Married To My Childhood Friend

Married To My Childhood Friend
Eps.22 Adik tiriku tampan


__ADS_3

"Oh jadi dia cucuku," nenek terlihat galak, sungguh menakjubkan dengan wajah itu beliau membuat ekspresi sinis


"Apa yang lucu?"


"Ohh maaf kan aku," tanpa sadar aku tertawa ringan


"Aku sudah bertekad,"


"Yayaya terserah, kau lamban sekali memang,"


"Apa?" aku bertanya tanya apa maksudnya itu


"Aku tidak menyarankan mu untuk cerai dengannya, hanya minta kau menikah dan banyak banyak berkembang biak," apa nenekku orang yang bicaranya seperti itu? Berkembang biak? Itu bukan kata yang tepat


"Ibu, ini bukan salah George, itu adalah salahku"


"Tidak Natalie," oh hentikan itu seperti drama!


"Jangan begitu, aku memang meminta untuk berpisah,"


"Ya aku yakin kau tidak sanggup melihat suamimu menikah lagi,"


"Itu tidak,"


"Aku tahu, hanya saja rencananya gagal, gadis itu meninggal beberapa bulan kemarin, dan meninggalkan anak nya yang suram" yang suram? Adik tiriku?


" ... " Sedangkan aku melihat yang ku terka itu kakekku, dia berbaring disana dengan bantuan alat medis, banyak kabel dan selang.


"Ohh, dia sedang dalam masa koma, sepertinya itu tidak akan lama," ayah ibu tampak sedih mendengarnya


"Tidak akan lama apa?" Kakek bangun dengan susah payah


"A-ayah,"


"Dimana cucuku? Dia cucuku?"


"Ah benar" apa yang harus aku lakukan? Menangis karena rindu? Atau apa? Aku bingung!


"Kemarilah, aku sudah lama ingin bertemu," benarkah kau ingin bertemu? aku menghampiri nya, kakek membelai rambutku dengan tangan yang tidak bertenaga, aku kasihan melihatnya.


"Siapa namamu nak,"


"Liliana Rashley,"


"Itu cukup manis cucuku, kau tumbuh dengan cantik,"


"Te-terimakasih?" apa ini cukup?


"Ayah tidur lah lagi"


"Kau tahu itu akan memperparah penyakit kan?!" omel nya


"Tapi ayah,"


"Diamlah aku sedang bersama cucuku,"


"Sayang kau harus istirahat," nenek sangat manis dalam menangani suaminya


"Aku kan,"


"Istirahat jika ingin cepat sembuh!" wow ternyata galak juga


"Ah baiklah,"


"Jadi sejak kapan ayah jadi begini?" Ohh ayah tidak tahu ayahnya sakit?


"Kemarin hujan, dia bermain hujan dan jadilah begini," astaga itu kekanakan dan sangat tidak logis


"Aku kan hanya ingin mandi hujan,"


"Lihat, kau kan sudah tua!" teriak nenek, hmm seperti nya nenek masih berenergi


"Berapa umur mereka ya?" gumamku, rambut putih dan kulit keriput


"Ibu 60" bisik ayahku


"59!" Kata nenek, oh pendengarannya baik


"Itukan sama saja"


"Tidak sama, apa kau bodoh" Baiklah jangan bertengkar, kalian seperti melawak


"Ayah 80"


"Anak ini! Aku kan 75!" Sama-sama punya pendengaran yang baik


"Tapi kan sama sama tua" ayahku yang datar, tidak bisakah kau tidak melawak hari ini?!


"Mereka bisa dengar bisikan?"


"Tentu saja, karena Indra pendengarannya sangat tajam, itu tidak begitu normal kan?" yah tapi itu menguntungkan. Dengan begitu, perbicangan ringan terus berlanjut, hingga makan siang telah tiba.


"Jadi setelah ini aku akan bertemu adikku?"

__ADS_1


"Terserah"


"Apa? Kenapa terserah?"


"Aku tidak mencintainya" apa maksudnya?


"Ayah tidak pernah memperhatikannya?"


"Benar"


"Kenapa?"


"Aku tidak mencintainya"


"Itu gurauan apa itu haha"


"Aku tidak pernah bergurau"


"Lalu siapa yang memperhatikannya?" Ayah kau amat sangat jujur


"Aku tidak tahu, aku bekerja, tidak punya waktu, dan tidak akan pernah ada untuknya,"


"Ayah kau jangan jahat,"


"Aku tidak suka melihatnya,"


"Ayah!"


"Kalian jangan bertengkar," ibuku terlihat pusing melihat kami


"Jadi dimana aku bisa menemuinya?"


"Aku tidak tahu... Kau, kemari"


"Ya tuan," ohh aku tidak sadar ada beberapa pelayan berdasi disini!


"Antar Lilian menemui adiknya nanti,"


"Baik tuan,"


"Aku ingin pergi sekarang"


"Tapi makananmu,"


"Aku tidak lapar" aku ingin tahu kondisinya, ayah bilang dia tidak mencintainya, tidak peduli padanya, jadi aku penasaran.


"Mari nona,"


"Kenapa kau tidak memperhatikan anakmu?"


