Marry Din

Marry Din
Part 16


__ADS_3

Kenangan dari masa lalu yang tidak mudah ia singkirkan masih menghantui malam dan menguasai pikiran. Seharusnya kecemasan itu tidak lagi membuatnya gundah.


Setiap kali mengingat nama Delia, ia langsung tertuju dengan Din. Dua orang yang sering menjadi pembahasan di sekolah (SMA). Mereka tingal di lingkungan elite. Nama Din Sjarier sendiri sudah menguasai banyak gadis sekolah. Berebut perhatian. Mendapatkan cintanya adalah kebanggaan tersendiri bagi Rasti.


"Kamu mau jadi pacarku?" tanya Din serius. Ia tidak pernah semalu ini. "Aku malu, aku juga masih nggak percaya. Cewek terpintar di sekolah mau jadi pacarku."


Rasti mengangguk. Memang sudah dua bulan mereka melakukan pendekatan. "Iya."


Hubungan asmara mereka membuat banyak orang di sekolah iri. Terutama junior, mereka merasa idola mereka direbut. Bahkan ada yang terang-terangan menulis Rasti sebagai ****** perebut di mading sekolah.


"Lagi?" Din heran. Sudah beberapa kali sang kekasih mendapat teror dari adik kelas. "Kamu nggak apa-apa?"


Rasti menggenggam tangan Din erat, "Nggak masalah bagiku."


Mereka tersenyum sambil berjalan menuju kantin sekolah. Tentu menjadi pusat perhatian. Seorang bad boy berhasil ditaklukan siswi terpintar sekolah. Banyak yang menyebut kisah klise seperti novel remaja yang belum tentu berakhir bahagia. Tidak terlalu penting bagi mereka. Cinta mereka berkembang alami.


"Aku nanti ke kelas kamu kalau istirahat kedua." Din memberi banyak perhatian tidak terduga. Mulai dari membawakan coklat, camilan, jus dan susu kotak untuk Rasti.


"Makasih, Sayang," bisik Rasti.


"Yup!" Din mengelus pucuk kepala Rasti.


Hari-hari indah, perasaan yang semakin tumpah tidak terarah. Rasti terkadang mengamati sesuatu. Perlakuan Din kepada Delia.


"Del!" Din terkadang mengisengi Delia, terkadang ia menjabak halus rambut Delia. "Lo nggak keramas berapa bulan? Lepek!"


"Diam, Din!" Delia tentu membalas, ia sering memukul pantat Din. "Jangan berani lo menindas gue di sekolah!"


Sebelum menyatakan cinta kepadanya. Rasti mengamati mereka. Kedekatan mereka terlalu menyebalkan. Bahkan sepatu mahal (Guc*i) yang sering Din kenakan juga sama dengan Delia. Tas ransel (Pr*da) mereka juga sama. Menurut orang terdekat Din, Tony, ibu mereka bersahabat dekat sejak kuliah di Australia.


"Delia lagi, Delia terus." Din menghadang Delia di depan ruang kelas Rasti. Kebetulan kekasih Delia, Lucky, berada di kelas yang sama dengannya.


"Din Sjarier everywhere... " Delia berlalu. Ia tidak terlalu menanggapi karena ingin memberikan camilan untuk Lucky.


Din merebut kotak makan Delia, ia membukanya lalu mencicipi satu buah nugget bayam. Delia suka memasak sejak kecil. Ia adalah penguasa wahana permainan dapur anak di kompleks Andaro.


"Nggak sopan," katanya. Delia sedikit kesal. Tapi Lucky yang tampak geram dengan kelakuan Din.


"Mendingan minta pacar lo untuk bikinin." Lucky mengambil paksa kotak makan milik Delia.


"Kamu jangan keterlaluan deh sama Delia." Rasti menarik tangan Din dan membawanya ke kantin.


Cinta memang begitu. Membuat seseorang mengulur logikanya. Terkadang ia kesal karena tidak terlahir sekaya Delia. Tinggal di lingkungan yang sama dengan Din adalah mimpi bagi Rasti.


Ada lagi kejadian yang membuatnya semakin membenci Delia. Din yang sedang merayakan hari jadi mereka yang ke-1000 tiba-tiba pergi karena harus membantu keluarga Delia. Kakeknya meninggal dunia.

__ADS_1


"Itu kan bukan kakek kamu, Din."


Din menampakan ekspresi sedih.


"Ini hari jadi kita... "


"Aku minta maaf, Sayang. Tapi, Kakek Delia itu sudah seperti kakek sendiri. Mami juga minta aku buat ke rumah Delia sekarang." Din mencium kening Rasti, ia sangat merasa bersalah harus pergi.


Perasaan yang berubah. Hubungan yang mulai tidak lagi indah. Satu per satu mulai membuatnya goyah tetapi juga membiarkan rasa serakah membalut diri.


