
Yang dimaksud dengan Hanian yang bertopeng adalah seperti inilah, sekarang dia tidak tahu malu! Benar, ada banyak topeng, mari kita hitung, pertama lugu, manis dan baik, itulah yang aku pikirkan selama kami tidak pernah bertemu, sekarang dia seperti memiliki semuanya, misterius, senyum yang mengganjal, tatapan dingin, tingkah konyol yang memang sih itu sudah cukup familiar, tapi aku tidak menyangka dia itu mesum!!! Meski kami hanya melakukan kiss, okey dia cukup agresif membuat ku terengah-engah.
"Hah sudah cukup" aku selalu merasa bersalah melakukan ini, bagaimana jika aku tidak menikah dengannya? Rencanaku kan akan memberikan nya pada suamiku kelak!
"Lili atur nafasmu" dia mencium rambutku, gerakannya lembut
"Ahh aku tidak bisa melakukannya lagi!" Kau selalu meminta itu!
"Kenapa? Kau tidak menyukainya?"
"Ah bukan begi,"
"Aku memang tidak begitu berpengalaman, apa aku salah posisi? Apa salahnya? Aku menikmati itu well? Jadi dimana letak kesalahannya?" ya ambisimu itu bodoh!
"Cukup, kau tidak mengerti" hiks Hanian tidak memakai perasaan nya lagi!
"Jadi beri tahu aku, apa salahnya?"
"Aku hanya tidak suka melakukannya sebelum aku menikah" yeah itu akan sangat aman jika secara legal
"Lili apa kau memintaku menikahimu sekarang? Aku bisa, apa kau tidak keberatan meninggalkan sekolah?" Wow rona pipi dan semangat nya yang menggebu, huh? seperti terobsesi saja!
"Apa? Jangan konyol!" Jangan jadi gila Hanian
"Kenapa kau tidak mengerti" ah sedihnya
"Haha maafkan aku, aku mengerti"
"Lalu kenapa?"
"Hanya tidak bisa menahan diri"
"Ishh apa sesederhana itu?"
"Apa? Itu tidak sederhana Lili, yang kita lakukan adalah ciuman, bukan seperti yang dilakukan Xion, bahkan dia bisa melakukan nya dengan sejenisnya" ha? What? Aku baru tahu dia memiliki teman seorang gay! Atau bi? Homoseks? Atau istilah lainnya, aku tidak yakin aku tahu itu
"Akhhh aku tidak suka membicarakan ini!"
"Oh baiklah jika kau tidak suka, tapi jangan merona begitu"
"Aku hanya merasa malu!"
"Haha ini akan menjadi terakhir, kita mulai lagi saat menikah ya?"
"A-apa kita akan menikah?" Jika itu benar, dia sangat gentle!
"Tentu saja" dia mencium keningku
" ... " respon apa yang harus ku buat untuk mentolerir nya?
"Tenanglah Lili, ini benar-benar yang terakhir" dia tersenyum hangat
"Ah kau jangan dekat dengan Xion" dia gay!
"Kau khawatir? Dia tidak akan melakukan itu mengingat sesuatu terjadi saat pertama kali kami bertemu, dia benar benar gila tapi aku cukup bisa menanganinya," ha? Apa maksudnya?
"Apa itu?"
"Lili tidak pantas tahu, kau harus terus polos seperti ini" gumamnya
"Aku dengar itu payah!"
"Ahaha pokonya Lili harus menjadi anak yang baik"
"Kau juga"
"Akan ku usahakan" dia mencium keningku lagi
"Hey!"
__ADS_1
"Haha ini benar benar yang terakhir" mencium kening
"Hey"
"Haha" mencium kening
"Hanian!"
"Benar benar yang terakhir" dan yang terakhir itu mendapatkan tamparan dipipi, dia tidak marah, malah berterima kasih telah menghentikannya. Dia mengaku, kadang jika dia berada disisiku itu membuatnya lepas kendali, bisa dibilang itu masa pubernya, aku mengerti yang satu itu.
...***...
Ah sekarang aku aku dirumah, aku akan segera bersiap untuk membawanya kemari, aku ingin dia juga bisa bersekolah disini, dan tinggal bersamaku, itu sesuatu yang mudah kan? Abell akan menerimanya? Ayah akan mengizinkan nya? Aku akan tahu setelah bertemu. Maka dari itu, karena perjalanan cukup jauh, aku segera pergi dan itu waktu yang kurang cukup untuk beristirahat, hanya pergi kesana, minta izin dan pergi.
"Nona kenapa anda ingin kesana? Apa nona sudah rindu? Memutuskan tinggal disana?" Nah setidaknya dia tidak akan membuat ku bosan, tanpa sadar aku terbiasa.
"Tidak, hanya saja aku akan membawa adikku menemaniku, dia harus sekolah bersamaku, maka aku ingin semua di atur rapih, bisakah itu?"
