
Keesokan pagi, data mengenai Abell ada ditanganku, sekolah untuk Abell sudah di atur, dan sekarang aku tahu Abell berusia 10 tahun, data rinci mengenai hidupnya, ibunya yang meninggal ada disini juga.
"Jadi? Ibunya meninggal bukan karena suatu penyakit apapun melainkan penculikan?" Kenapa itu terjadi? Ayah tidak menyelamatkan ibu Abell?
"Kakak, lihat seragamku!" dia menunjukkannya dengan ceria
"Itu sangatlah manis, bagaimana perasaan mu?"
"Sedikit sakit dibagian sini," dia berdebar? Well, sangat normal
"Kau cukup senang, "
"Aku rasa juga begitu"
"Ayo sarapan bersama" ajakku
"Baiklah"
"Kamu akan masuk sekolah dasar, kamu harus berteman, jangan membuat masalah seperti melakukan kekerasan, oke?"
"Hmm baik" haha aku seperti orang dewasa saja, aku senang Abell selalu nurut
"Aku menantikan nilai sempurnamu adikku"
"Harus sempurna?"
"Tidak harus"
"Hmm"
Setalah sarapan pagi, kami bergegas hendak pergi ke sekolah, untunglah kami satu tujuan pergi kesana, ini memang sudah di atur, ayahku kompeten.
"Ah sudah sampai," aku keluar dari mobil dan henduk menuju gerbang
"Kakak tunggu"
"Apa? Abell sekolah mu berbeda"
"Berbeda? Kenapa?"
"Sudahlah masuk cepat, aku takut kau terlambat"
"Tapi aku ingin bersama kakak" sedihnya
"Akan ada saatnya kita bersama lagi"
"Bagaimana caranya aku bisa ke sekolah yang sama denganmu kakak?"
"Cepat lulus dari sekolah itu"
"Baiklah aku akan berusaha" dan aku tidak menyangka, setelah mendengar itu darinya, aku selalu diperlihatkan nilai harian nya, dia sangat pintar.
"Kau sangat pintar adikku" aku mengelus kepalanya, dia menikmati itu seperti seekor anak anjing
"Apa aku akan segera pergi ke sekolah kakak?"
"Tidak, kau masih terlalu kecil"
"Bagaimana agar itu tidak jadi hambatan?"
"Lulus awal"
"Apa itu?"
"Kau haruslah anak yang genius, tapi jangan melanggar peraturan adikku, nikmati saja saat ini, oke?"
"Tapi, "
"Apa kali ini aku dibantah?"
"Tidak! Bukan begitu"
"Jadi bersabarlah"
"Ya akan aku lakukan itu"
"Lakukan apa?"
"Sabar"
"Hmm good boy!" Sekali lagi mengeluh kepalanya
"Haha aku suka sentuhan kakak"
"Oh, kalau aku jadi kau, akan akan kesal"
"Kenapa?"
"Rahasia" hanya saja aku tidak suka di anggap anak kecil.
" ... " dia berpikir untuk menemukan jawabannya
"Tidak semua tanya mendapatkan jawaban dari pengetahuan di buku, karena sifat manusia sangat luas, acak, dan tidak terduga"
"Oh, apa yang harus aku pelajari agar tahu isi pikiran manusia"
"Abell, tidak ada yang bisa membaca pikiran... Ah mungkin belajar psikologi bisa"
"Dimana aku bisa belajar?"
__ADS_1
"Ayolah adikku itu bukan saatnya"
" ... "
"Lupakan, dari pada itu apakah kau sudah punya teman?"
"Teman sekolah?"
"Ya"
"Jika aku bilang 'ya' aku tidak terlalu dekat karena aku tidak suka bising dan sentuhan fisik, jika aku bilang 'tidak' sekelompok gadis itu apa?" Sekelompok gadis well, dia punya banyak penggemar sepertinya
"Yeah... Sebaiknya kau berteman dengan anak laki laki di kelasmu"
"Kenapa?"
"Lakukan saja"
"Tapi mereka menyebalkan, berisik, tidak pernah tenang dan cengeng" itu normal adikku
"Haha... Kumohon berteman saja"
"Ya, jika itu mau kakak"
"Adikku yang sangat manis dan penurut" aku mencium pipinya yang berisi itu hihi
"Nona, teman nona berkunjung"
"Hmm" siapa? Luna? Jey? Diana?
"Suruh masuk saja"
"Baik nona"
Beberapa menit kemudian
"Hai istriku" ternyata Hanian
"Bukan temanku toh"
"Kenapa? Kau kecewa?"
"Iya" aku tertawa
"Jahat sekali, well jangan menatapku seperti itu adik ipar" senyumnya
"Apa itu adik ipar"
"Oh ternyata kau bodoh"
"Apa? Kakakku bilang aku pintar karena nilaiku sempurna"
"Jadi adik ipar itu apa?"
