
Aku sedang dalam perjalanan pulang, Ini seperti mimpi, hal yang paling kuinginkan dulu, sekarang terwujud. Aku menyukainya, tapi tentu saja tidak begitu sepenuhnya, karena ketidaknyamanan dan rasa suka, perasaan itu tumbuh sama-sama kuat. Aku pikir aku tidak bisa tidur malam ini, tapi ternyata aku tidur pulas tuh. Sampai bermimpi dengan ingatan yang samar, aku hanya ingat perkataan bahwa Hanian sangat bahagia jika aku selalu bersamanya, ini mendebarkan sampai menjelang pagi. Ohh seperti ada bunga yang mekar di hatiku, apa aku terlalu berlebihan? Tapi itulah yang kurasakan. Apa yang harus aku lakukan kedepannya? Jelas ini adalah yang pertama bagiku, bagaimana dengan Hanian? Apakah ini juga pertama kalinya, atau... Dia sudah banyak berganti ganti pasangan? Aku sedikit penasaran.
"Nona?" Bibi terkejut melihat ku yang sedari tadi hanya tersenyum
"Apa sesuatu yang baik sedang terjadi?" Yup benar bi Nina
"Yeah" aku mengangguk tersenyum, dan bibi balas dengan senyuman, sebenarnya pemandangan ini tidak mudah terjadi, karena aku dan bibi jarang tersenyum, senyum kami sedikit langka hihi.
"Nona," pak Andi menghampiriku
"Ya? Ini masih terlalu pagi untuk berangkat sekarang"
" ... " hmm kenapa diam dan seperti ragu akan sesuatu?
"Jadi ada apa?" tuk tuk tuk... Suara ketukan pintu, Hanian?
"Hmm apa itu Hanianku?" gumamku
"Bukan nona," akhh dia dengar gumaman ku!
"Lalu siapa?" Sedikit malu
"A-ayah nona," apa? Sibajingan itu?
"Kenapa dia ada disini? Bukannya ini sudah selesai?" Aku beranjak pergi kedepan untuk memastikan, dan halo.... Mr.ice.
"Liliana Rashley," panggilnya saat kami melihat satu sama lain dengan dingin, nama Rashley didapat darinya, yeah keluarga Rashley, aku dapat marganya.
"Kenapa ay-tidak! Kenapa kau disini?" Aku enggan memanggilnya ayah mengingat betapa kecewanya aku padanya, ayahku George Ruth Rashley yang pernah menjadi bagian dari hidupku dan ibuku Natalie Chloe, dia meninggalkan kami demi wanita lain, benar dia bajingan di hidupku.
"Sepertinya kau tadi ingin memanggilku ayah? Hmm" berwajah datar tidak tampak kasih sayang sedikit pun
"Tidak, aku tidak punya ayah"
"Padahal aku ayah biologis mu,"
"Padahal kau tidak pernah ada untukku,"
"Padahal ada beberapa ingatan bahwa pernah ada kehadiranku di hidupmu,"
"Hentikan itu, menyebalkan"
"Tampaknya kau tumbuh menjadi gadis manja dan tidak kenal takut," heh bicara apa kau? Kau tidak mengenalku sama sekali
"Terserah katamu,"
"Tapi kau adalah anakku, dan kau bagian dari keluarga ku, keluarga Rashley menjadikanmu anggota keluarga kami," lihat itu menjengkelkan, dia tidak tampak tulus, wajah temboknya sangat kokoh.
"Maafkan aku anakku," bahkan dalam meminta maaf dia terlihat tidak tulus!!! Arghhhh rasanya ingin membanting otaknya! Ah tidak, aku jadi durhaka.
"Lalu untuk apa ay, ughh kau kemari?" Sinisku
"Panggil aku ayah," kau tidak tahu malu!
"Tidak,"
"Kau tampak menggemaskan saat marah" hallo? Kau bilang begitu dengan wajah datar mu?
"Apa yang?..." Eh? Dia merona? Mr.Ice merona? Apa aku salah lihat?
"Ah itu tidak," hmm pada akhirnya aku mempersilahkannya masuk dan duduk
"Ini bukan waktu yang tepat untuk berkunjung Mr.ice" gumamku
"Kau panggil aku Mr.ice?" Lagi? Dia merona! Apa ini masuk akal?
"Sepertinya kau sedang sakit," rona wajah mu itu kenapa?
"Tidak, aku hanya senang bertemu denganmu, ekhm ekhm..." Tapi wajah datar mu sekan mengatakan itu kebohongan!
"Hmm,"
"Kenapa kau panggil ayahmu Mr.ice?" Ya apa lagi? Itu karena kau datar, dingin, tembok besi?
"Kau salah dengar,"
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ya... "
"Oh ya aku bawa ini," ohh aku tidak sadar dia membawa bingkisan
"Apa itu?"
"Pakaian" ah yang benar saja
"Lili? Lili?!" Aku spontan berdiri, karena itu suara yang begitu familiar
"Kau!" Ibuku datang setelah beberapa bulan bulan tidak pulang.
"Mama"
"Lilian" ibuku memelukku, ahh hangat.
"Kenapa kau menemui putriku?!"
"Dia juga putriku"
"Kapan dia punya ayah?!"
"Sebenarnya aku tahu,"
"Apa yang kau tahu?"