"Siapa?!" Wow galak sekali, dia begitu waspada, seperti anjing kecil yang ketakutan


"Kau sadar ada seseorang dibelakangmu ya?"


" ... " Kenapa diam?


"Aku hanya ingin melihatmu,"


"Kenapa?"


"Berbaliklah aku ingin melihatmu"


"Kenapa aku harus menuruti mu?" oww adik kecil, kau seperti ingin perang saudara saja


"Aku sedikit tersinggung, bagaimana kau bisa begitu sinis, kita baru saja bertemu"


"K-kau siapa?" oh dia tergagap


" tentu saja kakak tirimu,"


"Kakak?" dia segera berbalik ke arah ku dengan wajah panik


"Aku minta maaf, aku sudah tidak sopan, tolong jangan hukum aku!" ahh mengejutkan, kenapa kepribadiannya begitu?


"Kenapa aku harus menghukummu," ayah, apa dia adikku yang berusia 5 tahun? Kau sangat payah!


"A-aku telah bertindak tidak sopan padamu," dia gemetar


"Ya, itu membuatku sakit hati" godaku


"Tolong ma-maafkan aku..." dia menangis!


"Tidak tidak tunggu! Kenapa kau sangat berlebihan," perilakunya sangat aneh, dan oh ada sketchbook dan pensilnya di bawah sana


"Emm kau sedang menggambar?"


"Ah itu, tidak pantas kakak lihat" wow dia merona


"Kemarilah adik kecil, siapa nama mu?" dia mendekat perlahan dengan ragu


"Abell"


"Abell Rashley?"

__ADS_1


"Abell Avellino"


"Oh, kenapa tidak Rashley?"


"Aku, aku tidak termasuk dalam keluarga ini,"


"Jika kau tidak termasuk kenapa kau disini? Dan berapa umurmu?" Aku mengecilkan diri dengan berlutut sambil tersenyum


"A-aku tidak tahu, mungkin umurku 2 tahun?" Kenapa dia ketakutan? Apa aku menyeramkan? Dan bagaimana bisa anak sebesar dia berumur 2 tahun? Aku bisa mengira dia berusia 7 atau 8 tahunan mungkin? Hmm aku juga tidak yakin


"Kau pasti punya catatan kelahiran, jangan khawatir," aku memegangi pundaknya dan dia menepis secepatnya


"Apa? Kenapa?" Aku terkejut dan sedikit tidak nyaman karena itu


"A-aku aku aku ti... aku salah" dia menunduk ketakutan


"Adikku kenapa kau ketakutan? Aku ingin tahu itu," aku memeluknya dan seketika tubuhnya tegang dan kaku


"Apa yang? Apa yang kakak lakukan?! Kakak tidak pantas menyentuh ku!"


"Aku tidak pantas menyentuh mu? Apa aku begitu hina?" Ishh itu menyakiti hatiku


"Bu-bukan kakak tapi aku," oh tidak! dia meneteskan air mata


"Ayah bilang dia tidak peduli padamu kan?"


"Hmm" dia mengangguk dengan wajah basah karena air matanya


"Dia itu orang bodoh jangan pedulikan dia"


"Eh?"


"Eh kenapa? Benar kan?! Dia bodoh karena tidak bisa melihat betapa tampannya adikku ini," aku memeluknya dengan gemas


"A-apa aku tampan?" Merona


"Ohh tentu saja," Hanian yang paling tampan


"Tapi ayah tidak menyukaiku"


"Kenapa?"


"Karena aku anak yang bodoh"


"Tidak benar, lihat kau menggambar dengan indah,"


"Itu kan hal yang mudah," mudah apanya? Aku saja tidak bisa menggambar bunga dengan indah


"Ahaha kamu tidak tahu? Bidang ini tidak begitu banyak di kuasai banyak orang,"


"Ka-kakak berbohong ya?"


"Mana mungkin, hmm maukah kau menemaniku? Aku juga tidak punya teman," sebenarnya sekarang ada hihi


"Kakak tidak punya teman?"


"Hmm yeah"


"Kenapa?"


"Aku tidak tahu caranya berteman" lihat binar matanya, itu seperti mengatakan bukan dia satu satunya yang kurang bersosialisasi


"Kakak akan tinggal disini?"


"Tidak,"


" Kenapa?"


"Aku punya rumah dan sekolah,"


"Tapi ini kan rumah kakak," imutnya, dia kebingungan


"Maukah adikku ini pergi ke rumah ku sesekali?"


"Apa boleh?"


"Tentu saja,"


"Maksudku ayah,"


"Dia akan mati jika melawan hehe"


"Ayah kan menakutkan"


"Dia itu hanya Mr.ice"


"Apa itu mr.ice?"


"Seseorang yang memiliki wajah datar dengan dukungan kepribadian dingin, seperti itulah"


"Ahahaha aku tidak tahu, tapi kedengarannya lucu,"


"Oh kau tertawa,"

__ADS_1


"A-aku tidak," matanya bergetar seperti ketakutan yang amat sangat, jadi aku juga penasaran, kenapa dia seperti itu


"Aku sedang jika kau Abell, tertawa seperti itu," aku memeluknya karena tidak tahan dengan wajah lucunya yang kebingungan.


__ADS_2