
Waktu seakan terhenti, yang dikatakannya masih terngiang dalam hening ini, 'aku menyukaimu' bukan hal yang mudah bagiku untuk dikatakan.
"Kau ini haha kalau bercanda juga ada batasnya haha, lebih baik turunkan aku saja haha ini menggelikan, sungguh..." aku tidak tahu sungguh tidak tahu, badanku lemas.
"Oh kau bermaksud menolak ku?" Sedihnya
"Apa?" Mana mungkin, aku sudah menyukaimu sekian tahun
"Aku serius Lili, pikirkanlah" kau terlalu cepat mengatakannya! ah tidak, memang benar kita terpisah cukup lama, tapi ini masih terlalu cepat untuk kita yang baru bertemu kembali!
"Aku..." tring... Bell masuk berbunyi
"Bukan saatnya ya? Baiklah lain kali saja," Hanian tidak bercanda.
...***...
Bagaimana ini? Bagaimana? Aku menyukainya tapi ragu untuk berkencan dengannya, ada sesuatu yang salah, perasaanku tetap sama tapi ragu untuk bersamanya, apa maksudnya ini Lili?
"Hey," Diana menghampiriku
"Ya?" Nah, yang satu ini harus kutangani juga
"Selama ini kau sendirian?" Kau tidak punya mata ya?
"Apa kau melihat aku dengan yang lain?"
"Tidak," dia tidak mengungkit kejadian di kantin, yah memang aneh kejadian itu terlupakan seperti tidak terjadi apa-apa, tapi baguslah
"Ya begitulah,"
"Ukh aku bermaksud untuk mengajakmu berteman kembali," katanya dengan ragu
"Setelah apa yang aku perbuat?"
"Yeah, itu agak bermasalah, tapi kita semua punya masing-masing cerita dalam pertemanan ini,"
"Apa maksudnya itu?"
"Mungkin kau tidak begitu banyak kenangan bahagia dulu," Jey menyela
"Jey... " Diana terharu
"Ini karena Diana, aku tidak tahu tapi sepertinya kita memang punya masa lalu yang rumit dengan beberapa teman, tunggu! Apa mereka pantas disebut teman?" dan Luna hadir
"Kau tahu Lilian? Kami berteman tidak langsung berteman dan akrab, kami melalui proses yang sama, masih tidak bisa mempercayai satu sama lain"
"Huh?" Aku baru dengar itu
"Aku dan Jey, adalah orang yang memulai pertemanan ini, kemudian Luna dan kau Lili," kata Diana
__ADS_1
"Jey adalah anak yang dulunya sering di bully, sekarang kepribadiannya jadi keras dan,"
"Hey,"
"Haha maaf, lalu Luna dia adalah gadis yang di benci teman wanita di kelasnya karena kecantikannya,"
"Itu sangat kekanakan! Menghancurkanku karena pria mereka menyukaiku," Sela Luna dengan marah
"Dan aku, aku adalah orang yang terasingkan, yang sering kali ingin ikut bergabung tapi mereka menolak ku meski secara halus, tapi aku kesepian, dunia mereka berbeda, berpoya-poya adalah bagian dari kehidupannya, sedangkan aku tidak bisa begitu, ahh miskinnya... " dia sedang meratapinya?
"Oh aku tidak tahu itu," aku tidak tahu harus bereaksi apa
"Dan kau Lili? Aku ingin tahu apa yang kau alami,"
"Aku?"
"Ya"
"Aku dulu... " dulu sangat menyedihkan, ibu pergi bekerja, dan aku bersama bibi pengasuh, dulu rasanya kesepian dan sangat suram, apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Aku melupakan rasa bahagia. Jika musing gugur tiba, rasanya ada yang mati di kehidupanku, seperti tidak ada ambisi dan seperti harapan yang menumpuk tak pernah terwujud. Saat usiaku 6 tahun.
