
Perpisahan yang memilukan, aku kehilangan warna dihidupku, dia tidak datang untuk memberitahuku bahwa dia akan pergi, dia meninggalkanku, lalu setelah itu aku kembali ketitik dimana uang yang akan bicara untuk mendapat teman, beberapa tahun berlalu, kesal, benci, aku muak dengan ini, jadi aku memutuskan untuk menyepi, karena punya teman pun rasanya tidak bisa menggantikan Hanian dihatiku.
"Hanian aku menyukaimu, aku ingin bersamamu," rasa itu tumbuh setiap hari, yang aku inginkan adalah bersamanya menghindari kesedihan yang membelenggu setiap hari, bernafas sesak dengan tatapan kosong. Saat aku putus asa, aku benar benar percaya sekarang sihirnya bekerja, dimana aku percaya kami bisa bertemu, di supermarket saat aku membeli perlengkapan mandi dan lainnya tentu saja karena aku baru saja pindah, dia menatap haru lalu memelukku. Dan kembali pada kenyataan bahwa aku sedang dirumahnya sekarang.
"Lili kau menangis? Apa? Apa yang terjadi? Aku melukaimu?" dia panik sejadi-jadinya
"Tidak Hanian, sebelumnya aku hanya ingin berterima kasih saja, tapi sekarang aku paham kenapa aku menyukaimu, karena waktu itu aku sangat bergantung padamu," aku sangat yakin, itu hanya perasaan suka karena dialah orang yang paling dekat denganku dari pada keluargaku, huh? Keluarga? Apa aku pernah merasakannya?
"Tunggu kenapa ekspresi mu sedih lagi? Dan tidak masalah jika kau ingin bergantung padaku,"
"Hanian," aku hanya ingin menangis saat ini
"Li-Lili?" dia tampak cemas
"Aku harus melupakan perasaan ini"
"Apa? Jangan begitu Lili, kenapa kau labil?"
"Bagaimana aku tahu?"
"Itu adalah perasaanmu Lili, kau hanya terpaku pada masa lalu, kau selalu mempertimbangkan sesuatu yang bukan berarti itu jadi masalah untukmu,"
"Apa?"
"Jangan terlalu banyak berpikir, jangan hanya memikirkan masalahmu,"
"Apa maksudmu?"
"Cobalah untuk santai ya, ayo tenanglah," anehnya dia selalu berhasil menenangkanku
"Yeah kau benar, lagi pula ini fase dimana aku sedang memperbaiki pikiran aneh dan kelam ini!"
"Ahhh Lili kau membuatku khawatir" dia memelukku, rasanya Hanian saat ini terasa seperti Hanian di masa lalu
"Aku ingin bersamamu," tanpa sengaja aku mengatakan apa yang aku pikirkan sekarang
"Itu bagus, jadi kenapa kita tidak bisa tinggal bersama?"
"Tidak, itu sangat tidak bagus"
"Hmm katakan padaku apa yang Lili mau, kau tidak mudah ditangani hmm"
"Tidak mudah ditangani?"
"Aku jelas tahu perasaanmu, tapi kenapa kau menolak?"
"Kau tidak paham?"
"Aku mengerti, tapi tetap saja"
"Yang aku inginkan adalah Hanian yang baik"
"Aku jahat sekarang hmm?"
"Kau tahu betul dirimu sekarang kan?"
"Aku kalah, Lili"
"Jadi,"
"Aku akan mengambil hatimu perlahan," dia tersenyum lagi dan lagi, tapi akhirnya aku sadar, itu seperti senyum palsu, dia menyembunyikan emosinya, atau mungkin saat kecil, dia orang yang memiliki dua kepribadian, maksudku dua topeng hmm?
"Sekarang aku merasakan betapa bodohnya aku," gumam ku
"Tidak apa Lili, itu lebih baik"
"Berpura-pura saja tidak tahu"
"Tapi aku dengar," ishh Hanian menjengkelkan
__ADS_1
"Liliku tidak mau aku menjadi bajingan kan?"
"Hmm yeah,"
"Maka akan aku turuti" dia mencium punggung tanganku
" ... " aku tidak ingin bicara lagi
"Kau selalu seperti ini Lili, membuatku khawatir" dan kemudian beberapa pelayan menyajikan makanan yang begitu banyak.
"Ini banyak sekali, kau makan itu sendiri?"
"Dengan Lili pastinya"
"Aku kan,"
"Ini waktu yang berharga untukku Lili, makan denganku, kau kurus sekali, kau tahu kan? Aku ingin melindungi mu" sepertinya dia serius dengan perkataannya, tapi menakutkan jika aku tahu itu adalah obsesinya
"Baiklah, hanya beberapa suapan"
"Tidak, harus banyak melebihi apa yang kau makan selama ini,"
Ahh kau adalah sistem pengatur dalam hidupku," benar seperti waktu kecil, tapi memang itu baik untukku, hanya saja sekarang aku tidak suka di atur.
