Married To My Childhood Friend

Married To My Childhood Friend
Eps.17 Hanianku dimasa lalu


__ADS_3

Baik, inilah yang terjadi, dimana aku di bawa seakan di culik saja, aku harus dengar apa maksudnya ini. Tak lama kemudian dengan rasa bosan yang menggerogoti hati ini, dengan sabar menanti untuk menunjukkan aku memukulnya. Kami memasuki gerbang rumah yang lebar dan tinggi, dan didalamnya terdapat rumah besar dengan desain sederhana namun elegan, luas dan hijau tanpa bunga sebagai tanaman yang menghias halaman, jadi ku lihat si gulali tersenyum di teras rumahnya, oh benar, dia CEO muda, lihat gayanya sekarang huh.


"Memangnya ini pantas?" Aku terus menggerutu, apalagi dalam pikiranku sudah terdapat gunung berapi yang siap meledak.


"Selamat datang nona ku yang cantik," godanya


"Diam kau gulali bodoh," aku menghampirinya secepat mungkin


"Hmm?" Dan segara


"Menunduk kau tiang!"


"Sekarang aku di panggil tiang?" tawanya, ya kau tiang sekarang


"Hmm," aku tersenyum dan segara memukul kepalanya


Duakkk!!!


"Wo-wow apa ini? Kau kira ini tidak sakit?!"


"Hmm" aku mengangguk


"Kau anak kucing yang nakal,"


"Apa apa apa?!!!"


"Oh yeah, aku tahu kau marah, maaf"


"Hmph" bagaimana bisa aku mencintai anak nakal ini? Arghhhh tapi Hanian yang dulu memanglah tipeku, polos dan manis.


"Kenapa kau tersenyum" dia mencubit pipiku


"Hey!"


"Ayo makan"


"Aku sudah ma,"


"Aku belum, temani aku ya," dia santai sekali ya, dengan kaus pink, oh tentu saja itu manis kawan, kau menjeratku lagi ya ha. Aku menendang kakinya karena dia seperti mempermainkanku.


"Hey, janganlah marah lagi okey?"


"Ya ya"


"Lili kau benar tega padaku?"


"Tentu,"


"Oh ini tidak berhasil ya," sekarang nadanya seperti tuan muda jahat yang ada di film-film!


"Aku tidak nyaman,"


"Kau suka sekali mengeluh ya," matanya sayu dengan aura dingin tanpa perasaan


"Ya, kenapa? Kau masalah?" Aku orang yang tidak suka menunjukkan kelemahanku


"Oh Lili, apa kau sungguh tidak sadar? ini kan bukan saatnya kau bersikap seperti itu, ini rumahku, aku bisa menguncimu disini hmm" ishh mengerikan, betapa takutnya aku jika dia benar jahat.


"Oh tentu, dengan begitu aku akan membencimu" tantangku


"Dan tentu juga aku tidak berani jika Lili membenciku," sekarang wajahnya ceria lagi, Hanian yang aneh.


"Kau aneh,"


"Iya dan itu belum seberapa, ayo kita masuk" dia mendorong bahuku dengan pelan menuju ruangan, lihatlah, sangat mewah ternyata, warna dinding putih tulang dengan bunga-bunga yang tak tampak jelas, lalu furnitur yang mewah.


"Kau terkesan?"


"Hmm" aku hanya mengangguk

__ADS_1


"Kalau kau mau, ini akan menjadi milikmu, syaratnya hanya," dia berhenti, dia ingin aku bertanya?


"Hanya?"


"Tinggalkan disini, disisiku" mata Hanian seakan menyala, senyumnya menakutkan, seperti ada suatu obsesi.


"Tidak, aku juga punya rumah meskipun tidak sebesar ini,"


"Hmmm lupakan saja hidup mandirinya," dia tidak tahu kalau ibuku tidak pernah pulang, aku sendirian di rumah, dia tidak tahu alasannya kan.


"Tidak Hanian"


"Hmm ini kesempatan bagus untuk lebih dekat Lili," dia terus menawarkan hal yang tidak perlu


"Sungguh, terlalu luas juga akan membuatku merasa kesepian Hanian," dia memandangku dengan dingin, tapi matanya seakan mengatakan dia dan aku adalah orang yang sama sama kesepian, sesama kesepian kenapa tidak bersama saja? Begitu yang kukira.


"Kau tahu maksudku kan Lili?"


"Tentu,"


"Jadi bagaimana?"


"Hmm tidak," dia memasang wajah tak suka


"Apa kau setuju berpacaran denganku?" Kali ini ceria lagi


"Aku tidak tahu," dia benar benar mengubah ekspresi semudah membalikkan lembar buku


"..." Dia membeku


"Dengar, aku memang menyukaimu Hanian, tapi sikapmu membuat niatku tercegah, membuat hati nurani ku terjaga,"


"Aku kan tidak akan menyakiti Lili," benar, aku juga merasa dia tidak akan menyakitiku, ini membuatku tak bisa berpikir jernih, hatiku menjerit mencintainya, disisi lain ada rasa takut dan tidak ingin merasakan ketakutan itu.


