
Aku senang bertemu dengannya, adik tiriku yang tampan, kepribadiannya sedikit tidak wajar, seperti terlalu banyak tekanan, yeah aku mencoba dekat dengannya karena kesepian itu lumayan menyiksa, dan pada saat ini kami telah baik baik saja, tidak mudah mendapatkan kepercayaannya, tapi semua berjalan baik.
"Oh seperti itu, kau buat sketsa dulu hmm" aku melihatnya menggambar, dan kau tahu? Ini membutuhkan waktu yang lama untuk membujuknya memperlihatkan kemampuannya seperti,
"Kumohon" tanpa hentinya dan dia bilang
"Baiklah" untuk mengakhiri rewelnya diriku.
"Ini mudah kan?" Katanya dengan ceria
"Tidak" aku tidak dapat melakukan itu
"Kenapa?" dia murung, ohhh dia lucu sekali!
"Karena itu bukan keahlian ku,"
"Keahlian?"
"Sesuatu yang kamu lakukan lebih baik dari bidang manapun"
"Apa itu?" ahhh dia tidak mengerti, apa ini yang dimaksud bodoh?hmm
"Adikku,"
"Abell, tolong panggil namaku, tidak ada yang pernah memanggil namaku," yeah itu juga cukup berharga bagiku
"Apa? Kenapa itu terjadi?!! Siapa orang gila yang tidak terpesona denganmu?!" ohh benar ayahku Mr.ice
"Haha aku, sepertinya merasa senang dengan kakak, hatiku sakit disini, apa aku sakit?" Ohh mulai lagi, ayah dan anak sama saja
"Bukan sakit, kamu sedang merasakan emosi"
"Emosi?"
"Seperti marah, bahagia, sedih, itulah emosi"
"Apa aku bahagia? Karena aku merasa senang?"
"Itu benar," lalu dia menunjukkan sederet gigi putih, itu senyuman yang tulus.
"Aku ingin membuat sketsa wajah mu" tampak antusias
"Benarkah? Itu bagus!" Aku yakin dia bisa jadi seniman besar
"Tapi aku tidak pernah melakukan itu, apa aku bisa membuat sketsa wajah kakak?" Tentu setiap orang ada keraguan untuk mempercayai kemampuan mereka sendiri terlepas apa yang dipikirkan orang sekitar
"Tentu saja"
"Kenapa kakak yakin?"
"Karena aku percaya kemampuan mu"
"Ah terimakasih," dia merona lagi
"Kenapa? Kenapa? Kenapa hmm? Abell sangat menggemaskan ya" wajahmu akan merah seperti tomat kalau kugoda lebih lanjut hihi
"Aku hanya senang, seseorang mempercayaiku,"
"Haha aku akan seperti itu kedepannya," dia mengangguk bahagia meski matanya selalu ragu untuk menatapku
"Cobalah sekarang,"
"Ah itu, aku ragu akan mirip dengan kakak"
__ADS_1
"Itulah permulaan,"
"Aku takut tidak bisa menangkap cantik nya kakak"
"Tunggu! Apa aku cantik?"
"Hmm sangat cantik," dia tersipu malu dengan polosnya
"Dari mananya yang cantik?" Aku penasaran apa pendapat nya
"Kulitmu putih seperti kapas yang lembut, rambut coklat yang hangat, matamu cantik, bibir kecil kakak juga imut," bibirku? What the
"Imut? Bibirku imut? Apa yang dikatakan anak ini?" gumamku
"K-kenapa, apa aku salah?"
"Tidak ada yang salah," hanya saja kau kekurangan sisi kemanusiaan, kurang sopan, itu seperti ucapan orang mesum.
"Hmm?"
"Hah sudahlah, kau tahu? Harusnya hari ini aku sekolah,"
"Sekolah? Apa itu tempat yang menyenangkan? Aku pernah mendengar tapi tak pernah melihatnya" apa?
"Abel kau, tidak pernah sekolah?"
"Tidak, makanya aku tanya apa itu menyenangkan?" ayah bodoh! Bagaimana anak ini menjadi pintar jika dia tidak sekolah?!
"Kenapa tidak sekolah?"
"Apa sekolah menyenangkan?"
"Sekolah tempat yang memusingkan, cukup, jawab aku sekarang, kenapa tidak sekolah?"
"Kenapa Abel tidak suka?"
"Aku suka kakak menyebut namaku,"
"Ahaha jadi?"
"Dia sangat galak dan banyak hal yang dikerjakan jika dia sedang mengajar,"
"Belajar apa?"
"Matematika, fisika, kimia, bahasa"
"Itu banyak sekali," timpalku
"Cara membunuh, cara menembak, cara... "
"Hentikan! Kau... "
"Haha makanya aku tidak suka," apa yang dipelajari anak ini? Itu sangat ekstrim
"Aku berharap kamu akan selalu menjadi anak baik, semoga tetap begitu, jadi itu bercanda kan?" sedikit berharap itu adalah lelucon
"Apa?"
