
"Huft... "
Satu kata yang mewakilinya saat membuka mata di pagi hari. Masih berada dalam jajahan pelukan erat suami, ia tidak bisa berkutik. Selain harus mandi pagi, keramas dan bersiap untuk sarapan. Ada satu keinginan Delia yang tertahan sejak awal pernikahan -- membuka ponsel Din. Ia belum pernah melakukannya.
Takut. Delia menutup matanya terlebih dahulu lalu berani membuka beberapa pesan yang masuk dalam ponsel suaminya. Satu per satu, ia baca teliti termasuk pesan yang diarsipkan.
Bang Taki
Lo, nanti nggak usah ngantor. Kerjaan tim udah beres, cuy! Thanks.
Antony Brot
Gue pinjem jaket Gu**i lo besok buat kondangan sama Bang Edi.
Rasti Andriani
Papa, ini video Bruno dan Runo pas lagi lucu-lucunya🥰. Sayangnya hubungan kita udah nggak bisa sedekat dulu.
Odette
Jangan bikin aku tertawa lagi dong, Din.
+62877*******
Anak haram kaya lo pantas mati!
Delia menaruh ponsel Din ke tempat semula. Ia masih sibuk mengatur pikiran. Siapa Odette? Siapa pengancam Din? Terlalu banyak kejutan di pagi hari. Ia belum bersiap untuk berperang. Rasti seharusnya sudah sadar kalau ia kalah.
Din terbangun karena ada tetesan air mata Delia yang jatuh mengenai bahunya. "Kenapa, Sayang?" ia menyeka air mata Delia.
"Ternyata... Aku nggak tahu apa-apa tentang kamu."
"Kamu bicara apa, Delia?" Din menatap serius, ia juga memeluk erat. "Kamu itu segalanya bagiku sekarang."
"Aku mau ke rumah sebentar... " Delia perlahan melepas pelukan suaminya.
"Kamu pasti lagi bete, ya?'' Din mencoba mengerti perubahan mood tiba-tiba Delia.
Delia menyambar cardygan milik Din lalu beranjak pergi ke rumah. Setiap langkah yang ia lalui menjadi terlalu nekat. Mengatur pikiran untuk tetap tenang tidaklah mudah. Situasinya tidak mengisyaratkan hati tentram.
"Benarkah ini kehidupan setelah pernikahan?" ia bertanya dalam batin.
"Siapa Odette? Din kan nggak suka nonton film Barbie sejak kecil."
__ADS_1
"Ambigu... "
"Pusing... "
"Mau muntah... "
Begitu sampai di rumah. Delia langsung mengunci kamar. Ia tidak ingin diganggu. Menyendiri adalah hal terbaik yang membantunya bertahan menghadapi keadaan. Masalah rumah tangga, tidak boleh ia bagikan sembarangan. Bagaimana jika perkataan orang sekitar itu benar, "Jangan menikahi tetangga sendiri. Pamali."
Hal yang pertama Delia lakukan adalah mendengarkan musik sebagai perwakilan emosinya. Lagu yang mewakili jiwa.
"Udah sepuluh lagu... " Delia masih merasa ada perasaan menggelitik. Biasanya, ia tidak mudah membawa perasaan. Semenjak menikah, perubahan emosinya kentara. Tidak seperti Delia yang dulu.
Beberapa jam berlalu.
Din tidak mengirim pesan atau menyuruhnya pulang. Delia semakin kalut dalam perasaan yang entah seberantakan apa. Apa seorang istri pantas mencurigai suami berselingkuh padahal baru sebulan menikah? Apa ini benar?
"Bisa-bisanya Din membuat orang lain tertawa dan membuatku meneteskan air mata... "
"Odette itu siapa, Ton?" tanya Delia kepada Tony melalui panggilan telepon.
Tony yang sedang duduk santai bersama teman bengkel tersontak kaget, "HAH? Odette?"
"Gue tanya karena penasaran, ada nama Odette di hape Din."
Delia tidak mendapatkan jawaban pemuas rasa penasarannya. Tidak ada orang di sekitar mereka yang mempunyai nama panggilan Odette. Tapi hal serius yang menganggu pikirannya adalah ancaman pembunuhan yang diterima Din.
"Kenapa dia menyebut Din anak haram?"
...****************...
"Woy, Jelek!" seseorang berteriak di depan kamar dan berusaha untuk mendobraknya. "Buka pintu atau gue dobrak!"
