Married To My Childhood Friend

Married To My Childhood Friend
Eps. 30 Sebaiknya aku tidak tahu


__ADS_3

Sepertinya Abell sudah kenyang, dia sudah menyerah memasukan semua makanan kedalam mulutnya.


"Haha apa kau suka?"


"Sangat suka!" matanya yang kekanakan itu muncul dengan mudahnya


"Baguslah"


"Lili, kau tidak mau menonton pertandingan yang lain?"


"Kau saja, aku tidak tertarik"


"Kalau Lili tidak, aku juga tidak"


"Kak jangan dekat dekat dengan dia, "


"Oh?" Abell mencengkeram bajuku dengan kuat, aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya ada masalah.


"Kalian ini sebenarnya punya masalah apa?"


"Apa? Masalah? Tidak ada!" gelagatmu menunjukkan bahwa kalian memang ada masalah


"Apa itu katakan saja!"


"Hal sepele"


"Jadi kalian pernah bertemu dimana?"


"Lili, "


"Aku tidak suka sebagai orang yang tidak tahu disini"


"Lili, ini... "


"Ayolah kenapa? Aku hanya ingin tahu, huh Abell sebenarnya apa yang terjadi, "


"Dia berbahaya kak, aku melihatnya me-hmmpp"


"Shttttt tunggu Abell" dia membekap mulut Abell


"Aku, saat sedang dalam situasi tak terkendali aku harus melakukannya"


"Melakukan apa?"


"Tindakan lanjut hehe"


"Aku tidak mengerti,"


"Kakak, dia itu gangster" hahhhh aku menghela nafas panjang


"Jadi dalam situasi ini aku harus apa? Teriak? Lari? Sembunyi?" Ayah mafia, pacar gangster, itu sama gilanya kan?


"Tentu saja tidak perlu, karena aku tidak akan menyakiti Lili,"


"Kau mengaku ya?"


"Tidak ada yang harus disembunyikan"


"Aku harap aku tidak tahu"


"Baru saja kau memaksa"


"Aku memang bodoh," aku cemberut


"Haha Lili, kau sangat imut dengan wajah seperti itu"


"Kakak itu bukan wajah aslinya, dia itu selalu memasang wajah tanpa ekspresi bahkan ketika melihat darah,"


"Apa hubungannya dengan darah?"


"Ah Lili kau tidak harus tahu hal itu"


"Dia membunuh seseorang, "


"Bagaimana kau bisa lihat?"


"Karena kami ada pada kesepakatan yang harus diselesaikan" kenapa ini membuat ku pusing?


"Lili, " Hanian yang selalu berusaha menyela


"Kenapa dia melakukan itu?"


"Penghianat"


"Siapa?"

__ADS_1


"Manusia itu" ahh ini seperti omong kosong


"Kan? Lupakan saja Lili"


"Hahhh baiklah, aku akan biarkan ini" mengingat aku yang selalu tidak benar benar dapat menyikapinya


"Nah, sudahlah ayo kita pergi!" ajak Hanian


"Ya"


...***...


Aktifitas sekolah sudah berakhir, dan itu akan berlanjut besok untuk final. Hanian dengan Tim nya berhasil mempertahankan poin, jadi mereka akan main besok.


"Lili, aku akan mengantarmu pulang,"


"Hmm"


"Tidak! Tidak perlu!" well, mereka masih dalam keadaan yang tidak begitu baik


"Maaf Hanian, Abell tidak biasa dengan orang baru, aku pergi bersama supirku" kebetulan dia sudah nampak di depan mata, Abell tersenyum dengan kenyataan itu.


"Bagus, ayo kak"


"Hmm" Hanian seperti memikirkan sesuatu, dia tidak memaksa karena mungkin dia menyadari itu tindakan sia sia


"Oke masuklah Abell, "


"Baik"


"Ohh aku hampir lupa! Pak kita ke mall, "


"Baik nona, apa nona akan menghabiskan uang?" kenapa dia seperti senang begitu?


"Mungkin"


"Hmm seperti nya nona akan menghabiskannya dengan tuan muda, "


"Kau memang jeli pak, akan akan traktir nanti ya, kau tidak boleh menolak!"


