
Pagi yang cerah, sopir menunggu dengan senyumnya yang khas.
"Selamat pagi nona," sapanya seperti biasa
"Pagi,"
"Nona saya sedih sekali,"
"Kenapa?" Kenapa cerita padaku?
"Kemarin nona tidak pulang besama saya,"
"Oh maaf ada temanku yang datang" namanya pak Andi, dia membukakan pintu mobil untukku
"Teman nona? Siapa?"
"Ada"
"Ayolah nona, saya penasaran, baru kali ini nona membawa teman"
"Jalan!"
"Baik nona, maaf nona tapi... Anu... Teman... "
" ... "
"Nona harus sedikit lebih terbuka, nona tidak boleh menyendiri, memang ada kalanya banyak yang mengkhawatirkan, tapi itulah kehidupan, tidak ada bahagia untuk selamanya tidak ada derita untuk selamanya"
"Iya" aku juga sedang memperbaiki pikiranku perlahan kau tahu? Aku juga sedang berusaha
"Bagus, jadi siapa?" kau tidak menyerah rupanya
"Hanian, teman satu satunya saat masih kecil,"
"Laki-laki?"
"Iya"
"Tampan?"
"Iy, apa? Dia jelekkk sekali tahu," dia paling tampan di dunia!
"Hoho nona malu-malu, ada rona merah dipipi nona hahaha"
"Aku tidak! Hah sudahlah," sial aku tidak suka seseorang mengetahui perasaanku
"Tidak usah malu nona, itu normal, nona sangat kentara sekali" apa benar?
"Jangan bicara omong kosong begitu,"
__ADS_1
"Ini kebenaran nonaku,"
"Kau tidak tahu apapun,"
"Saya tahu nona,"
"Geezzz"
"Hahaha"
...***...
Aku melihat sekitar, Jey, Diana serta Luna terlihat tak bersemangat, hmm padahal hari ini sedang cerah.
"Hahhh" Luna menghela nafas
"Hahhhhhhh" dan Jey menghela nafas tidak lama setelah Luna
"Ekhemm ekhemmm" Diana berdehem, dan aku mengabaikan
"Kau tidak tanya sesuatu pada kami?" tanya Jey
" Tanya apa?"
"Dia tidak sefrekuensi,"
"Benar itu benar," mata mereka seperti berkomunikasi
"Hmm benar"
"Jadi ada masalah apa?" tanyaku enggan
" Aku rasa aku mulai bosan," kata Luna
"Aku juga," Jey
" Yah" Diana
"Jadi?"
"Mari kita pergi hangout!" Semangat Jey
"Kemana?"
"Ekspresi mu datar sekali nak" protes Diana
"Maaf,"
"Lupakan, kita pergi ke m...pantai yuk" ajak Luna
__ADS_1
"Kau bilang ingin ke mall,"
"Yeah aku memang ingin, tapi aku belum punya cukup uang," ahhh aku mual
"Hahaha dasar," ini seperti candaan anak serakah dulu, anak-anak yang pura-pura tidak punya apapun yang minta dikasihani, apa mereka tahu aku cukup punya banyak uang? Mual rasanya
"Kenapa Lilian? Kau sakit? Kau memegangi mulut mu seperti ingin muntah saja," apa aku bertemu orang yang serupa? Apa aku tidak bisa memiliki teman yang membuatku nyaman selain Hanian? Bisakah aku tenang?
"Lilian, hey Lilian"
"Ah maaf tiba-tiba aku merasa tidak nyaman,"
"Kau sakit, mau ke ruang UKS?"
"Tidak tidak,"
"Benar?"
"Iya," kekhawatiran mereka terasa nyata
"Huh syukurlah, jadi kita ke pantai?" Tanya Jey untuk kesepakatan bersama
"Aku juga ikut?"
"Kau tidak mau?" Tanya Diana murung
"Kita pergi ke mall saja," kataku
"Sayang aku sudah bilang kan, aku tidak punya,"
"Aku yang traktir" timpal ku
"Itu tidak lucu Lilian," Luna tertawa ringan
"Kau tidak tahu aku?"
"Apa? Memangnya kau sekaya itu? Jangan bercanda Lilian, entah bodoh atau polos aku tidak tahu," dia tertawa semakin keras
"Aku serius,"
"Lilian, kalaupun kau kaya, kau tidak harus menghabiskan uangmu untuk teman-temanmu, itu sama saja berpoya poya, apalagi mall itu,"
"Tapi itu kan yang kalian mau!" Mereka terkejut
"Apa? Dia bilang apa?" tanya Jey sedikit marah
"Kalian tahu aku orang kaya, jadi kalian mendekatiku!" aku menangis
"Kau pikir pertemanan kami ini seperti apa?!" Luna sekarang marah
__ADS_1
"Aku tidak butuh uangmu!" timpal Jey berteriak, sedang Diana tidak tahu harus berbuat apa, seketika aku sadar bahwa semua anak di kelas melihat kami, aku segera pergi dari kelas, berlari cepat untuk sembunyi. Aku merasa kacau.