"Tentang cara membunuh?"
"Aku tidak akan membohongi kakak, tidak akan pernah, karena ini sangat aneh, aku merasa nyaman untuk pertama kalinya,"
"Akhh tidak, kenapa belajar hal itu?!!" Aku mengerang kesal
__ADS_1
"Tapi kak,"
"Ya?"
"Sekarang sepertinya aku punya tujuan,"
"Hmm itu terdengar bagus, jadi apa itu?"
"Untuk melindungi kakak, aku akan belajar lebih keras dalam kelasnya" semangatnya, apa?!!!
"Sebenarnya kenapa Abell belajar hal mengerikan begitu?"
"Sebelumnya untuk membantu ayah, tapi sekarang aku bertujuan untuk melindungi kakakku yang lembut, sepertinya kakak orang yang mudah terkena bahaya" dia terlihat bangga, dan sedih jika kemungkinan bahaya akan menimpaku
"Hah? Aku tidak paham adikku, kenapa membantu ayah? Dan kenapa ingin melindungi ku? Kau bahkan lebih kecil dariku" ayolah jangan bercanda!
"Ayah kan bos mafia, kenapa sepertinya kakak tidak tahu itu?" aku membeku, dan menilai kenapa kenyataan itu ada dalam hidupku, mafia kan bukan sembarang organisasi penjahat yang mudah, meskipun berhadapan polisi nyatanya mereka merauk kekayaan yang gila, jadi, ayahku?
"Kau jangan bercanda, ayo katakan itu hanya bercanda!"
" ku tidak suka berbohong, aku menyadarinya,"
"Akhhh ayahhhhhhh" aku menjerit, dan beberapa kumpulan berdasi berdatangan, mereka terlihat panik.
"Tuan muda, apa ini?" Salah satu dari mereka menodongkan pistol ke arah Abell dengan sinis dan menakutkan, aku yang melihatnya pun gemetar dan mematung
"Kakak kenapa?" Dan Abell juga terkejut
"Apa yang salah? Aku buat kesalahan apa?" Paniknya
"Jangan bergerak tuan muda!" Peringatnya
"Hey t-tuan, jangan ganggu adikku!" itu berakhir, ayah datang setelah beberapa saat, dia memberi tatapan dingin pada adikku, adikku hanya diam dengan mata menyala seperti binatang, dan aku sedang menilai apa yang terjadi hari ini. Ayah menuntunku ke kamar, aku masih tidak bisa membuka mulut sampai beberapa helaan nafas panjang.
"Kau mafia?"
"Iya" lihat dia datar sekali, dia tidak menyangkalnya
"Mafia suka membunuh orang dengan kejam,"
"Benar, yang paling kusukai adalah menguliti sampah, merasa pantas mendapatkannya" dia malah membicarakan kegemaran gelapnya, dasar manusia berdarah dingin!
"Jangan bicara santai seperti itu bukan apa-apa!" ku marah sekarang
"Kenapa? Itulah yang terjadipada sampah," itu menyakitkan meski hanya mendengarnya, aku bisa membayangkan dia, ayahku membunuh orang dengan membabi buta, aku mulai mual sekarang
"Tapi bagaimana jika ayah yang dalam situasi itu?"
"Mati, tentu saja jika tidak ada perlawanan" dia sepertinya tidak takut mati
"Jika ada perlawanan ayah akan selamat?"
"Aku tidak tahu, aku tidak keberatan untuk mati" akhhh dia psikopat gila!
"Ka-kalau begitu, bagaimana jika itu terjadi padaku?"
"Siapa yang berani? Akan kubunuh dia! Tidak, itu tidak seru, aku harus menyiksanya secara perlahan sampai dia merasa kematian adalah impian terbesar nya," hisss merinding, ayahku membuktikan dia sangat sangat sangat berbahaya, aura membunuhnya begitu terasa meski aku berkata seandainya.
"Aku mau tidur saja, dan jika ayah tidak memperdulikan Abell, tolong jangan membuat dia kesusahan... "
"Yah jika itu maumu"
"Bagus, sekarang tinggalkan aku sendiri," aku membaringkan tubuhku, dia mengecup keningku dan pergi, ronanya tidak pantas untuk pria berdarah dingin sepertinya
__ADS_1
"Istirahatlah" baiklah, aku menghadapi kenyataan, inilah fakta fakta mengejutkan yang terungkap, itu sangat mudah karena sebenarnya tidak ada yang disembunyikan, aku yakin berada disini beberapa hari saja semua yang tidak kutahu akan mudah ku ketahui. Aku berhenti berpikir dan terlelap siang ini.