"Haha siapa yang berani menolak permintaan nona" haha dia tidak tahu malu, tapi sepadan dengan apa yang dilakukan demi keluarga ku, khususnya untuk ku, dia perhatian.


...***...


"Kakak, apa ini bagus?" beberapa baju sudah


Abell coba kenakan, semuanya bagus!


"Sangat bagus, cocok untuk mu"


"Kak, ini baju yang ke 17, ini sudah banyak"


"Memangnya ada manusia yang hanya punya 17 baju"


"Ada"


"Siapa?"


"Bahkan mereka cuma punya satu baju, gelandang, orang gila,"


"Baiklah baik, kau memang pintar menjawab adikku"


"Nah apa kita selesai?"


"Tidak"


"Hahhh" itu pertama kalinya dia menunjukan ketidak sukaannya terhadap sikapku, aku mengerti namun tidak bisa berhenti.


"Pak sopir, kau sudah memilih?"


"Ah anu"


"Apa?"


"Saya tidak enak hati"


"Kau maunya apa?"


"Ah saya.." dia pasti malu


"Apa ya yang bisa aku berikan padamu? Dasi? Sepatu?"


"Haha nona, saya tidak membutuhkan nya"


"Atau sebuah mobil?"

__ADS_1


"Ap-apaaa?!!!"


"Mau?"


"Buk-tidak nona, jangan yang seperti itu"


"Ice cream"


"Nona bercanda"


"Lalu apa yang kau mau pak?"


"Emm, gaun untuk istri saya?" untuk apa itu?


"Ambil" terserah, tidak ingin tahu.


"B-benarkah?"


"Ya! Ambil!"


"Terimakasih Nona" dia terlihat bahagia


"Haha aku senang melihat dua orang ini bahagia" gumamku


"Kakak sudah ya? Ini sudah lebih dari 26"


"Pfft... Baiklah," setelah itu, kami makan bersama, awalnya supirku menolak, karena kasta kami berbeda, tapi memang nya manusia punya perbedaan harga diri? Tidak kan? Itu hanya untuk sebagian orang yang punya banyak gengsi.


"Kakak, kenapa kakak banyak memakan itu"


"Udang? Aku suka ini, kau?"


"Aku suka semuanya"


"Dak kau pak sopir?"


"S-saya suka semua makanan" baru kali ini aku melihat sikap malu-malunya


"Omong omong pak, kenapa kau memberikan gaun untuk istrimu? Apa dia sedang berulang tahun?"


"Benar nona, saya ingin hadiah yang berarti meski saya tidak disisinya"


"Kenapa tidak disisinya?"


"Anu... "


"Pekerjaannya bukan hanya sopir kak"


"Ohh, kau butuh uang?"


"Itu tidak seperti yang nona pikiran"


"Itu tidak semudah itu kak"


"Kenapa hanya kalian berdua yang paham disini?"


"Kami kadang menjadi partner" kata Abell


"Ahaha itu benar"


"Partner untuk apa?"


"Bekerja untuk ayah"


"Mafia, yang suka melakukan ini dan itu, ayahku melakukannya kan?"


"Benar nona"


"Aku ingin tahu detail nya"


"Sepertinya lebih baik nona tidak tahu" ya, dia benar


"Aku sebaiknya tidak tahu, benar, karena tidak ada rugi dan untungnya juga hmm"


"Kakak makan ini juga!"


"Ya baiklah"


"Kakak minum ini, ini rasanya enak!"


"Ohh benar"


"Kakak... "


" ... " aku memutuskan untuk menutup telinga agar tidak mengetahui apapun, itu karena aku tidak tahu bersikap, bukankah cukup tenang jika kehidupan normal ini hanya milikku, tidak sepenuhnya normal akan tetapi setidaknya tidak dengan mafia, gengster, dan lainnya yang belum ku tahu. Jika dulu aku memikirkan kehadiran orang tuaku, sekarang aku lebih ingin tenang dengan hubungan tulus teman-temanku, adikku, dan cinta pertamaku yang aneh secara kan dia memang gangster. Aku berharap tidak ada yang disesali dan tidak harus ada penderitaan lain untuk membayar kehidupan ku dengan orang orang tulus itu.

__ADS_1


__ADS_2