
Dia membooking tempat ini, ayahku sangat tampan, ibu juga cantik meskipun dia terlihat pucat, yeah bagaimanapun aku harus bahagia melihat ini, aku tidak boleh benci! Maka dari itu cepat selesaikan dan,
"Nak? Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Ah tidak ada,"
"Lili apa kau merasa nyaman? Bilang saja jika ini membuatmu tidak,"
"Aku benar tidak apa" jangan seperti itu, itu lebih membuat ku tak nyaman
"Baiklah, makan dan buat dirimu nyaman nak" kata ayahku, dan beberapa saat kemudian kami makan dengan tenang disertai alunan musik yang lembut, piano dan biola.
"Boleh aku dengar sekarang?"
"Oh, yeah" ibuku ragu
"Sebenarnya ini hanya kesalahpahaman," sudah kuduga
"Tapi ayah kan menikah lagi?"
"Emm ya itu, itu yang diinginkan kakek dan nenekmu"
"Kenapa?"
"Karena Mama tidak bisa memberikan keturunan lagi," jadi itu seperti
"Lalu ayah menikah untuk melanjutkan keturunan, begitu?"
"Benar nak, keluarga Rashley hanya punya anak tunggal," ayahku anak tunggal ternyata
"Jadi mama sakit apa?"
"Itu, penyakit komplikasi," jadi ibu punya banyak penyakit hmm? Aku tidak tahu
"Kenapa mama tidak bilang?" Aku sangat kecewa
"Ibu hanya ingin kamu menikmati waktu bermain cukup lama," dia pikir aku bersenang senang selama ini? Padahal jika aku dapat memilih, dan tau situasi, aku pasti akan lebih memiliki menemani masa sulitnya
"Nak, ibumu begitu menyayangimu"
"Aku tahu" tapi tetap saja aku kecewa
"Ayah juga,"
"Lalu kenapa baru sekarang,"
"Yah ini sebenarnya memalukan, ibu tirimu meninggal dan memberikan seorang anak laki-laki"
"Kau sekarang punya adik" adik laki-laki hmm?
"Berupa usianya?"
"Aku tidak yakin, mungkin sekitar 5 tahun?"
"Apa ayah tidak memperhatikannya?" Tapi itu masuk akal karena dia Mr.ice
"Sejujurnya aku bukan orang yang banyak memberikan kasih sayang," well itu sudah pasti
"Kapan kami akan bertemu?"
"Besok," cepat sekali tanpa babibu
__ADS_1
"Dan ibu? Apa rencana ibu?"
"Ibu hanya akan terus bekerja dan menerima perawatan"
"Kalau sakit kenapa harus bekerja?" Tanyaku
"Benar, kenapa tidak dirumah saja?" Tambah ayahku
"Siapa yang akan bayar tagihannya?" Ibuku menghela nafas
"Tentu saja aku"
"Apa?"
"Aku tidak pernah meminta apapun pada orang tuaku, aku hanya menerima perintah sebagai mana yang banyak mereka lakukan untukku, jadi aku baru saja minta satu hal, jangan jodohkan aku dan biarkan aku kembali pada istri ku," itu perkataan yang cukup mengharukan, tapi wajah datarnya tidak mendukung!
"Oh apa itu benar?" ibuku sepertinya paham situasi ayahku, aku juga mungkin paham meski tidak semua, kebanyakan itu hanya asumsiku sih
"Ya, aku selalu tersiksa mengingat aku jauh dari anak dan istriku" ohhh itu sangat menyentuh kau tahu? Tapi wajah datar mu bener bener tidak mendukung lagi!
"Sepertinya kau kesulitan, kau orang yang tidak pernah memikirkan dirimu sendiri" kata ibu, mendengarnya membuat itu semua logis, entah polos atau bodoh, ayahku tidak pernah paham apa yang diinginkannya, setidaknya itulah anggapan yang masuk dalam otakku
"Aku tidak tahu emosi apa itu, aku merasa sakit didalam sini, aku bertanya pada dokter, tapi dia tidak menemukan masalah apapun," akhhh ayahku buta perasaan!
"Tapi setelah bertemu kalian, itu akhirnya berhenti," dia merona!!!
"Ayah ibu kembali lah bersatu, jangan pikirkan apapun, aku mendukung kalian," itulah yang bisa aku katakan ketika kedua orang dewasa ini terbelenggu dan tidak menyelesaikan apa yang harusnya diselesaikan, bukan salah ayah dan ibu, mereka hanya anak penurut dan tertekan kewajiban. Lalu faktanya, aku punya seorang adik laki-laki, tidak masalah, hmm aku hanya sedikit berpikir jika itu adik perempuan, aku akan membawanya pada hal yang berkilauan.
...***...
Dinner kami selesai, mereka memutuskan menikah kembali, dan aku tidak begitu peduli, keterikatan ini tidak membuatku peduli, aku sungguh tidak peduli. Jadi dalam waktu dekat nanti mereka akan menikah, lalu fajar tiba menandakan aku akan melewati waktu yang cukup lama, bertemu kakek nenek, dan adik tiri ku. Ibuku tidur di kamar ku, dia menginginkannya karena ingin menebus dosa telah meninggalkanku cukup lama.