"Tentu saja nona, apa yang tidak bisa keluarga Rashley lakukan?"
"Aku tidak tahu ada hal yang seperti itu" lebih tepatnya kurang percaya
"Haha nona sepertinya tidak akan begitu membuang uang" kau salah
"Aku sudah banyak membuang uang"
"Benarkah? Nona tidak pergi ke tempat hiburan, ke mall, tidak banyak belanja, hanya selalu secukupnya dan seperlunya"
"Itu buruk?" rasanya kau sedang mengomel
"Tidak, hanya saja,"
"Apa?"
"Nona tidak begitu menikmati bagaimana uang itu menumpuk" oh?
"Sangat disayangkan itu tidak nona manfaatkan"
"Tidak apa, dan kau belum tahu apa apa"
"Saya tahu semuanya nona"
"Hmm kau pasti akan selalu mengatakan kau tahu"
"Haha tapi saya benar benar jujur"
"Baiklah terserah" bagiku ini kalimat pengakhir, tapi untuknya itu tidak masalah, selali ada pertanyaan yang dia lontarkan, kadang juga meminta izin untuk bicara, sangat dramatis, aku akui itu membuatku nyaman sampai sekarang karena pertanyaan ringan seperti itu tidak pernah menggangguku.
"Jadi ini masih panjang?"
"Hmm setengah perjalanan lagi nona" baiklah, kita sudah memakan banyak waktu untuk setengah perjalanan yang kita lewati
"Bangunkan aku, paling tidak aku harus mencoba cara agar ini terasa singkat" dengan cara tidur!
"Haha baik nona"
"Kau sudah terbiasa ya?"
"Tentu saja nona, itu sangat biasa bagi saya dan ini masih bukan apa-apa haha"
"Hebat ya"
"Hmm?"
"Bokongmu itu"
"Ahahaha... Yeah yang pertama itu sulit"
"Benar" dan tidak sampai lima menit, aku sudah tidur, memori terpotong, dan sekarang sudah amat sore, kami tiba disana menembus perjalan selama 4 jam.
__ADS_1
"Ahhh"
"Nona sudah bangun?"
"Ya"
"Kita memasuki pintu gerbang"
"Baguslah"
" ... " aku melihat dari kejauhan ini, ayah ibuku ada didepan pintu masuk.
"Lili" teriak ibuku, dia tersenyum sedang yang satunya datar tapi merona? Hello ayah? Konsep mu itu apa?
"Silahkan nona," dengan sigap supirku membuka pintunya
"Terimakasih" dia hanya menunduk dan mengangguk
"Lili ibu merindukanmu," jujur, untuk ku yang dulu memang begitu menginginkan kehadiranmu, tapi sekarang aku tidak punya perasaan itu.
"Aku juga, ah yang paling penting ayo kita bicara, aku tidak akan lama disini"
"Apa?" jadi mereka menyambut kedatangan ku dengan ini? Makanan yang lezat, tentu saja ada macaron disini, yang paling aku suka.
"Emm ya terimakasih untuk ini"
"Itu bukan apa-apa nak, "
"Jadi apa kamu ingin memutuskan tinggal disini?" tanya ibu
"Tidak" dan raut wajah mereka seakan kecewa
"Lalu apa yang membawamu kemari nak?"
"Singkatnya aku ingin adikku pergi denganku, tinggal dan sekolah disana"
"Kenapa kau membuat pilihan itu? Dia bahkan bukan benar-benar adikmu"
"Tapi dia juga anakmu ayah, kau harus akui itu," siapa yang akan memperhatikan nya selain aku? Harus ada salah satu yang menyayanginya jika tidak dia akan tumbuh dengan mental anak broken home, semua anak terkadang bukan hanya ingin puas secara materi, tapi juga kebutuhan psikologisnya.
" ... " ayah hanya diam, seperti merenungkan sesuatu
"Apa kau keberatan?"
"Tidak jika itu maumu, tapi adikmu tidak seperti yang kau pikirkan, dia cukup terlatih"
"Apa maksudmu ayah? Ah tapi aku tidak peduli, aku hanya ingin membawanya pergi," menjauh darimu dan hidup normal sebagai mana adanya
"Hmm baiklah, aku akan mengurus nya"
"Aku ingin seseorang mengatur sekolah nya"
"Baiklah"
"Lili bisa kah kau menginap malam ini?"
"Tidak bisa ibu, besok aku harus cepat, aku sudah menantikan nya tadi pagi"
"Ah... Jika begitu lain kali saja"
"Ya" hening diantara kami
"Makan lah Lili"
"Ah iya, tolong secepatnya urus itu"
"Iya nak, tapi tolong berhati hatilah dengan adikmu"
"Ya" terserah, memang apa yang bisa anak kecil kurus sepertinya lakukan? Jangan berlebihan.
__ADS_1