
Ini yang lebih menyebalkan, disaat aku sudah memantapkan hati bahwa Lili akan menjadi pengantinku, rencana berubah dengan mudahnya, aku sudah menyerah dan kuakui aku mencintai Lili, setelah beberapa tahun disini aku tidak dapat melupakannya, lalu sekarang saat aku memasuki sekolah kelas menengah, ibuku membawaku pada pertunangan bodoh.
"Hai... Sudah lama menunggu?" Gadis yang cukup lembut, dia cantik, tapi tidak secantik Lili.
"Tidak masalah, " aku hanya harus menghancurkan kencan buta ini
"Emm perkenalkan aku Angelina Giselle"
"Hanian"
"Oh, Hanian sepertinya kau lebih muda dariku"
"Ya, kau lebih tua dari ku, " jadi mengerti lah
"Emm ahaha apa itu masalah?"
"Benar"
"Apa ini perasaanku saja?"
"Hmm?"
"Sepertinya kau tidak menyukaiku?"
"Ya" dan itu berakhir dengan tamparan, aku puas. Tapi ibu tidak menyerah, namun aku tetap menggagalkannya
"Kenapa kau menggagalkan itu Hanian?"
"Ibu sepertinya aku menyukai Lili, kalian pernah bertemu kan? Kau memberinya banyak hadiah, dia pernah cerita padaku, seharusnya itu rahasia, well dia tetap mengatakan nya" ibuku belum pernah campur tangan
"Ya, tapi lupakan saja, itu hanya satu kali pertemuan dan sangat singkat"
"Aku tidak bisa melupakan nya"
"Astaga anak ini, hal seperti itu saja sulit," aku jadi ragu semua itu demi diriku
"Aku menyukainya"
"Itu tidak akan membuatmu medapat keuntungan, "
"Aku tidak peduli, aku hanya menyukainya"
"Hahhh kau sudah dewasa," dari kecil aku sudah dewasa
"Tentu saja," dan ibu tidak mengatakan kepastian apapun, dan beberapa tahun kemudian, aku sudah berada disekolah kelas menengah atas, saat itu aku sudah diangkat menjadi CEO namun juga tetap pergi ke sekolah, pekerjaan ku hanya membereskan sampah, perusahaan masih dikelola kakek dan ayahku, dan saat itu aku lepas kendali, bukan Hanian bertopeng lugu, tapi Hanian yang sebenarnya, aku mengacau kelas, mengganggu murid, aku akan menjadi yang terburuk di sekolah, dan beberapa anak yang mengikutiku, Xion, William, Ren.
"Kenapa anak seperti kalian mengikutiku?"
"Aku rasa aku punya kebebasan jika bersamamu," William
"Aku lebih bebas" Xion, dia lebih aneh, seorang homoseks, aku tahu itu karena kami pernah bertemu di bar, bar nya para gay, tempat dimana aku punya misi untuk melenyapkan target kami.
"Aku nyaman" anak yang jarang membuka mulut, Ren, dia anak konglomerat, sebenarnya mereka bertiga anak konglomerat.
"Baiklah, kacau kan saja semuanya" kami berempat membuat banyak kerusuhan hingga di pindahkan ke sekolah lain dan di pindahkan lagi dan lagi, itu berakhir setelah ibu mengembalikan ku ke tempat dimana ada Lili disana, namun saat kembali, rumah itu kosong.
"Jadi sampai kapan kalian menguntit?" Apa kalian pikir aku bodoh? Untukku yang sudah berpengalaman
"Ahaha kau tahu?" Xion
"Kalian terlalu berisik"
"Aku sudah bilang jangan dekat-dekat denganku!" William, dia sedikit waspada pada Xion mengenai ke-gay-annya itu
"Jadi kau mencari siapa?"
__ADS_1
"Lili"
"Lili?"
"Dia belahan jiwaku, minggir!" Teriakku marah
"Pfft belahan jiwa? Lelucon macam apa itu? Ingat sudah berapa gadis yang kau campakkan?" Ejek Xion
"Dan itu demi Lili," mereka terkejut, dan itu membuat mereka lebih sering menanyakan siapa itu Lili, dimana pernah bertemu, dan lain lain, itu membuatku senang karena aku masih ingat kenangan itu dengan jelas meski sangat singkat.
"Kau selalu menceritakan Lili, kau lupa membuat kekacauan?" Tanya William
"Ya, malas saja"
"Apa pekerjaanmu menjadi sulit?" Xion dengan gaya pemikat, dia memanglah gay
"Ya itu membosankan, tanganmu menjauh dariku, aku normal"
"Cih... Padahal aku cukup menyukai mu"
"Apa?!"
