
"Kupikir mereka temanmu Hanian"
"Mereka memang temanku"
"Tapi sepertinya mereka menjauhimu"
"Ya kurasa begitu, itu aneh, padahal selalu mereka yang menyapa duluan,"
"Sepertinya aku tahu,"
"Hmm kenapa ya?"
"Karena aku punya hubungan buruk, dan itu membuatmu terlihat"
"HAHAHAHA benar Lili, kau benar, itu memang karenamu, tapi aku tidak keberatan HAHAHAHA... " apa? Hanian? Kenapa kau punya tawa yang mengerikan, tidak! Jangan begitu, itu menakutkan!
"Ti-tidak!!!" teriakku, dan sadar bahwa itu hanya mimpi, itu aneh, ahh lupakan itu hanya mimpi, tapi kenapa mimpinya seperti itu?
"Aku pusing, aku terlalu banyak tidur hoamm... " aku segera mandi untuk menyadarkan diri, setelahnya yup aku lupa disini adalah rumah ayah ku, tidak ada baju perempuan disini, aku memakai baju yang tersedia di lemari, itu hanya setelan pakaian laki-laki, karena ini genting, aku memakainya, dan lihat...
"Oh tubuhku terlalu kecil, ini kebasaran" aku menelpon ibuku untuk mengatasi ini, jadi segera setelah beberapa jam kemudian seseorang membawakan baju untukku
Tok tok...
"Ini baju nona,"
"Oh oke, terima kasih" aku membuka pintunya, dan menutup pintunya
"Kak," seseorang menarik bajuku dari belakang
"Ohh ini pasti adik kecilku,"
"Hehe... "
"Hmm aku harus ganti pakaian, jadi tunggu sebentar aku tidak akan lama,"
"Aku akan menunggu kakak selama apapun itu,"
"Omong kosong, aku akan cepat" aku mengganti pakaianku dengan cepat karena tidak mau dia menunggu, ini aneh, saat pertama kali aku mendengar tentang adik tiriku, itu sedikit membuatku nyaman dan tidak merasa sendirian, lalu saat bertemu dengannya, itu membuatku rindu jika jauh dengannya dan hanya ingin bersamanya sepanjang waktu.
"Seperti magic hihi... " aku membuka pintunya
"Magic?"
"Ahaha tidak, aku hanya bicara kekonyolan,"
"Oh hehe,"
"Adikku, kau ingin melakukan apa denganku?"
"Emm aku tidak tahu kak,"
"Aku juga" tentu saja, karena aku tidak begitu bergaul hingga tahu apa yang menyenangkan untuk dilakukan
"Kita ketaman saja yuk? Atau keperpustakaan?" usulnya
"Perpustakaan membuatku bosan, kita ketaman saja"
"Oke" dia terlihat sangat antusias, itu membuatnya semakin lucu ugh. Sekarang kami berada di taman.
"Disini banyak sekali bunga,"
"Yeah,"
"Dan bodohnya yang ku tahu hanya satu-satunya mawar merah,"
"Aku juga tidak banyak mengenal bunga,"
"Abell tahu beberapa?"
"Oh itu, aku tidak yakin, itu tidak begitu penting selain bunga beracun," oh anak ini, seperti psikopat saja
"Baiklah,"
"Kak, aku tahu cara merangkai bunga jadi mahkota, ayo kita buat bersama... "
"Ohh itu bagus, baiklah tolong ajari aku,"
"Kakak akan bisa melakukannya, itu mudah, kita kumpulkan dulu bunga bunganya,"
"Oke," dia terlihat serius memilih bunga yang cantik
"Menggemaskan," aku bisa memilih antara Hanian dan Abell, aku bisa memilih Abell hehe dulu sulit mengalahkan ketertarikanku pada Hanian, lalu sepintas bayangan Hanian yang begitu keren
"Wow apa itu?" tadi itu dia tampak marah
"Kak?"
"Ah ya?"
"Lakukan ini sekarang,"
"Baiklah" setelah beberapa menit kemudian, itu diselesaikan dengan mudah, yeah ternyata itu mudah.
"Ini untuk kakak," oh kita tukaran?
"Ini untuk Abell"
__ADS_1
"Terimakasih kak," dia merona
"Terimakasih kembali" well ini sangat menyenangkan, hatiku berdebar karena senang, bagaimana jika kami melakukan ini dulu? Pasti tidak ada kata kesepian, meski hanya kami berdua.
"Sepertinya aku suka bersamamu adikku,"
"Aku juga aku juga!!" wow dia lebih bersemangat
"Haha aku tidak mau berpisah seperti ini,"
"Apa? Kenapa harus berpisah?" Sedihnya
"Aku harus yeah, sekolah, dan pulang,"
"Pulang? Ini kan rumah kakak?"
"Aku punya satu lagi"
"Kenapa kakak ingin pergi dariku?"
"Itu bukan seperti yang kamu katakan, aku punya kehidupan selain ini, kau tahu adikku? Aku punya pacar,"
"Pacar?"
"Orang yang saling mencintai"
"Kalau begitu aku bisa jadi pacar kakak?" antusias, tentu saja dia masih sangat polos
"Apa yang kamu katakan! Itu tidak bisa dilakukan dengan saudara, kita adalah keluarga itu saja sudah cukup hahaha"
"Tapi pacar saling mencintai,"
"Benar, tapi keluarga juga dekat,"
"Oh begitu, aku harus mencari tahu apa itu"
"Baiklah, dan Hanian adalah pacarku, aku ingin kalian bertemu nanti, apa kau mau?"
