
Buku berdebu di sampingku, banyak buku novel yang kubeli saat aku kesini untuk sekolah dan mencari tempat dimana tidak ada pengganggu seperti mereka, menghindari apa yang tidak aku sukai.
"Aku sepertinya suka ini, terimakasih Lilian," kata Diana
"Kenapa pria ini tidak punya otak?? Dia berselingkuh dibelakang istrinya! Rasanya aku ingin pergi kesana untuk membunuhnya!!"
"Te-tenanglah itu hanya novel," kataku
"Tidak Lilian, aku sangat semangat untuk menyiksa pria seperti ini, kalau ada dan jika dimasa depan aku mendapatkan pria tipikal seperti ini, aku ingin bermain dengannya sebentar... hehe" aura membunuh yang menakutkan, semoga yang dia dapatkan adalah pria baik.
"Sangat mengharukan," Luna meneteskan air mata
"Ada apa? Ada apa?" Tanya Diana antusias
"Kau tahu? Aku ingin sekali punya pria seperti Jhon ini, pria besar namun lugu, wajah garang berhati kaca, dia sangat sangat tipeku,"
"Oh ya, kupikir ada apa," Diana kehilangan seleranya, dia tidak begitu suka membicarakan pria, dia suka membicarakan suatu hal lucu seperti menceritakan anak kecil yang menari nari karena ayahnya pulang, seperti itulah haru baginya.
"Aku tidak pernah begitu menghayati,"
"Apa??" Mereka semua terkejut
"Karena aku tidak membacanya,"
"Ya ampun, ku kira Lilian makhluk tak berperasaan"
"Yeah aku ingin jadi seperti itu kalo bisa," gumamku. Sebenarnya kami semua sedang berada di rumahku sekarang, dan aku menyadari rumah ini terasa hidup, aku ingin mereka bermain kesini.
"Lain kali, kalau bisa setiap hari, kalian main kesini..." Aku memintanya tanpa melihat masing masing dari mereka
"Kami pasti kesini Lilian," kata Diana
"Tenang saja, aku suka rumahmu,"
"A-apa?"
"Dalam artian ini nyaman," lanjut Jey
"Jangan mencoba berprasangka Lili," kata Luna
"Em ya maafkan aku, aku yang ingin kalian kerumahku"
"Yeah itu bagus, hatimu terbuka untuk kami," kata Diana
"B-benarkah?"
"Yeah anak muda," Diana, dia seperti kekanakan dan dewasa secara bersamaan
"Terima kasih sudah merangkulku,"
"Ah ayolah, terlalu banyak terima kasih akan kehilangan maknanya," kata Jey
"Yeah kau benar,"
"Ohh ini romantis aku suka ini"
"Haha dia menikmatinya," kata Diana
"Bagus kalau kalian suka," mereka mengangguk bahagia. Tunggu! Sepertinya aku melupakan sesuatu?
...***...
Keesokan pagi, aku bingung apa yang kulupakan. Apa aku melupakan Hanian? Atau apa? Aku menuju kelas dengan berusaha banyak mengingat apa yang penting.
"Hay," sapaku pada teman-temanku
"Hay Lilian, aku sedang membaca bukumu, terimakasih untuk ini, aku sangat menyukai nya," kata Luna, dia suka cerita romansa
"Yeah kau bisa pinjam lebih," lagi pula aku punya banyak novel yang ku beli dulu, kupikir aku akan membacanya karena luang, ternyata itu tidak tersentuh sama sekali, tumpukan buku terlupakan. Aku duduk di bangku.
"Hey Lilian," sapanya, tempat duduknya berada dibelakangku.
"Ya?"
__ADS_1
"Apa kau melupakan sesuatu?" Tanyanya ragu
"Oh kau benar, aku seperti punya sesuatu yang terlupakan,"
"Kau tidak ingat?"
"I-ingat apa?" Aku takut membuat masalah
"Lilian kau, kau punya janji denganku," ha? Ap,
"Ohhhh" aku terkejut mengingat aku punya tugas dengannya
"Ahaha ternyata Lilian pelupa?" Oh lihat senyum palsunya, dia pasti menganggapku tidak kompeten!
"Bukan begitu, aku hanya, hanya teralihkan,"
"Hmm? Bagaimana?"
"Aku punya masalah yang harus diselesaikan, makanya aku lupa, maaf Dion" aku memohon maaf padanya, ini kesalahan yang memalukan!