"Tanya buku"
" ... " Aku hanya bisa tertawa melihat mereka berdua
"Bisakah kalian tidak menunjukkan cinta satu sama lain... Pfft... "
"Kakak, bahkan ini tidak lucu"
"Haha maaf, jadi Hanian, apa yang membawamu kesini?"
"Ya apa lagi?"
"Hmm?"
"Aku merindukan mu Lili" dia seakan tidak habis pikir denganku
"Pacar ku merindukanku, apa yang harus aku lakukan?" Tanyaku dengan bodohnya
"Haha sangat sangat Lili,"
"Hmm kau ingin pergi?"
"Ya!" Semangat nya
"Abell kau mau?"
"Asal jangan ada dia"
"Anak ini" kesal Hanian
"Tidak Abell, kau harus tahu kami ini sepasang kekasih"
"Dengar? Sepasang kekasih, kau tidak akan tidak tahu itu kan?" Ejek Hanian, dia kekanakan, dan itu lucu
"Akan menyenangkan menonton kalian berdua dari pada film di bioskop" kataku tertawa
"Benar! Ayo kita ke bioskop" oh hey?
"Apa itu bioskop?"
"Kau akan tahu jika sudah ada disana" masa pendekatan bagi Hanian, aku tidak akan menggangu itu.
"Jadi Abell, apa kau ingin pergi?" Tanyaku
"Aku ingin tahu bioskop" mata kekanakan itu muncul lagi, itu hal yang paling normal dari sisi Abell menurut ku
__ADS_1
"Ayo pergi" kata Hanian
Yeah, kami menaiki mobil Hanian yang baru lagi
"Kau boros sekali ya"
"Apa?"
"Mobilmu"
"Ahaha aku hanya memiliki 10 mobil" itu membuat orang miskin menangis kau tahu?
"Aku hanya punya satu untuk diriku"
"Kau bisa menyetir Lili?"
"Tidak"
"Bagus"
"Apa maksudmu?"
"Tidak, jika kau ingin belajar, aku akan mengajarimu"
"Ha benarkah?"
"Tidak ada yang tidak bisa untuk Lili"
"Kakak jangan bicara lagi dengannya"
"Kenapa anak itu?" Tanya Hanian merasa janggal dengan suara Abell
"Dia mabuk, sepertinya aroma mobilmu tidak sesuai dengannya"
"Jadi kita harus membeli pengharum ruangan yang dia inginkan?"
"Tidak, biar saja Abell terbiasa, dia tidak akan muntah"
"Kakak jangan bicara lagi dengannya"
"Well, disaat seperti ini dia suka senyap"
"Aku mengerti"
Setibanya disana, Abell keluar mobil berjalan gontai, dia merasa mual.
"Apa sekarang kau baik-baik saja Abell?" Tanyaku, sedangkan Hanian mencari sesuatu yang untuk meredakan mualnya
"Minum ini adik kecil, kau akan merasa baikan"
" ... " Abell tidak menolak karena membutuhkan nya
"Nah, kenapa kau tidak mabuk saat dimobilku?" Tanyaku
"Aku sudah terbiasa dengan baunya, tapi tetap saja jika perjalanan jauh, aku tidak akan tahan" katanya
"Oke kau hanya tidak terbiasa, aku juga sama dulu" kataku dengan jujur
"Jadi kapan aku akan terbiasa?"
"Itu tidak jelas ketahuan sekarang Abell, kau akan tahu pada saat kau nyaman"
"Kakak ini membuatku menderita"
"Ohh kemarilah" aku memeluknya karena gemas
"Untukku?" Ha?
"Apa maksudmu Hanian?"
"Pelukanku mana?" Katanya dengan tatapan kekanakan nya
"Bisakah kau dewasa disaat seperti ini?"
"Cih... Aku juga ingin itu apa salahnya?" gumamnya
"Ya ampun bayi besar ini"
"Lili, mari kita kiss?"
"Hanian, mari kita putus?" Dan seketika dia diam
"Eumm... "
" Kau sudah lebih baik?"
"Aku suka berada di pelukan kakak"
"Jika kau sudah merasa baik, ayo kita pergi menonton sekarang, bisa?"
"Ya"
Kami pun menonton film action, dan itu membuatku merasa mual, beberapa adegan yang pilu dan tragis, sayatan pisau pada sang pemeran utama dan adegan menakutkan lainnya, yang menghadapi Yakuza.
"Oh ini bioskop" Abell yang selalu mengulang kata-kata nya
"Ohh itu sangat biasa" Hanian yang bosan dengan adegannya
"Mengerikan" dan aku yang selalu menyembunyikan wajahku saat melihat adegan penyiksaan
__ADS_1