"Hmm ya, aku ingin lihat orang yang kakak sebut pacar"
"Nantikan saja"
"Seperti apa dia kak?"
"Pirang" aku tidak tahu yang mana kepribadian yang ku ambil untuk menceritakannya
"Ah?"
"Kau akan tahu saat bertemu,"
"Sebenarnya kau tahu, beberapa temanku mengirimiku pesan, mereka khawatir, aku suka itu,"
"Kakak suka dikhawatirkan?"
"Ya itu membuatku terharu, dan lagi Hanian, "
"Pacar kakak?"
"Ya! Dia mengirim banyak sekali pesan, itu menggelikan, menggelitik hati, "
"Kak, kau sepertinya sangat menyukainya,"
"Ohh kau bisa tahu?"
"Ya itu mudah, dengan wajah ceria dan memerah, senyum lepas, itu sedikit membuatku tidak nyaman, " dia murung
"Kenapa? Kau tidak bahagia jika aku terlihat bahagia?"
"Bukan, aku hanya tidak suka itu ditunjukkan untuk orang lain," ha? Apa maksudmu adik kecil?
"Aku juga bahagia untukmu, aku bahagia bisa bertemu dengan mu adikku," aku memeluknya
"Ah ya" dia hanya membiarkanku memeluknya
"Aku tidak pernah merasakan perasaan ini bahkan ibuku yang sudah mati," mati? itu cukup kasar
"Kenapa seperti itu?"
"Dia selalu marah padaku karena tidak memenuhi keinginannya atas ketidakpuasan ayah, aku seperti diasingkan olehnya namun kami berada di atap yang sama," ahh itu
"Kau pasti kesulitan, apa kau berharap?"
"Aku selalu berharap"
"Ahh adikku sekarang kau punya aku!" Aku memeluknya lebih erat
"Aku tidak akan pernah, dan sampai mati dia tetap mengutuk, aku jadi tidak suka pada orang dewasa,"
"Apakah aku dewasa?"
"Tidak, Kakak begitu kecil, aku hanya menghormatimu, tapi karena itu, itu sedikit membuatku bisa menerima kakak" kecil huh?
"Ya meski begitu aku lega, kau tidak bisa benci orang dewasa, kau akan tumbuh menjadi orang dewasa, menjadi pria" tentu saja dia tidak boleh begitu
"Yeah, aku juga mulai berpikir begitu"
"Sejak kapan?"
__ADS_1
"Tadi"
"Eh? Oh kau melakukan apa kataku ya, ohh adikku lucu sekali," aku melepaskan pelukanku
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kenapa tidak memelukku lagi?"
"Yah aku rasa itu sudah cukup"
"Ahh" dia kelihatan murung
"Aku... " Handphone ku berdering
"Ya Hanian?" Hanian menelpon ku
"Lili kenapa kau tidak balas pesan ku? Dimana kau? Kenapa tidak ada orang di rumahmu? Kenapa kau tidak ada disekolah?" dia mengatakan itu dengan sangat cepat
"Ohh kau terdengar marah" tebakku
"Ya!" dia jujur
" lMaaf, aku punya urusan keluarga Hanian," dia marah? Itu sangat lucu!
"Jadi bagaimana?"
"Apa?"
"Kapan kau pulang Lili? Kau tahu aku mulai rindu! Ini mungkin bodoh, tapi itu mulai menyiksaku hah" oh my
"Aku senang mendengarnya Hanian, "
"Jadi?"
"Tenanglah, mungkin besok, hanya sehari disini," kataku menjelaskan
"Kak, dia pacar mu?"
"Ya dialah Hanian"
"Ah siapa itu? Kau bersama laki laki lain?"
"Ya hehe"
"Kau... Kau... Kau kenapa Lili? Apa ini perselingkuhan?"
"Hehe benar, "
"Apa? Tolong jawab serius!"
"Ya... " adikku tiba-tiba merebut ponselku
"Hey kau! Jangan hubungi kakakku!"
"Apa? Siapa kau? Kakakku? Apa maksudmu?!!" wow dia marah, pada adikku hehe
"Bagaimana mematikan ini?"
"Pilih yang merah"
"Oh baiklah, "
"Hey... " yang terakhir dia sepertinya sudah kesal, baiklah itu bagus, aku ingin melihat reaksinya saat kembali.
"Baik, itu berakhir, tolong jangan buat dia jadi pacar kakak" ohh itu seperti restunya tidak untuk Hanian, ini semakin menggelitik hati
"Tidak, aku menyukainya, sampai kapanpun"
"Kakak dia berteriak!"
"Kau juga"
"Itu karena aku khawatir"
"Sama dengannya well, "
"Itu... "
"Aku harus kembali, cukup sampai disini, ibu memang akan disini tapi aku tidak, "
"Apa? Kenapa?"
"Jarak sekolah ku jauh dari sini, jadi aku harus pulang sekarang,"
"Ka-kalau begitu, tolong kembali lagi kesini... "
"Ya, aku pasti akan sangat merindukanmu"
"Ah" dia murung
"Ini sudah sore, mungkin aku tiba disana sekitar jam 11 malam?"
"Berjanji lah untuk segera kesini"
"Aku janji" setelah itu, aku meminta pada ayahku, dia juga sangat sangat keberatan aku kembali, tapi bagaimana pun aku keras kepala, dan juga itu adalah kebutuhanku, aku tidak mau pegal pegal hanya karena jauhnya perjalanan saat pergi ke sekolah, baik Hanian, aku akan kembali.
__ADS_1