
"Mau ketemu nggak?"
"Hmm, ada waktu cuma di siang hari."
Din mematikan ponsel, ia harus bergegas mandi tapi ada kegaduhan yang bercampur tawa. Ia berjalan menuju balkon dan melihat Delia melemparkan sebungkus oncom ke wajah Lucky.
"Dia enerjik di pagi hari ya?" Din tersenyum dan ia pun pergi melihat kejadian.
Setelah berdamai, Delia merasa puas. Ia meminta maaf karena menyebar kebohongan kepada tukang sayur. Mas Jarot menjadi saksi damai.
"Hei," Din mendekat, ia merangkul Delia di depan Lucky. Sengaja ingin menambah amarah seseorang. "Hei, Boo. Jangan marah-marah kalau pagi hari dong kasihan Lucky kan?"
"Lucky duluan kok," jawab Delia cepat.
Din mengusap keringat di hidung mancung Delia, "Lucky kan iseng."
"Sudah gue duga kalian bakalan sampai ke tahap kaya gini." Lucky tidak terlalu marah ia juga sudah menikah.
"Makasih ya, Luck. Gue mau bawa calon istri pergi dulu."
Delia yakin Din hanya bersandiwara. Tatapan mata dingin tanpa emosi, ia memang sengaja membuat panas Lucky.
"Cukup,'' Delia melepas pegangan tangan Din. "Aku mau bantu masak dan nanti bikin kue. Kamu suka kue apa sekarang?"
"Kue yang kita makan saat kecil."
"Oke, nanti aku buatkan."
Mereka pun berpisah.
Din menepati janji untuk bertemu Rasti. Siapa sangka bahwa Rasti begitu terpuruk, sahabat baiknya bahkan mengirimkan video saat Rasti menangis. Mendengar berita pernikahan Din dan Delia.
"Aku ingat kenangan kita... " Rasti menunduk, ia malu karena matanya sembab karena masih menangisi Din.
"Aku nggak sangka kamu sehancur ini. Aku minta maaf."
"Aku masih cinta kamu, Din. Meskipun sering bertengkar, perasaanku itu tetap tertuju untuk kamu. Hanya kamu seorang."
"Iya, aku tahu betul. Tapi itu nggak merubah fakta aku tetap harus menikah dengan dia, Ras."
Rasti menggenggam tangan Din erat, "Kenapa kamu nggak mau perjuangin aku sekarang? Bukannya aku juga calon menantu yang pantas buat keluarga kalian?"
Din sendiri masih tidak tahu harus bilang bagaimana. Ia sudah pernah menjelaskan, harusnya Rasti itu cerdas dan langsung memahaminya. Nyatanya cinta bisa mengalahkan logika.
"Aku merasa jadi cowok paling sampah sekarang. Iya, aku memang masih cinta sama kamu. Tapi, ketika hubungan dijalani tanpa restu itu menakutkan, Ras."
__ADS_1
Rasti menatap tajam Din, "Apa kamu sudah tidur dengan Delia? Apa dia hebat, Din? Bilang coba!"
"Aku akan bicara lagi lain kali saat kamu udah nggak emosi. Jaga dirimu, Rasti." Din menyentuh bahu Rasti.
"Mata kamu nggak bisa menipuku, Din. Kamu pasti nggak lupa dengan momen ulang tahunmu? Apa aku harus jelasin ke Delia biar dia menyerah dan jangan coba ambil milikku," Rasti memegang tangan kanan Din.
"Aku nggak menyangka kalimat itu keluar dari mulutmu. Aku kecewa."
"Kamu tetap mencintaiku, Din. Kamu bisa menceraikan Delia suatu saat."
Din tidak memukul wanita. Semarah apapun, ia akan diam terlebih dahulu dan menyalurkan di tempat yang tepat, samsak tinju.
"Jadi lo itu masih cinta Rasti kan?" tanya Tony heran. "Berapa kali coba kalian bertengkar putus lalu nyambung. Lo nggak capek? Gue dengarnya aja udah males, Bro."
Lelaki itu juga merasa masih terjebak masa lalu. Rasti adalah cinta pertama Din saat SMA. Gadis pintar, anggota OSIS yang sering memberikan pidato perwakilan angkatan.
"Dia satu-satunya yang menganggap gue laki-laki biasa."
"Padahal catatan lo luar biasa, Din. Dua tahun ini lo dapat banyak poin, skorsing. Ajaibnya... Lo bisa liburan ke Melbourne saat skorsing." Tony bergidik karena kagum dengan koneksi keluarga Din.
Tidak ada yang menduga sosok berandalan yang tengil itu mampu menaklukan Rasti. Beberapa laki-laki di sekolah justru lega, dia tidak berpacaran dengan Delia.
"Mau makan dulu nggak?" Din juga sering datang ke kelas Rasti.
"Yah, sayang banget. Padahal aku itu batalin janji sama Tony loh." Din iseng memainkan rambut Rasti. Tentu banyak mata menatap sengit.
