
Pagi hari pukul enam. Delia datang membawa bubur ayam kesukaan Papa dan Mama. Ia juga ikut menyiapkan sarapan.
"Din biasanya bangun jam berapa?" Papa bertanya karena penasaran.
"Tergantung, Pa."
"Kayaknya dia bangun lebih pagi dari Delia." Mama mengingat saat menantunya bangun pukul empat pagi. "Din bangun jam empat pagi langsung ke dapur."
"Haha, alami sekali, ya? Dia memang harus diurusi dengan baik." Ucap Papa sehabis menyantap seporsi bubur ayam.
Setelah menyelesaikan sarapan. Mereka perlahan beranjak pergi. Papa langsung sibuk dengan kegiatan UAS, Mama yang harus berangkat lebih pagi. Delia berperan menutup pintu. Melepas kepergian mereka satu per satu hingga berlalu.
Rasa seperti ini. Ia sering minder dengan kenyataan. Karirnya tidak semulus orang lain. Delia sudah melamar sepuluh perusahaan. Nihil. Yang bisa ia lakukan dengan benar hanya mencintai Din.
"Kok bengong?" Bi Surti membawakan teh jahe kesukaan Delia. "Lagi kangen rumah ya, Mbak Delia?"
Delia memeluk Bi Surti sebentar, "Banget, Bi. Bang Ryan belum pulang?"
"Katanya Abang lagi ada pekerjaan tambahan di luar kota."
Delia tidak antusias lagi. Setelah menengguk habis teh jahe, ia berpikir untuk belanja sayur. Mengobrol dengan Mas Jarot mungkin memperbaiki mood meski dia sering kepo. Akhir-akhir ini, Saras juga disibukkan dengan jadwal perilisan novel baru.
Mas Jarot lewat. Beberapa ART di kompleks Andaro siap berburu sayuran segar. Delia menahan Bi Surti, ia ingin berbelanja sendiri.
"Semenjak nikah jadi bangun siang, begitu, Bestie?" celetuk Mas Jarot membuat beberapa orang yang sedang belanja tersenyum kecil.
Delia terkekeh sendiri. Memang dia menjadi sedikit malas bangun semenjak menikah karena seseorang sering menahan tubuhnya dengan berbagai alasan; masih pagi, ingin tiduran lagi dan jangan lepas pelukan.
"Gimana, Mbak Del? Mas Din pasti OP ya?" (Over Power)
Sekumpulan ART mulai tertawa, bagi mereka yang sudah menikah sudah tidak asing lagi.
"Mantap lah, kata gue, Mas." Delia asal menjawab sembari memilah daging ayam, bumbu dapur dan cabe rawit.
Beberapa orang yang tadi berisik mendadak diam. Seperti ada seseorang yang berdiri di belakang Delia. Dari bayangannya saja sudah terlihat jelas.
"Mau masak apa?" Din melingkarkan tangannya di leher Delia tanpa rasa malu.
"Hem," Mas Jarot berdeham, ia gemas dan merasa cemas sebagai jomblo veteran. "Jangan bebucinan kalian!"
"Pasti belum niat punya anak dulu, Mas Din?" tanya seorang.
__ADS_1
"Nggak. Kami nggak menunda itu kok, Bi. Kami rajin setiap hari...Hehe." Din mengatakannya dengan santai tanpa peduli Mas Jarot yang menatap sengit.
Delia menyikut lengan Din, "Kamu udah seperti circle bapak-bapak Andaro yang sering nongkrong di gardu."
"Jarot pasti sedih banget, dia kan dulu mau nikah tapi batal. Mantan pacarnya milih merantau dan berkarir di Jakarta... "
Ah, Delia jadi teringat kisah cinta Mas Jarot yang tidak biasa.
"Kenapa, Mas? Seriusan gue baru denger nih." Din tampak antusias. Ada juga celah kesedihan dari orang yang ceria seperti Mas Jarot.
Mas Jarot mengambil tisu saku dari jaketnya, ia jadi teringat. "Ini kejadian menyakitkan. Pokoknya pas banget Bl*ckpink rilis lagu mereka "As If It's Your Last... "
Delia dan Saras sudah mendengar kisah cinta pilu yang menggelitik itu sejak mereka SMA. "Gue nggak sanggup denger lagi."
"Kami berpacaran lama, dia adalah cinta pertamaku. Saat melamarnya, aku pikir kita memang takdir. Ternyata itu salah. Orang tua kami berunding dan mencocokan weton. Katanya, jika kami menikah, hidup kami akan miskin. Sejak saat itu, dia berubah. Dia ingin menggapai cita-cita, menjadi biduan nasional. Sialnya, itu benar terjadi... Dia lolos audisi kontes dangdut TV, lolos babak lima besar. Setiap malam, aku mendukungnya dengan memberi vote lewat SMS dan aplikasi."