"Hmm bagaimana sistem pengatur ini akan mengubah hidup mu hmm," senyum jahil
"Senyummu menakutkan sekarang hey,"
"Apa? Ini senyum cantik yang ku punya Lili," sekarang sederet giginya di tunjukkan, itu lebih baik.
"Kau tahu Lili,"
"Hmm?"
"Tidak, ayo makan"
"Biar aku sendiri saja, pindah sana di ujung sana"
"Oh orang tua mu kemana?"
"Ada di kantor"
" ... " sebaiknya aku tidak tanya lebih, dia seperti merasa terganggu.
...***...
Aku dan Hanian menghabiskan waktu lebih banyak di perpustakaan.
"Kau suka baca buku?"
"Sejujurnya dalam hidupku, aku jarang membaca buku, biasanya bibi yang membacakan, atau tidak sama sekali," seperti novelku yang berdebu
"Aku kira kau suka buku,"
"Suka, hanya saja malas lihat tumpukan buku yang menggunung"
"Hmm disini banyak tumpukan buku, apa aku bakar menjadi satu, dan yang tersisa hanya satu" ide gila apa itu?!!
"Jangan aneh aneh H-Hanian," apa sih yang dipikirkannya?!
"Baiklah karena Lili malas membaca"
"Hey," itu ada benarnya juga sih
"Aku yang akan membacakannya untuk Lili," dia mencari cari buku mana yang tepat.
"Hmm Ini menceritakan seorang pelayan laki-laki menyukai nonanya," aku mendengarkannya dengan secangkir teh di meja, agak lucu karena dia begitu serius membaca. Malam pun tak terasa tiba begitu cepat, aku sudah menghubungi orang rumah untuk kembali lebih lama sebelumnya.
"Baiklah ini cukup,"
__ADS_1
"Lili kau yakin tidak menginap saja hari ini?"
"Aku menikmati ini, tapi kau tidak bisa untuk menahanku lebih lama"
"Sayang sekali"
"Aku tidak selamanya akan menurut padamu," aku meniru senyumnya dan dia membeku tak suka.
"Oh, aku harus menunggu supirku," aku sudah menghubunginya
"Aku akan menemanimu"
"Hmm baiklah" dan didepan gerbang kami menunggu supir yang akan menjemputku
"Lili, kau tidak mau berpacaran denganku?"
"Beri alasan kenapa itu harus?"
"Aku ingin melindungi Lili, aku berharap kebahagiaan mu, selalu"
"Aku juga,"
"Jadi bagaimana"
"Meski terlambat, aku mau"
"Kau mau?"
"Hmm yeah" aku tersenyum, dan jujur aku tidak bisa melepaskan sempatkan yang dulu ku tunggu tunggu, seperti maksud hati, aku harus lebih banyak pikiran positif, perkecil prasangka.
"Ini tidak terlambat, hanya saja aku belum mempersiapkan apapun untuk Lili,"
"Hmm tidak usah,"
"Harus dong" dia memelukku, dan mencium keningku, saat dia hampir ingin mencium bibirku, aku refleks menghindar, itu sedikit canggung
"Hmm? Tidak apa Lili" tapi dia menahan wajahku dengan tangan nya, lalu mencium bibirku perlahan, Hanian lembut sekali, dia seakan mengibaratkanku sebuah kaca.
" ... " Hmm? Jadi berapa lama ini akan berakhir?
"Sekarang bernafas lah," dia mencium keningku lagi dengan kelembutan, aku malu dan hanya bisa memeluknya menyembunyikan wajahnya ku.
"Hahaha astaga Lili begitu menggemaskan, aku jadi ingin sekali lagi," aku menyelanya dengan mencubit punggungnya
"Oww, kucingku yang pemalu," aku melepaskan pelukanku
"Kau menikmatinya kan?"
"Diamlah bodoh"
"Kita sama sama mendapatkan first kiss, aku yang menunggu saat ini, dan bagaimana denganmu Lili?" aku tidak menyangka juga, aku hanya dapat membayangkan tanpa berpikir itu akan terjadi, terlebih itu ciuman pertama. Aku senang dia tidak melakukannya dengan wanita lain.
"Kau tampak senang, aku pun juga, dan benarkah itu ciuman pertamamu?"
"Te-tentu saja!" Tinnn!!!... klakson mobil supirku, nampaknya dia tidak tersesat, ibu menempatkan orang orang kompeten disekitarku...
"A-aku harus pergi,"
"Ohh sayangnya, padahal aku ingin lebih"
"Ishhh diamlah!"
"Hahaha" dia sepertinya terhibur dengan tingahku, sial.
"Lain kali aku yang akan mencium mu, Wee!!!" aku menjulurkan lidah berniat mengejeknya.
"Oh kali ini dengan lidah right?" Apa yang dia pikirkan?!! Wajahku sudah Semerah apel tebakku.
"No no no otak udang, aku hanya bercanda!"
__ADS_1
"Sekarang kau panggil aku otak udang, kau harus di hukum nona,"
"Aku tidak takut"