"Tidak, lupakan... "
"Sudah kelas 2, ini tidak disangka, kita lulus" Ren, baru saja buka mulut
"Bagaimana baiknya untuk merayakannya?" Seringai Xion
"Ayo Ren bicara lagi ayo, bagaimana menurutmu? Ayo bicara yang lebih panjang," kata William semangat, namun Ren membatu tandanya dia tidak perlu bicara lagi
"Sial kau diam lagi," memang, Ren menarik, semuanya selalu ingin dia bicara lebih lama, itu sangat langka ketika dia membuka mulutnya selain makan.
"Sepertinya kita harus tunjukan bahwa kita ini senior right?" Kata Xion
"Oh sangat menarik, apa? bully? Memeras? Berkelahi?" William sebenarnya psikopat, tapi sisi itu jarang dia perlihatkan, dia selalu memperlihatkan kepribadian kacaunya yang selalu bar bar
"Dia tidak akan bicara, lakukan saja semau kalian," namun ternyata yang paling brutal adalah aku
"Ini rahasia kita well, " ancaman yang klise untuk sang pecundang
"Kita sudah terkenal menjadi senior" William tertawa
"Guru memanggil," kata Ren
"Ayo bicara lagi Ren!" William yang paling tertarik dengan Ren
"Will kau... " Apa iya?
"Apa?"
"Sudah jadi gay?"
"Ha? Omong kosong apa itu? Aku normal! NORMAL!!!"
"Baiklah itu melegakan,"
"Kalau kau gay, beritahu aku" goda Xion
"Brengsek! Tidak akan pernah,"
"Haha itu lucu"
"Hueee aku mual," ejek William, tapi Xion gay, apapun yang dilakukan pria untuk membuatnya kesal, itu hanya akan membuat dia tertarik saja.
"Jika kau tidak mau menjadi target Xion, lebih baik jangan terlalu menggodanya" saranku
__ADS_1
"Siapa yang menggoda nya?!!!"
"Jangan tunjukan amarahmu, dia suka ekspresi mu"
"Ups, baiklah" dan setalah itu tidak ada lagi Xion yang tertarik pada kami bertiga, aku tahu Xion tipe gay yang menyukai pasangan pemarah.
"Ayo pergi ke pantai" ajak Xion
"Apa? Kau sedang cari mangsa?" Tanya William
"Tidak, aku ingin kita pergi bersantai"
"Aku tidak ikut"
"Kenapa?"
"Tugas" aku bohong
"Baiklah, hanya bertiga" tandanya Xion memaksa
"Ahh baiklah, jika Ren ikut"
"Kau yakin kau bukan gay?" Tanyaku
"Bukan begitu bodoh! Dia orang normal, aku percaya pada nya"
"Hahh baiklah, jangan takut, aku tidak memangsamu Will" kata Xion tapi tidak dapat di percaya
"Tapi kau tidak tahu Ren itu gay atau bukan" kataku
"Ha???" William mulai panik
"Ren bukan gay" di membuka mulut untuk memastikan
"Fyuhhh aku lega,"
"Nah kawan ayo kita pergi"
"Bye" ucapanku untuk mereka yang terseret
Hari ini sangat terik, aku harus beli beberapa minuman dan makanan, dan disaat moodku hancur, aku mendapat pesan aku dijodohkan lagi, aku sudah bilang aku menyukai Lili, kenapa ibu tidak mengerti itu? Sangat menyebalkan, aku harus pergi, aku ingin minuman bersoda, aku pergi ke supermarket, dan...
"Ohh?" Seseorang menabrak ku dari depan, dia hendak keluar
"Maaf,"
"Tidak masa-" ha? Tunggu?
"Tolong beri aku jalan" saat menatapku, itu terlihat jelas bahwa dia
"Lili?"
"Hanian?" Yang paling membuatku senang, kau mengingatku
"Kau benar benar," refleks memeluk
"Oh oh oh Hanian?" Dia malu, benar, orang orang jadi melihat kami, jadi kami pun pindah tempat untuk memecahkan kerinduan itu
"Hanian kau, kenapa kau disini?"
"Takdir, ini pasti takdir" kami sedang di kafe
"Jangan bercanda" dia tersipu
"Lama tidak bertemu, kau sekolah dimana? Biar aku menjemputmu"
__ADS_1
"Ahh aku sedang mandiri, aku sekolah di... "