"Aku ragu satu hal,"


"Apa?"


"Kenapa sekarang tidak?" Dia misterius, untuk itu aku tidak suka, rasanya jangan sampai terikat dengannya


"Kau bukan Hanianku yang dulu,"


"Apa yang dapat membuatmu berubah pikiran?"


"Aku ingin Hanianku yang lugu dan manis," tanpa sadar aku menangis, perasaanku benar benar merasakan dimana dia di masa lalu sangat mengikatku, anak yang ceria, cerah dan selalu gembira apapun keadaannya.


" ... " Saat itu Hanian berusia 7 tahun, sedangkan aku berusia 6 tahun, satu tahun lebih muda darinya. Dihari yang cerah dimana aku sedang tidak ingin sekolah karena beberapa masalah dengan temanku, aku pergi ketaman bermain dekat sekolah, saat perjalanan menuju tempat itu, aku melihat tubuh kecilnya yang sama denganku, dia diganggu teman temannya, dengan hasil yang pasti karena anak itu punya kawanan sedangkan dia sendirian, Hanian mendapat beberapa pukulan, dan akupun bertanya.


"Kenapa kau bisa berurusan dengan meraka?" Kataku sambil mengulurkan sapu tangan, itu terlihat seperti aku yang menyedihkan.


"Oh itu hanya masalah kecil," dia tetap tersenyum


"Aku baru melihatmu,"


"Ohh aku anak baru, dan sepertinya mereka tidak suka denganku,"


"Kenapa?"


"Aku lebih banyak akrab dengan teman wanita dari pada teman laki-laki, mereka tidak suka aku dekat dengan teman wanita, itu mengganggu mereka"


"Ohh," aku berpikir dia pasti lemah


" Kau mau berteman denganku?" tanyanya sedikit ragu


"Apa?"


"Bertemanlah denganku, mau kan? Mau kan?!" dan terlampau antusias


"Hmm kau mau aku belikan sesuatu? Kau butuh uang? Aku punya banyak uang," kataku, karena teman-temanku yang lain sedang menghindariku

__ADS_1


"Apa? Kenapa kau seperti itu, jangan lakukan itu, itu bukanlah ketulusan," katanya


"Lalu bagaimana?"


"Bermainlah denganku," katanya dengan senyum manis, aku rasa wajahku memerah, dia sangat manis dengan mata biru yang cerah, rambut pirang yang lembut, dengan kulit putihnya yang indah.


"A-aku, aku bukanlah orang yang pandai bersenang-senang, kau akan bosan," seperti mereka


"Apa maksudmu? Kita tidak akan tahu jika tidak melakukannya, ayo kita bermain bersama," benar, dia menunjukkan sesuatu yang berbeda, membawaku pada warna warna baru, bermain ayunan, membuat istana pasir, memasang puzzle, main rumah-rumahan.


"Aku menjadi ayahnya,"


"Oh kalau begitu aku jadi anaknya"


"Tidak Lili, kau jadi ibunya"


"A-anaknya mana?"


"Boneka beruang mu itu,"


"Ohh ini bisa jadi anak?" Hanian mengangguk


"Untuk jadi keluarga, kita harus menikah"


"Hmm?"


"Aku ingin menikah dengan Lili, aku harus membuat cincin dulu, tunggu ya!"


"Hmm? Baiklah lakukan sesukamu," dia tampak kesulitan membuatnya dari tanaman


"Oh kenapa aku kesal?" itu karena selalu hancur Hanian


"Tidak usah Hanian"


"Tunggu saja Lili,"


"Baiklah" beberapa menit kemudian dia berhasil


"Maaf Lili ini sedikit kacau,"


"Tidak, itu cantik ko," sebaiknya dia tidak sibuk dengan rumput lagi


"Kau suka?"


"Aku suka,"


"Aku senang Lili menyukainya," dan astaga dia selalu tersenyum manis, kami menghabiskan waktu seharian, dan mendapat fakta bahwa kami satu kelas, saat aku sakit, ternyata dia sudah ada disana, dan kami berteman baik saat ini, sayangnya teman temanku yang menjauhiku tidak menyukai itu, mereka juga mengasingkan Hanian. Ini salahku


"Huhu ini salahku,"


"Tidak Lili, ini bukan salahmu"


"Kau seharusnya tidak berteman denganku,"


"A-aku senangnya dengan Lili!!!" Dia berteriak meyakinkan


"Be-benarkah?"


"Ya! Mereka tidak seru, menghabiskan waktu dengan banyak banyakkkkk sekali bicara, itu membosankan!"


"Terimakasih Hanian"


"Aku janji kita akan selalu bersama selamanya"


"Hmm hmm" aku mengangguk gembira


"Jangan sedih Lili" lalu satu bulan berlalu menyenangkan, namun yang paling menyakitkan, percaya bahwa dia tidak akan meninggalkanku.


"Haha dia sendirian lagi,"

__ADS_1


"Tuh kan, dia memang ditakdirkan untuk sendirian" apa benar begitu? Hanian?


__ADS_2