Marry Din

Marry Din
Part 10


__ADS_3

Delia tertawa bahagia saat melihat banyaknya hadiah pernikahan. Tidak pernah ia sangka bahwa hari pernikahan itu sesuatu yang menyenangkan meski ia harus banyak menahan diri.


"Hadiah dari Saras," Delia langsung membuka kotak hadiah Saras. Dan betapa gila sahabatnya memberikan hadiah-hadiah menuju medan perang.


"Ini baju persiapan perang!" Saras juga tidak lupa menulis ucapan indah.


Tidak enak meninggalkan Din seorang diri di kamar hotel. Delia langsung mandi dan berganti pakaian - piyama tidurnya. Meski ia lelah pun tidak mungkin menolak perintah suami. Bagaimanapun hal-hal yang ia takutkan itu cuma bayangan semata.


Delia mengunci pintu kamar sebentar, ia juga sudah menyemprot parfum dan memastikan bahwa malam pertama itu tidak menakutkan. Apalagi itu dengan Din.


Delia menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan sambil membuka pintu, "Din... "


"Kamu mau manggil suami kamu dengan namanya terus?" bisiknya.


"Panggil Sayang coba sekarang."


"Sa...yang?" Delia agak malu tapi ia tetap menurut.


Pukul dua pagi. Mereka masih duduk. Delia merasa malu karena ini merupakan pertama kali baginya. Dia juga ingin berasumsi bahwa itu pertama juga bagi Din.


"Kamu lagi ngak mikirin ini juga pertama kali bagiku kan?" tanya Din.


"Kamu bisa menebak isi pikiranku sekarang..."


"Sayangnya kamu salah, aku minta maaf untuk itu."


Delia memeluk Din, ia tidak mempermasalahkan hal-hal terkait masa lalu. "Aku tahu orang itu adalah bagian dari masa lalu kamu dan alasan kenapa kamu sering merasa bersalah sebelum pernikahan kita."


Mereka bertatapan lama. Din tidak menyangka Delia memiliki sisi kedewasaan yang mengesankan.


"Sayang?" Delia menggodanya sedikit.


Bergejolak dengan cepat. Din baru memahami kenapa orang-orang yang menikah bilang malam pertama itu indah jika bersama orang yang tepat.


"Sayang... "


Din langsung mengangkat tubuh istrinya dan membaringkan di bawah tubuhnya. Mereka berciuman lama sehingga tidak menyadari deringan ponsel milik Din.


"Mau lebih lama lagi?" tanya Din. Ia membuka tali kimono piyama milik Delia dan menemukan bahwa bentuk tubuh istrinya memukau. Kulit putih dengan balutan pakaian tidur yang memacu gairah liarnya bangkit. "Aku minta maaf. Kalau sakit kamu boleh teriak atau langsung pukul aku... "


Delia menggenggam kedua tangan Din dengan erat dan mengecup bibirnya, "Iya... "

__ADS_1


Saling bertatapan meski kikuk. Delia menahan kesakitan beberapa kali hingga pagi hari dan membuat tidurnya lebih lama.


Siang hari pukul satu. Delia membuka mata perlahan dan memastikan bahwa ia tidak bermimpi semalaman karena rasa sakit di beberapa titik tubuhnya baru terasa lebih sakit saat ia bangun.


"Ah, ini bukan mimpi," Delia melihat seseorang yang masih tidur pulas dalam selimut. Kedua tangan Din bahkan masih melingkar di perut Delia.


Yang pertama ia cari adalah ponsel. Ada dua ponsel yang tergeletak di meja sudut. Delia langsung membuka ponselnya dan menemukan pesan monohok Saras, "Bagaimana malam liar kalian? Baju perang yang gue siapin keren kan?"


Delia belum mau membalas pesan siapapun, ia masih kelelahan dan susah berjalan. Tapi ia mendapatkan notifikasi yang menarik dari ponsel Din. Tiga panggilan tak terjawab Rasti saat mereka sedang menghabiskan pagi yang bergairah.


"Apa maksud dia?" Delia heran. Ini sesuatu yang janggal tapi menyebalkan melihat sikap Rasti sekarang.


"Apa?" seseorang menjawab dari balik selimut.


"Bangun, Sayang." Delia mengusap lembut wajah sang suami.


"Lima menit lagi," balasnya.


Delia menatap heran. Memang tidak jauh berbeda dari Din yang biasanya ia lihat saat mereka belum menikah.


...****************...


Sore hari.


"Papa kok kangen Delia ya? Padahal kalian belum berangkat bulan madu ke Eropa." Suara merengek Pak Indra membuat Delia gemas. Ia baru sehari menjadi istri orang padahal.