"Dia bukan seseorang yang bernama Susan, kan?'' Din berbisik bertanya.
Mas Jarot tersenyum haru, "Ternyata kamu fans Susan juga."
"Kamu jadi suka nonton dangdut?" Delia menyeringai, "Kok, aku baru tahu?"
"Tony, Sayang. Aku pernah nemenin Tony buat salaman sama Mbak Susan."
...****************...
Delia mendapat pesan dari Mama, ia harus mengantarkan dokumen penting yang tertinggal di meja kerja. Rapat penting sedang berlangsung di hotel terdekat kantornya.
"Kamu udah sampai lobi?" tanya Mama melalui panggilan telepon.
"Hm, iya. Mama suruh seseorang datang ke sini, ya. Aku akan tunggu."
"Baiklah, Sayang. Tunggu sekitar lima menit, anak buah Mama akan datang. Terima kasih, anak cantik."
"Yeah, Bu Direktur. Aku jadi bisa jalan-jalan siang berkat Bu Direktur. Hehehe."
Lima menit kemudian, salah seorang anak buah Mama datang mengambil dokumen. Tidak banyak percakapan terjadi -- mereka mungkin sibuk.
Ia melanjutkan langkah. Menuju kafe hotel. Delia tidak lupa untuk memberi kabar kepada sang suami. "Aku abis nganterin dokumen Mama. Sekarang lagi mampir di kafe hotel XX."
Din langsung membaca pesan, meski tidak langsung membalas.
__ADS_1
Terkadang, ada saja yang menganggu pikiran. Semenjak menikah, ia memang merasa bahagia karena Din, tetapi ia juga terkadang insecure. Menantu lain dari keluarga Sjarier begitu unggul. Berbeda dengannya. S2 pengangguran. Membayangkan saja sudah ngeri jika ada yang bertanya tentang kenapa.
Delia masih mengotak-atik sedotan sambil menatap sekitar. Tidak ada orang yang ia kenal maupun Saras kenal. Koneksi pertemanan mereka hampir sama.
Tiba-tiba seorang pelayan kafe datang membawa buket bunga, "Ini ada hadiah buat Mbak yang cantik."
Delia menatap dalam, "Dari siapa?"
Suara ping dari ponselnya. Ia langsung membaca pesan. "Coba lihat sekitar bar kafe."
Delia menemukannya. Ia hampir menangis karena sebal. Bisa-bisanya pesan yang ia kirimkan hanya dibaca. "Dasar jahat!"
Din berjalan cepat sambil membawa makanan yang ia pesan khusus -- Delia tidak terlihat baik sejak pagi.
"Sebenarnya, aku juga ada di kafe ini dengan Bang Taki, editor senior. Dia udah pulang duluan." Din sedang menjelaskan situasi. "Aku lihat ada cewek yang sangat cantik lagi gabut nih di lobi hotel."
Din sudah melihatnya sejak di lobi. Delia kembali tersenyum untuknya. "Terima kasih, Sayang."
"Hari ini kamu banyak cemberut,'' Din menyeka keringat di dahi Delia. "Apa yang menganggu pikiran? Bukan karena aku pernah nemenin Tony ketemu mantan Mas Jarot, kan?"
Delia menggeleng, "Nggak... Bukan itu... "
"Coba ceritain kenapa. Kita udah kenal sejak bocah kecil. Jangan meremehkan kepekaanku ya soal kamu, Del."
"Aku merasa minder karena masih menganggur."
"Astaga!" ucap Din seraya menepuk dahinya. "Itu bikin kamu bad mood?"
"Lihat menantu lain di keluarga kamu kan unggul. Aku sendiri merasa malu, aku juga takut kamu malu."
Din berpindah posisi duduk menjadi di sebelah Delia, "Sama sekali nggak bikin malu. Istriku kan cantik banget dan pinter masak. Aku harus berterima kasih sama Papa Indra yang mengijinkan anak kesayangannya jadi pendamping hidupku."
Delia menyenderkan kepalanya di bahu lebar Din sambil tangannya memegang buket bunga. "Ternyata yang dibilang cewek-cewek pas SMA itu benar, ya? Kamu itu lelaki idaman."
Spontan wajah Din memerah, bahkan telinganya juga. Tiba-tiba saja Delia menggodanya. Ia berusaha mengontrol diri dan tidak mungkin menerkamnya di ruang publik.
"Kita pesen kamar sekalian. Nanti malam nggak usah tidur di rumah manapun."
Delia terkekeh, ia paham situasi.
"Pokoknya pulangnya besok siang!"
__ADS_1
Bersambung...