Delia membuka pintu dan menemukan sosok yang tidak lain adalah Bang Ryan. Ia datang membawakan aneka makanan kesukaan Delia.
"Cil, ini ada batagor terenak di Andaro. Ada juga es coklat kesukaan lo. Oh iya, tadi gue mampir beliin kentang mekdi juga, nah kebetulan Mang Jedor si tukang pentol lewat tuh... "
Tidak kuat menerima kebaikan dari sang kakak, Delia langsung menyalami tangan Bang Ryan. "Abang... "
"Bagi Abang, Delia itu tetaplah adik kecil. Abang juga ikutan bete kalau kamu bete." Bang Ryan merangkul Delia, ia membawa sang adik ke ruang tengah.
"Abang nggak bisa bantu banyak. Kalau ini masalah rumah tangga, mendingan lo berunding sama Bapak Din Sjarier. Yang bisa Abang lakuin sebatas ini."
Ia tetaplah sama. Seorang kakak yang menjaga adiknya. Sejak dulu, ia adalah orang terpeka selain Papa yang mampu mengembalikan mood Delia. Bang Ryan sampai pernah beli bakso tengah malam -- insiden saat Delia putus dengan Lucky.
__ADS_1
"Delia itu... Adik gue yang paling cantik dan baik. Jangan menyakitinya apalagi membuatnya menangis." Bang Ryan pernah mendatangi Lucky, ia tidak memukul wajah seseorang ataupun berkelahi. Ia hanya menjalankan kewajiban sebagai kakak.
"Semua makanan ini enak," ucap Delia setelah menghabiskannya.
"Kalau enak kenapa wajahmu kelihatan sedih?"
"Akhir-akhir ini, gue banyak berpikir, Bang."
Bang Ryan memegang pundak Delia, "Jangan banyak berpikir, jalani. Lo udah memutuskan jadi istri Din."
Sebenarnya, Bang Ryan terkejut mendengar rencana pernikahan Delia dan Din. Yang pertama ia takutkan adalah apakah mereka sanggup bertahan lama? Kenapa ia belum sepenuhnya rela? Padahal Din adalah orang terdekat keluarga.
Di bengkel, Din sedang menonton acara hiburan di TV. Ia disuruh Tony untuk datang. Dalam ruangan istirahat bengkel, ia seorang diri sedang membenahi pikiran. Memikirkan perubahan sikap Delia pagi tadi. Seseorang menangis untuknya di pagi hari. Dan dengan bodohnya, ia tidak meminta maaf.
Kenangan mulai menghantui malam yang ia lalui tanpa Delia. Ada beberapa pesan ancaman kematian yang ia dapatkan sejak lama. Din memilih diam, ia sudah tahu siapa pengancam. Jika ia bertindak akan memperumit keadaan. Ia menyembunyikan dengan rapat, mungkin hanya Tony yang tahu.
"Apa yang sedang kamu lakukan sekarang, Del?'' gumamnya pelan sambil merindukan pelukan Delia.
Tony dan beberapa orang sedang menonton acara dangdut dan melakukan voting. Begitulah kehidupan beberapa bujangan dan bapak-bapak muda kurang kerjaan. Din mengecualikan diri. Ia memilih untuk mentransfer uang ke Tony, "Lo voting sendiri, Ton. Jangan ganggu semedi gue."
Tanpa terasa waktu memikirkan Delia membuatnya tertidur lelap di ruang istirahat bengkel. Bengkel modifikasi mobil elit milik Bang Edi juga merupakan langganan selebriti dan pejabat terkenal dalam negeri.
"Buka pintu, woy!" Tony setengah berteriak. Ia harus membangunkan Din karena sebentar lagi bengkel harus buka. "Kami mau mengusir nyamuk."
Din setengah sadar, ia membuka pintu.
"Makan sendiri!" Tony menyodorkan sebungkus bubur ayam. "Minta disuapin istri lo."
Matanya mulai berkaca, "Gue... Kangen istri... "
"Di bengkel nggak ada modelan Delia."
Din kembali mellow, ia bersandar di pintu, "Semalam tanpa Delia, gue bener-bener hampa, Ton."
Tony tidak peduli, "Tapi gue lihat lo seperti kembali ke masa bujangan lagi."
"Orang yang belum menikah nggak akan paham."
Din kembali menutup pintu. Ketika ia membuka ponselnya, ada pesan yang lebih mencekam datang.
+62877*******
Mau ketemu sama ibu kandung lo nggak?
__ADS_1
Bersambung...