"Papa ini kadang lebay tapi aku juga kangen sarapan bubur sama Papa..."


"Baik-baik ya sama suami kamu, jangan berantem. Sekarang kepala keluarganya Din loh bukan Papa lagi."


"Siap, Pa."


Setelah Papa mematikan telepon. Delia masih enggan beranjak dari sofa hotel yang nyaman. Tapi seseorang masih tidur dalam pangkuannya.


"Bangun dong," Delia berbisik kepada Din.


Din perlahan bangun, tidak terasa sudah sore dan ia berhasil menebus jam tidur yang hilang saat lembur menyelesaikan pekerjaan sebelum pernikahan. "Argh... "


"Makan sana. Kamu tadi cuma minum susu dan makan buah apel."


Ia masih menatap sang istri. Seperti percaya tapi juga tidak percaya. "Aku yakin banget kamu semalam menangis. Aku minta maaf lagi ya."

__ADS_1


"Hmm... " Delia masih menyembunyikan rasa sakit yang luar biasa, ia tersenyum ramah. Tapi ada satu pikiran licik yang mulai terbesit semenjak pagi tadi. "Stamina kamu luar biasa, tapi staminaku ada batasnya."


Din merasa tak enak, ia langsung memeluk Delia. "Maaf Del, kamu pasti kesulitan. Ini satu sisi laki-laki yang harus kamu tahu juga. Aku janji... Kalau kamu bilang berhenti, aku menurut."


Delia melirik sinis, "Ingat ya. Semalam, eh, nggak, udah pagi... "


Kali ini ia malu tapi ia juga harus mengakui. Bagaimana bisa Delia yang belum disentuh siapapun di masa lalu mampu menuruti kegilaannya. "Kamu beneran keren."


Giliran Delia yang malu, "Udah ya, malam ini enggak. Kita kan harus siap-siap mau berangkat."


Din menyandarkan kepalanya lagi di paha Delia, ia juga terus menatap wajahnya. Wajah yang tidak asing tapi baginya sesuatu mulai terasa berbeda, "Kamu ternyata super cantik. Aku baru sadar sekarang."


"Hmm... " Delia masih sibuk menjelajahi aplikasi belanja online.


Merasa sedikit diabaikan, Din juga membuka ponsel yang sejak kemarin malam ia acuhkan. Tidak peduli siapa saja yang menelepon atau mengirim pesan. Tidak ada yang boleh menganggu malam pertama pernikahannya.


"Kenapa?" tanya Delia. Ia melihat ekspresi wajah Din berubah begitu menatap layar ponsel.


"Nggak... " Din menyender ke bahu Delia. "Sayang... Bruno kritis. Tengah malam Rasti nelfon buat ngabarin ini."


Wanita itu.


Delia tidak tahu harus berkata apa, ia hanya menepuk bahu Din. Sambil mulai berpikir bagaimana bisa mantan kekasih sang suami ingin mengusiknya. Selama ini, ia tenang dan tidak ingin melawan. Tapi, tidak kali ini.


Lelaki urakan sepertinya bahkan memiliki hati hangat. Ia sangat menyukai binatang selain tokek yang menjadi prioritasnya untuk diselamatkan. Kucing pertama yang ia pelihara bernama Miko. Jangan berpikir, Miko adalah kucing jantan. Nyatanya Miko adalah kucing betina yang memiliki banyak keturunan.


"Aku masih ingat betapa legendaris Miko sebagai kucing pertamamu... "


"Keturunan Miko kan masih ada, Minie. Aku nggak mau Bruno menyusul Miko... "


Ada pertanyaan yang sejak dulu terpendam dalam pikiran Delia. Mungkin saat menikah tidak masalah untuk bertanya. "Kenapa kamu namai kucing betina dengan nama kejantanan contohnya Miko dan Alfonso?"


"Kenapa ya? Aku ingin mereka jadi kucing tangguh." Jawabnya dengan bangga.


"Hahaha."


"Beberapa kucingku punya KK (Kartu Keluarga) loh... "


Serius. Delia tidak bisa menahan lagi tawa. Ia juga tidak paham sistem kekeluargaan kucing.


Ponsel Din terus berdering. Masih orang yang sama yang menganggu obrolan mereka. Bagaimana bisa seseorang terang-terangan ingin mengacau. Delia tidak akan diam seperti kemarin. Ia juga tidak berniat menangis. Terbentuk menjadi lebih kuat karena keadaan.

__ADS_1


"Berpikirlah, Delia!"


Bersambung...


__ADS_2