"Yeah tidak apa, ada banyak waktu, tugas kita mudah," kurasa aku yang akan dibagian tugas mudah itu
"Yeah maaf, aku janji setelah pulang, kenapa kau tidak chat aku saja,"
"Sudah, mungkin kau tidak sering melihat ponselmu," ohh benar, aku tidak suka melihat ponselku karena akan teringat hal menyebalkan.
"Maaf, yeah kau bisa chat aku, aku akan memantau ponselku," tiba-tiba terdengar tawa kecilnya
"Hmm?"
"Tidak usah panik Lilian, aku tahu masalahmu pasti itu menyangkut dengan teman-teman mu kan,"
"Ya, baguslah kalau kau mengerti, terima kasih"
"Bukan apa-apa"
"Lilian lihat,"
"Oh ya ya" mereka menunjukan kalimat yang paling mereka sukai, aku senang ketika mereka menikmati itu.
...***...
Tidak lama kemudian, bell istirahat berbunyi, ini cukup pantas ku rayakan, aku mendapat teman yang baik, mereka adalah teman yang apa adanya.
"Aku ingin mentraktir kalian," aku membereskan buku-buku ku tak terkecuali mereka juga
"Lilian," mereka ragu
"Aku tidak punya prasangka apapun, percayalah aku sedang memperbaiki setiap perasaan dan pikiranku,"
"Yeah terserah," kata Jey
"Aku juga akan mentraktir kalian besok setelah Lilian" senyum Jey terasa hangat untuk orang yang cukup kasar sepertinya
"Yah apa ini bergantian? Aku tidak punya uang untuk berpartisipasi," nada cueknya membuat kami tertawa
"Benar, kau yang paling malang anakku," goda Jey
"Hisss memang nya kau punya uang dari mana? Aku sedikit penasaran hehe," kata Luna
"Tentu saja bekerja,"
"Apa? Kau kan masih sekolah!"
"Hehe kalian tidak akan menyangkanya,"
"Apa-apaan itu,"
"Apa kalian selesai? Ayo pergi," kataku
"Lili," didepan pintu kelas terlihat si gulali
"Tunggu? Gulali?"
__ADS_1
"Gulali?" Heran Diana
"Hanian kenapa kau kesini?" Aku menghampirinya
"Kenapa tanya?" Ishh dia berandal
"Semoga kau terjatuh di kamar mandi," aku menyumpahinya
"Apa?"
"Dan anu mu tepotong pi... "
"Hey Hentikan!" Dia membekap mulutku
"Jadi?"
"Kau benar benar kasar, ini sangat tidak terduga lagi" dia memutar bola matanya dengan marah.
"Jadi ada apa?"
"Aku cuma mau makan siang,"
"Kantinnya disebelah sana,"
"Makan bersama,"
"Ha?" Aku melihat teman temanku, mereka mengangguk senang, aku seperti dapat mendengar mereka menyuruhku pergi.
"Ayo ayo," dia meraih tangan ku
"Teman-teman," aku menghentikan langkahku
"Ya?"
"Ikut aku, ini tidak akan berubah" karena aku tidak bisa menyuruh hatiku berhenti berdebar, aku tahu betul rasanya berduaan dengannya, rasanya mau mati.
"Apa, tidak," mataku mengintimidasi mereka
"Baiklah"
"Hahhh" Hanian menghela nafas panjang dengan malas, membuat teman temanku seakan tercekik suasana, kami segera menuju kantin.
"Ahh gulali bodoh ini" dan aku hanya dapat mengumpat,"
"Hmm?"
"Ah tidak,"
"Kau sudah memikirkan hal itu?"
"Apa?"
"Jadilah pacarku,"
"Happp" tenang Lili, jadi itu bukan lelucon?
"Jadi aku ingin tahu," dia tersenyum memikatku
"Itu tidak romantis"
"Ohh," kini dia memikirkan sesuatu, dan rasanya pilingku agak tidak tenang.
"Dia yang kita temui di laut bersama Lilian" kata Diana
"Dan juga preman sekolah yang terkenal itu" lanjut Jey
"Apa apa? Aku masih tidak tahu,"
"Shttttt nanti yang kuning denger" yang kuning?
"Pfft..." Aku geli mendengarnya
"Ada apa Lili?"
__ADS_1
"Bukan apa-apa"
"Hmmm" nah sekarang jika Hanian serius, dengan hatiku yang juga menyukainya, apa sebaiknya aku terima saja? Tapi ini memalukan! Aku ingin bersamanya, aku harus menerimanya kan?! Akhhh ini membuatku gila!!!