"Aku ingin ikut Mama," aku menangisi ibuku yang tak terasa kehadirannya
"Sabar nona, ibu nona sedang bekerja, ini juga untuk nona,"
"Untukku?"
"Iya" dia tersenyum menenangkan
"Seperti hidup nona yang mewah, apapun yang nona ingin pasti bisa di dapatkan, nona bisa beli boneka, nona bisa makan coklat, apa itu bukan hasil kerja keras ibu nona?" Benar, aku mendapatkan apa yang aku mau, sampai pertemanan pun bisa di beli kan? Saat usiaku 10 tahun, aku membayar mereka untuk menjadi temanku, itu maksudku, tapi rasanya mereka terlalu penurut, saat itu aku tahu, mereka bersenang-senang bersama tanpa aku, mereka membicarakan apa yang mereka dapatkan dari ku dan ingin lebih.
"Dia memberiku uang banyak,"
"Aku diberi cemilan yang enak haha,"
"Ayo kita bersenang-senang"
"Ayo!"
"Tapi dia tidak pernah ikut dengan kita untuk bersenang-senang,"
"Apa yang kau bicarakan? Dia seperti robot, tidak banyak bicara dan susah di ajak bercanda, dia kaku sekali,"
"Benar, aku bertahan karena uangnya, bukan karena ingin berteman,"
"Hahaha ini sangat menguntungkan,"
"Haha benar," Begitulah, rasanya sesak mendengar itu, aku ingin berteman tapi tidak nyaman, aku tidak mau kesepian, namun, meski ada mereka ternyata hatiku tetap hampa.
"Lilian, aku tidak punya uang, lain kali saja ya ke kantinnya?" Tersenyum
__ADS_1
"Oh baiklah"
"Apa?"
"Hmm?"
"Ah bukan apa apa" aku sudah muak, mereka menyebalkan. Mereka membicarakan ku di belakang.
"Aneh, biasanya dia akan mentraktirku makan,"
"Yeah saat aku ingin meminjam penghapus, dia bilang 'kau tidak punya penghapus?' Aku kira dia akan memberiku penghapus, dia malah mengejekku ' apa kau semiskin itu?' arghhhh itu membuat ku kesal!"
"Apa? Beraninya dia!"
"Kita akan memberinya pelajaran, biarkan dia sendirian," sejak saat itu, mereka tidak pernah mau berteman denganku, sampai semua orang disana mendengar rumor bahwa aku adalah orang yang arogan dan sombong karena punya banyak uang. Begitulah ceritanya.
"Aku tidak nyaman seperti itu,"
"Lili, hiks..." dia menangis?
"Hahhh Diana memang cengeng, yeah sekarang waktunya kita semua tidak terpacu pada masa lalu!" kata Jey
"Tapi aku bukan orang yang menyenangkan,"
"Shuttttt!" selanya
"Semuanya harus menerima apa adanya, bukan ada apanya" kata Jey, dia berkepribadian cukup kasar tapi dia sangat baik.
"Nah semuanya bereskan?" tanya Luna pada Diana
"Hmm hmm iya" Diana mengangguk bahagia
"Diana adalah orang yang paling memperdulikanmu, dia meminta kami berbaikan denganmu,"
"Aku hanya tidak suka melihat seseorang sendiri," dia masih menangis haru
"Haha Diana memang orang seperti itu, dialah yang mengajakku berteman, dia sangat gigih sampai membuatku risih,"
"A-aku hanya merasa kita berdua sama, sama-sama merasa kesepian, jadi aku..."
"Haha iya iya,"
"Jey tidak mudah ditangani," gerutunya
" Kau hebat ya Diana,"
"Apa maksudmu," Diana tersipu malu
"Kau selalu merangkul orang lain, Luna dan Lilian kalian merasa beruntung kan," aku dan Luna mengangguk membenarkan
__ADS_1
"Ahhh jangan buat aku malu," melihat tingkah Diana yang pemalu, kami semua tertawa menertawakannya, hingga semuanya tertawa untuk pertemanan yang tidak diduga ini.