"Lili sayang," kecupan lembut dikeningku, aku tidak ingin peduli, tapi itu cukup hangat hingga membuat gejolak perasaan seperti senang, sangat amat senang mendapat perlakuan itu, aku memeluknya erat dan dia tersenyum hangat, seperti itulah ibu yang aku harapkan
"Ya? Ada apa? Apa kau sakit sayang?" Khawatirnya, dia sekarang sedang menjadi seorang ibu impian ku dimasa kecil, hanya dengan begitu rasanya aku akan bisa memaafkan nya, rasanya aku bisa memanfaatkan segala kesalahannya. Ya, aku harus memaafkan nya!
"Tidak, dari pada itu, lebih baik kita bersiap"
"Ahh Lili itu membuat ibu malas"
"Bahkan dengan pernikahan?"
"Ah itu," ibu merona, dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya
"Oh apa ini waktu yang tepat untuk bersantai?"
"Kyaa" "haa?" Kami terkejut dengan kedatangannya
"Apa ini? Kalian sangat menggemaskan," oh ayah ku merona lagi!
"Kami akan siap siap," ibu segera berdiri dan mengajakku
"Ayo sayang, kita mandi bersama," ajak ibu
"Hmm itu sedikit memalukan,"
"Haha apanya yang... oh kau sudah dewasa ya?" dia memasang wajah dingin seperti mengatakan 'sayang sekali'
"Yup," dengan begitu kami mandi ditempat berbeda, ibu berjalan gontai seperti menyesali sesuatu. Disini ada 3 kamar dengan kamar mandi pelengkapnya, 2 kamar utama dan satunya kamar pembantu.
"Hmmm kalian tampak," ayah menilai kami dari ujung kaki sampai rambut
__ADS_1
"Sempurna" dia merona dengan wajah datarnya!!!
"Baiklah, ayo kita pergi,"
"Tidak, kita sarapan dulu," kata ayah
"Benar, ibu harus meminum obatnya,"
"Ohh kalian membuatku malu,"
"Buat apa malu," ayah mencium kening ibu
"Hey!" Ibuku malu
"Tidak apa, aku tidak lihat," ya lanjutan saja!
"Apa maksudmu tidak lihat?" Ayahku terlihat galak
"Ya?" Apa dia tersinggung?
"Kau juga harus mendapatkannya," dia mencium pipiku dengan ekspresi canggung serta rona yang mencolok
"Haha aku tidak menyangka ayahku bisa selucu ini," meski wajahnya datar itu dapat menggelitik hati.
"Apa?" dia menutup setengah wajahnya untuk menyembunyikan ekspresi nya, itulah yang membuatnya semakin lucu. Dan langsung saja, sarapan berakhir, kami dalam perjalanan, cukup lama untuk pergi kesana, membuatku bosan melihat sekelebatan rumah yang dilalui mobil ini. Dan tanpa sadar aku tertidur.
"Lili, Liliana Rashley," siapa? Ibu!
"Aku sedang bermimpi... jangan bangunkan aku! Aku tidak mau..." mimpi ini berakhir
"Sayang" sayang?
"Ya? Ya!" aku terbangun, dan aku sadar itu bukanlah mimpi
"Syukurlah," aku pikir kebahagiaan itu hanya mimpi, aku hampir berputus asa
"Hmm kenapa?"
"Tidak, bukan apa-apa," aku turun dari mobil, dan wow ini besar sekali, lebih besar dari milik Hanian, benar! Apa ini istana?
"Kau pasti terkesan" ayahku membantuku berdiri
"Yeah," lalu terlihat beberapa pelayan, tidak, itu seperti ajudan? Hmm mereka semua laki laki dan setelan jas serba hitam, mereka terlihat rapih dan begitu hormat, keren!
"Itu," aku seperti putri saja ih malunya
"Ya nak, ayo kita masuk," untuk masuk kerumah itu jaraknya pun bukan main, halamannya seperti lapangan.
"Ayo nak," untung kami pergi dengan mobil, ah apa yang aku bicara? Tentu saja dengan mobil, kenapa harus berjalan jauh dari sana? Tapi itu bukan hal yang harus diperhatikan, karena, nah dalamnya saja bak istana, interior rumah ini cukup klasik hingga mendapatkan perasaan bahwa ini rumah bangsawan, gila! Ayahku sangat kaya!
"Kakek nenek dimana?"
"Mereka menunggu di kamar mereka," aku hanya mengikutinya dan aku pikir dengan banyaknya pintu, itu bisa membuatku tersesat!
"Ohhh disini ada kolam renang,"
"Kau bisa pakai itu,"
"Ah begitu,"
"Mama apa kau lelah?" Aku menghampirinya yang terlambat dibelakang kami
__ADS_1
"Tidak sayang," tapi kau pucat!
"Salam pada nenek dan kakekmu Liliana Rashley," cukup mengejutkan, aku seperti baru pertama kali mereka, atau memang ini pertama kalinya? Mereka rapuh, menua dan tua.