"Nggak ada yang boleh mengacaukan hubungan kami... " batin Rasti.


Pertama kali datang ke rumah Din. Rasti tentunya takjub dengan rumah mewah bak istana yang terletak di lingkungan elite. Orang yang pertama ia temui di rumah besar itu adalah Oma Aliyah. Nenek dari sang kekasih.


"Baiklah, Nak Rasti. Setelah S2 ada rencana mau S3 atau mau mulai bekerja?'' tanya beliau dengan santun.


Rasti tersenyum lebar, "Kemungkinan saya akan bekerja dulu baru S3, Oma."


"Begitu juga bagus."


Tidak ada pertanyaan lagi. Beliau tampak dingin dan anggun. Sosok wanita kuat, istri konglomerat ternama yang juga keturunan konglomerat memang berbeda.


Delia datang dengan riang. Ia membawa seloyang bolu pisang. "Oma, aku buatin ini spesial loh."


Rasti yang duduk di dekat Din tidak lagi gugup. Ia menyadari ekspresi wajah Oma Aliyah berubah saat Delia datang.


Rasti menunduk, ia hanya merasa sedikit sesak karena kesal.


Delia memotongkan bolu dengan hati-hati dan menyuapi Oma Aliyah, "Oma, tenang ya. Aku pakainya gula rendah kalori."


Oma tersenyum, ia juga memperlakukan Delia seperti cucu sendiri bahkan di hadapan kekasih sang cucu.


"Ah, maaf. Aku dan Oma akan pindah ke taman belakang ya." Delia membantu Oma Aliyah berjalan. Membiarkan Din dan Rasti berdua adalah hal yang lebih baik.


"Aku minta maaf ya," kata Din sungguh-sungguh.


"Nggak masalah."


"Ini bisa jadi masalah."


...****************...


Sore hari saat hujan.


Delia masih enggan beranjak dari tempat tidur, asik membaca buku baru yang sudah lama ia tunggu. Saras meskipun penulis, ia juga mengidolakan penulis yang sama.

__ADS_1


"Argh!" Delia berteriak histeris membaca bab pertama buku barunya.


"Kenapa?" Din melirik sebentar, lalu mendekatinya. "Kamu suka penulis ini?"


Delia tersenyum bangga. Salah satu hobinya selain membaca komik dan novel adalah menjadi penggemar berat. "Tentu! Aku kan fans berat penulis."


"Kamu mau tanda tangannya?" tanya Din.


"Udah ada kok di buku. Dia itu penulis paling misterius dan keren. Dia nggak menunjukan wajah ke publik, cuma pakai nama pena begitu saja, aku sudah bisa menebak. Dia pasti seseorang yang keren." Delia mengatakannya dengan bahagia. Seperti seseorang yang sudah ia kenal lama.


Din mengambil paksa buku yang sedang Delia baca. Buku berjudul "Salinan Kata" penulis Dylan. "Dylan... "


"Kalau kamu bertemu dengan Dylan, kira-kira kamu kaget nggak?"


Delia menyadari pekerjaan Din sebagai editor pasti membuatnya pernah bertemu setidaknya sekali dengan Dylan.


"Kamu pernah bekerja sama dengan Dylan?" Delia semakin penasaran. "Aku dan Saras sering menebak Dylan pasti pria yang keren dan tampan."


Din tiba-tiba mendekatkan wajahnya, "Sangat. Pokoknya melebihi ekspetasi kalian."


"Benar begitu? Dia setinggi apa dan bagaimana wajahnya? Karya yang dia tulis membekas bagiku."


Lelaki itu tertawa keras. Ia hanya gemas dengan ekspresi Delia saat berfantasi.


"Dylan sudah menikah."


"Yah," Delia tidak lagi antusias.


Din mengambil ponselnya. Ia mengirimkan sebuah foto. "Coba kamu pahami."


Hanya butuh beberapa detik. Delia langsung paham siapa sebenarnya Dylan.


Din tersenyum lalu merangkul Delia. "Terima kasih, ya. Kamu ternyata mencintai karyaku."


Delia bengong sesaat. Tidak pernah ia sangka orang yang selama dua tahun ini menjadi idolanya berada dekat dengannya. Kenapa ia tidak sadar sedari dulu?


"Setiap langkahmu adalah keajaiban di dalam duniaku yang hancur. Kamu masuk perlahan dan menyisipkan kenangan terindah."


Mendengar Din mengucapkan kalimat-kalimat dalam buku Dylan, membuat Delia terharu.


Din memegangi tangan Delia, "Kamu bukan pemilik akun baperindylan kan?"


Ketahuan lebih cepat. Delia tertawa sopan untuk mempertahankan wibawa.


"Akun yang gue bikin karena iseng setelah lama jomblo. Akun yang berhalusinasi sebagai istri online Dylan."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2