
"Pegang erat,"
"I-iya... "
" ... " kenapa tidak jalan?
"Emm kau mau berhenti sebentar tidak?"
"Kita masih di tempat"
"Di jalan, untuk makan mungkin?"
"Tidak," iya harusnya aku bilang iya!!!
"Baiklah, kupikir kau lapar,"
"Kenapa aku lapar?" Bodoh Lilian!
"Yeah karena lama di kelas? Entahlah," lalu motor melaju cukup kencang.
" ... "
...***...
Tidak lama kemudian kami sampai
"Terima kasih Hanian,"
"Iya sama-sama,"
"Mau main sebentar?"
"Iya " katanya sambil tersenyum
"Aku masih suka saja dengan itu," gumamku
"Hmm apa?" tanyanya
"Bukan apa-apa"
"Baiklah, apa sekarang aku bisa bertindak tidak tahu malu?"
"Terserah," itu bukan image yang cocok untukmu
"Aku tidak akan malu,"
"Kenapa harus malu kan? Kita sudah kenal lama"
"Tapi lama tidak berjumpa"
"Hmm" aku mengangguk
__ADS_1
"Nona, nona sudah datang? Sopir nona baru saja hendak menjemput nona tadi," Bi Nina
"Ahh telpon saja bi,"
"Baik nona, apa nona mau makan?"
"Iya, sekalian dia juga," Hanian tersenyum
"Ohh yang waktu itu,"
"Hai bibi," sapanya, bi Nina hanya mengangguk tersenyum, dia sama pendiamnya denganku
"Duduklah Hanian, aku mau ganti baju,"
"Baiklah," gila gila gila!! Orang yang aku sukai sekarang ada dirumah ku! Aku cepat-cepat pergi ke kamar, menyiapkan diri dengan cepat, bergegas dengan cepat, ahh tangga, aku takut akan ada kejadian seperti waktu itu, pelan pelan saja.
"Oke," Hanian tersenyum melihatku
"Kau tinggal sendiri?" Senyumnya terasa hampa
"Tidak, ada bibi dan paman sopir,"
"Ayah ibu?" Dia masih tersenyum, tapi terasa ada rasa iba pada perkataannya
"Ada di belahan dunia lain,"
"Haha dunia lain hmm?" gumamnya
"Iya, aku menunggumu,"
"Hmm semuanya terlihat lezat"
"Kau terlihat begitu senang,"
"Tentu saja"
"Karena ada aku?" Godanya
"Bukan, aku memang senang melihat makanan!"
"Ohh kau suka makan ya"
"Apa? Itu bukan seperti yang kau,"
"Kalau suka makan kenapa kau kurus begitu," sekilas saja aku melihat matanya begitu dingin, apa apaan itu?
"Aku kan tidak bilang aku suka makan"
"Hmm sudahlah, kapan kau ke rumah ku?" Dia memasang wajah ceria lagi
"Kapan kapan"
__ADS_1
"Kapan Kapan itu kapan?"
"Kapan kapan" dia menghela nafas
...***...
Jika kembali ke malam, rasanya aku bisa mengenang segala rasa, apa yang ingin dilupakan dan apa yang ingin diingat. Dulu jika dia tidak pergi, mungkin saja mentalku tidak terbentuk seperti ini, entah mungkin juga karena yang terjadi padaku bukan bagian dari kehidupanku saat dengannya.
"Jika, Hanian ada" apa yang lekat pekat itu tidak akan memenuhi hidupku?
"Nona makanannya sudah siap, waktunya makan malam," bibi, dia tidak pandai bicara, apa aku sudah bilang kami ini pendiam? Sedangkan sopirku kebalikannya, bertanya tanpa ragu, banyak humor, lebih aktif.
"Iya aku kesana," tapi aku tahu bibi mengkhawatirkanku, aku juga akhir akhir ini berhenti menanyakan ibuku padanya.
"Hmm baunya harum," bibi hanya tersenyum puas
"Sudah makan?"
"Maaf?"
"Ayo makan bersama"
"Tapi,"
"Aku sebenarnya tidak suka makan sendirian,"
"Kalau begitu, permisi," aku tersenyum dan bibi ikut tersenyum, dan aku berpikir jika dia ibuku, dia pasti akan selalu ada untukku, namun kusadari dia sedang bekerja disini untuk keluarganya, ibuku melakukan hal yang sama, aku selalu memperbaiki pola pikirku.
Tring....
"Chat group?"
'Membosankan!' kata Jey
'Iya, aku rasa kita bisa pergi ke tempat karauke? Mall?' Luna
'Apa? mall? Memangnya kau punya banyak uang haha Kau kan selalu tidak tahan jika tidak beli sesuatu,' Jey
'Andai saja ada orang yang memberiku banyak uang, aku akan sangat berterima kasih!' Luna
'Kau gila? Mimpi" Diana
'Hahaha' saat membaca ini, dadaku sesak, air mataku menetes, bibi terkejut melihatku
"Kenapa nona menangis?" Cemasnya
"Tidak, bukan apa apa" aku melanjutkan makan malamnya. Kau tahu apa yang kurasakan? Itu mengingatkanku pada orang orang yang meminta uangku dengan dalih pertemanan, lalu meninggalkanku karena tidak memberikan apapun, yeah dalam hal itu aku tidak mahir berteman, aku tidak tahu caranya berteman, aku juga tidak mengerti apa yang harus aku lakukan jika bersama seorang teman.
"Ukh... " air mataku tidak berhenti menetes
"Nona... "
__ADS_1
"Makan saja, jangan lihat aku" aku ingin menenangkan diri, kepercayaanku kepada seseorang memang dangkal.