"Kau tidak benar-benar ada disisinya juga" yeah ayahku ada benarnya
"Apa?!"
"Ayah benar Mah"
"Apa? Lili?" Dia sedikit terluka
"Akhirnya aku dengar kau memanggilku ayah"
"Lili," wajah ibuku pucat
"Maafkan aku ibu," aku gemetar, aku merasa bersalah
"Nak, kau tahu kenapa ibumu begitu pucat?"
"Diam!" jerit ibuku
"Alasan dia tidak bisa pulang,"
"Diam brengsek!" Ibuku manahan tangis
"Dia sedang sakit " air mata ibu mengalir deras, dan aku terpaku dan tidak tahu reaksi apa yang tepat untuk hal yang tidak pernah aku pikirkan ini.
"Aku sudah bilang diam!"
"Dia mempunyai penyakit parah,"
"Ibu?" Aku bertanya tanya apakah itu benar?
"Nak, inilah saatnya kau tahu," tahu apa lagi? Apa ini? Ini tiba-tiba sekali!
"Lili sebaiknya, kau pergi ke sekolah sekarang," perintah ibuku
"Aku," aku bahkan bingung harus bertindak bagaimana
"Kita akan selesaikan ini nanti malam," kata ibu, dia sekarang sangat sangat pucat, apa benar dia sakit? Dan selama ini dia pergi untuk menyembunyikan penyakitnya? Aku tidak tahu, aku bingung.
"Baiklah" turuti saja, apa mau orang dewasa ini.
...***...
"Lilian helloo?" dia Jey?
"Hmm"
"Lilian, kau tidak mau makan? Kita harus kekantin, jam istirahat kan tidak begitu lama" Luna sedang mengingatkan
"Hmm,"
"Hey pangeranmu menjemputmu!" Goda Jey
__ADS_1
"Pangeran hmm?"
"Haha Lilian lucu sekali, apa yang dia pikirkan? Dia tidak fokus mengikuti pelajaran" itu suara Diana
"Ada apa dengan Lili," suara Hanian kan?
"Lili bangun!" Ohh lihat, dia cemberut seperti anak kecil yang merajuk.
"Hmm?" Aku bertanya tanya apa yang dia inginkan
"A-yo per-gi ma-kan" kenapa sikapnya begitu manis?
"Baiklah" Hanian membawaku pergi dengan berpegangan tangan, jadi inilah rasa hampa hmm? Apa yang membuatku bahagia jadi tidak begitu berpengaruh
"Kita mau kemana? Kenapa tidak makan?" Maksudku ke kantin
"Hmm aku sungguh tidak tahan" apa? Ohh dia membawaku ke atap ya?
"Jadi?" Dia membuka pintunya, udara sejuk dan dengan lebih jelas langit yang cerah
"Kenapa kita kesini?" lanjutku
"Aku penasaran, kenapa itu membuatmu tidak fokus, apa ini karena aku?"
"Apa?" Dia sedikit narsis ya sekarang?
"Dan aku punya masalah lainnya," katanya
"Apa?"
"Aku merindukan Lili," dia tersenyum, Hanian begitu indah, rambut pirangnya tertiup angin, kulit putihnya terpapar sinar matahari yang membuatnya semakin bersinar.
"Aku menyukaimu, begitu silau" dan lagi, aku melontarkan kata apa yang aku pikirkan
"Aku juga menyukai Lili" dia tersenyum, anehnya wajahnya semakin mendekat, nafasnya memburu, matanya menyipit.
"Tutup matamu" perintah nya
"Apa yang..." Sekali lagi dia menciumku. Sedikit singkat
"Kalau kau tidak suka bilang saja"
"Bukan tidak suka," lalu mencium ku lagi, dia tampak agresif, wajah kami sama-sama merona.
"Atur nafasmu Lili, kau selalu saja tidak bisa bertahan lama,"
"Apa kau sering melakukan itu?"
"Itu apa?"
"Ciuman"
"Tidak,"
"Kau seperti berpengalaman"
"Tidak mungkin Lili, ah sebenarnya aku tanya teman-temanku, yeah lebih panas mendengar cerita mereka, karena sudah ku katakan, mereka itu playboy" dia tertawa seakan mengingat apa yang terjadi dalam ceritanya tadi.
"Hanian pernah berpacaran?"
"Ap- kenapa Lili tanya begitu?"
"Aku penasaran"
"Hmm aku takut ini membuat mu tidak nyaman,"
"Kau sudah beberapa kali pacaran?"
"Hmm" dia mengangguk
"Oh"
"Lili maaf, tapi sungguh, aku tidak pernah melakukan apapun seperti ciuman, aku hanya pernah melakukannya dengan Lili, dan, dan juga aku tidak pernah mencintai mereka, percayalah padaku!!" ah itu membuatku malu
"Tidak apa-apa Hanian,"
"Lili, kenapa dari tadi suara mu terdengar lemah?"
__ADS_1
"Aku hanya...lapar" kataku tersenyum
"Ohh, baiklah tunggu disini, seperti nya kau tidak sarapan, aku akan belikan makanan ya, tunggu disini jangan kemana-mana!" Jangan protektif Hanian, haha aku tidak tahu kenapa rasanya hampa, apa ini? Aku seperti pernah merasakan perasaan ini di masa lalu.