"Hadeh... " Saras yang lewat juga menghela nafas melihat tingkah Din.
Saat itu, Delia berbeda kelas dengan Saras. Terkadang mereka berpapasan tidak sengaja.
"Sepatu lo kotor, Del."
Delia langsung mengecek sepatu, "Nggak tuh. Bersih kaya yang punya dong!"
Din menikmati momen saat menjahili Delia. Ekspresi wajah jengkel yang membuatnya semakin iseng padahal ia sedang bersama Rasti. Ia menarik ikat rambut Delia dan tertawa lepas.
"Din!" Delia semakin kesal tapi ia harus menahan diri. "Tolong kembalikan ikat rambut gue, Din."
"Nggak mau tuh," ucapnya sambil menjulurkan lidah.
Delia tidak ingin memperumit. Jika di lingkungan rumah, ia pasti akan menghajar Din. Tapi melihat Rasti menatapnya dengan tatapan awas membuat Delia sedikit takut.
...****************...
Menuju hari pemotretan pre-wedding.
__ADS_1
Delia sudah membicarakan dengan Din konsep foto yang ia inginkan untuk acara pernikahan. Tidak menginginkan sesuatu yang terlalu formal. Family party baginya sudah cukup. Bahkan Oma Aliyah pun setuju. Ia menyeleksi kerabat dan kolega terdekat keluarga Sjarier.
Persiapan untuk pernikahan ditangani WO besar yang biasanya menjadi langganan para pejabat dan selebriti. Delia juga sudah melakukan fitting dua gaun pengantin. Yang pertama gaun berwarna putih untuk akad dan yang berikutnya gaun yang lebih casual untuk acara malam hari.
"Baru kali ini lihat calon pengantin begitu mandiri ya?'' Desainer gaun pengantin bahkan baru sekali bertemu Din.
"Kak... " Delia mengenal dengan baik desainer terkenal bernama Inez, kekasih Bang Ryan. "Kak Inez... "
Inez memeluk Delia, "Kenapa Del? Kamu kok sedih gini?"
"Din kemarin ketemuan sama mantan pacarnya."
"Bedebah ini... Dia tahu nggak si acara pernikahan kalian tinggal hitungan hari!''
Setiap kali menatap cermin di tempat fitting, Delia merasa dirinya setengah hancur. Dari beberapa calon pengantin yang datang, hanya ia yang sendirian. Seperti orang bodoh. Seperti menikah sendiri. Rasa sakitnya berbeda.
Din pernah meluangkan waktu sehari. Untuk fitting awal dan pengecekan pra-nikah. Tidak ada masalah. Bahkan, dokter menyarankan mereka jangan menunda memiliki momongan.
"Jangan ditunda ya, hehe. Saya menunggu momongan kalian, pasti anaknya visual." Dokter tertawa kecil. Ia seperti melihat pasangan yang direstui dunia.
Berikutnya. Mereka bertemu dengan perwakilan KUA. Semua berjalan lancar. Yang tidak lancar hanya komunikasi Delia dan Din.
Saras tidak bisa menemani Delia karena ia harus menyelesaikan naskah episode terakhir untuk novel berikutnya. Dia berjanji akan mengabdi kepada Delia setelah semua urusan selesai.
Delia menghabiskan waktu seorang diri. Mulai dari makan sushi di mall, belanja untuk persiapan bulan madu. Ia juga memilih piyama untuk Din.
"Capek... " keluhnya pelan.
Berkali-kali ia mengecek ponsel. Tidak ada notifikasi pesan dari calon suami. Din bilang sibuk dengan pekerjaan editorial naskah. Yang rajin bertanya adalah pihak keluarga Din. Mereka sangat antusias dan membantu banyak. Tapi, kenapa dengan Din akhir-akhir ini? Delia sendiri mulai takut dengan ekspetasi dicintai olehnya.
"Aku tiba di Jakarta. Mau bertemu?"
Sebuah pesan masuk dari Mark. Seseorang yang Delia sukai dari negeri yang jauh. Meski berkenalan lewat aplikasi, hubungan mereka terjalin baik sebagai teman satu hobi. Bahkan mendengar pernikahan yang terpaksa Delia akan lakukan membuat hati Mark teriris.
"Apa kamu baik-baik saja?" pertanyaan dari Mark adalah pertanyaan sederhana yang Din lewatkan.
Sebagai seorang perempuan biasa ia tentu terisak mendengar pertanyaan itu. Sebagian hatinya ingin menyangkal, tapi air matanya menetes seirama.
"Eh... " Delia sendiri terkejut. Ia bukanlah tipe orang yang akan menangis di tempat ramai.
Seharian ini ia memaksakan diri untuk tersenyum lebar di depan keluarga besar Sjarier. Ia juga melakukan pengecekan undangan dan memastikan tidak ada kesalahan.
"Rasanya capek dipaksa oleh keadaan untuk tersenyum lebar, seperti melukai diriku sendiri."
Bersambung...
__ADS_1