tahu apa yang terjadi, aku ingin tahu tapi tidak bisa menanyakannya.
"Yeah, saat kita bertemu kembali, sepertinya kau cukup senang,"
"Tentu saja, aku tidak menyangka kita akan bertemu di supermarket, hebat sekali itu pasti takdir, aku selalu memikirkanmu, kau lebih menggemaskan saat kecil, dan apakah kau masih sendirian," cukup Hanian, perasaan ku bertambah lagi
"Aku memang selalu sendirian,"
"Tidak bisakah kau berteman, kau cukup pendiam, kau seperti tidak memiliki arti untuk hidupmu,"
"Yeah kau benar,"
"Cobalah untuk termotivasi"
"Bagaimana caranya?"
"Dari memiliki teman,"
"Oh, apa?"
__ADS_1
"Teman"
"Kau tahu Hanian, aku punya 3 teman sekarang" ucapku dengan ceria
"Bagus" dia mengelus kepalaku
"Hey hentikan, kau sedang menyetir!!" teriakku
"Haha kau persis seperti kucing yang marah,"
"Ukhh dasar," perasaanku yang merindukanmu juga selalu melekat, hingga aku berharap kita bertemu, dan sepertinya takdir ada di pihakku, seperti sihir yang selalu kau bicarakan.
"Mantra sihir ini akan mengabulkan mu,"
"Bagaimana caranya?"
"Sebut saja apa keinginan mu,"
"Lalu?"
"Kau harus yakin itu akan menjadi nyata" itulah dirimu yang dulu, aku berharap kau masih sama.
...***...
"Kau terpesona?" iyaa! Kau mempesona Hanian!!
"Jujur saja iya"
"Disini memang indah,"
" ... " aku memandanginya dengan senyum ringan
"Kau masih suka rambut pirang?" apa? Kenapa kau tanya itu?
" ... " bagaimana aku menjawab?
"Tidak suka?"
"Suka"
"Kau suka padaku kan? ahahaha" kau menganggap itu candaan kan!
"Ayolah jangan bercanda lagi, aku haus,"
__ADS_1
" Suka tidak?"
" Iya iya ayo pergi,"
"Hey," aku mendorongnya pergi, ini bukan saatnya kau tahu, aku harus siap untuk segala kemungkinan, berjalan lancar atau semua berantakan, karena jika tidak sesuai apa yang kuinginkan, kita tidak bisa berteman dan aku tipe orang yang tidak dapat menerima bahwa aku di tolak.
"Oke oke tenanglah Lili," beberapa menit kemudian kami sudah berada di vila
"Kita tidak menginap kan?"
"Tentu saja"
"Apa? tentu saja apa?"
"Tentu saja tidak," katanya dengan senyum jail
"Disini udaranya panas"
"Yeah karena terik matahari, cuacanya sangat bagus, apa kau kepanasan?"
"Iya"
"Mau ice cream?"
"Coklat"
"Apa maksudmu? Kita pergi berdua"
"Ah malas sekali," ini benar benar kencan!!!
"Ayolah, ini pertama kalinya kita pergi berdua"
"Hey kenapa kau baik padaku?"
"Aku selalu menganggap mu sebagai adikku," adik? Ahh ini menyebalkan, aku merasa tidak nyaman mendengarnya
"Siapa yang adikmu? Akulah sang kakak disini,"
"Tidak, jangan membual Lili, aku yang dewasa disini,"
"Hey"
"Lupakan, ayo pergi"
__ADS_1
"Geezzz..."