Marry Din

Marry Din
Part 28


__ADS_3

Setiap kali melihat tatapan lembutnya yang menyapu bersih semua perasaan gelisah, ia semakin terbius dalam pesona wanita cantik yang berada di bawah tubuhnya. Sesekali, terlihat seperti ilusi. "Kamu yang begitu cantik... "


Ada beberapa rasa salah yang menyelimuti nurani setiap kali menyentuh wajahnya. Seperti ini ternyata ditaklukan seseorang?


"Delia... " Din memakai kembali jubah tidurnya. Ia sedang menenangkan diri. Tidak baik menganggu tidur lelapnya, "Selamat tidur, Sayang."


Din menutupi tubuh Delia dengan selimut, memastikan suhu ruangan tidak menerjam. Seperti mimpi, tapi ini kenyataan. Delia pasti akan mengutuknya setiap kali bangun tidur dan kesulitan berjalan.


"Din," ucapnya pelan.


"Hem?" Din masih menatapnya sebelum beranjak bangun. "Kenapa?"


Delia tersenyum lalu membengkuk tidur kembali.


Beberapa jam kemudian. Ia bangun dan menemukan sepucuk kertas, "Aku mau pergi olahraga sebentar. Kamu jangan lupa sarapan. See ya, Babe."


Sepertinya hari ini, ia libur untuk mengutuk Din. Ia kembali mengingat keromantisan sang suami semalam. Dimulai dari menggendongnya menuju kamar mengecupnya berkali-kali sebelum tidur bersama.


"Ahahaa... " Delia yang masih berbungkus selimut tidur terus tersenyum membayangkan betapa bagus gerakan dan bentuk tubuh Din, "Hehe, dia memang jago."


"Apanya?" tiba-tiba Din sudah berdiri di dekat pintu kamar.


"Katanya mau olahraga?" tanya Delia panik sembari mengambil outer yang tergeletak di lantai.


"Udah selesai, kok. "


Delia merasa malu karena Din menatapnya lama, "Jangan menatapku."


Din tidak yakin apa benar Delia memiliki dua kepribadian karena saat tengah malam, rasanya bukan seperti Delia yang ia kenal. "Apa benar kamu yang tengah malam naik di atas tubuhku, Del?"


Delia langsung menutup mulut Din dengan telapak tangan, "Nggak... Jangan bahas... "


"Aku suka banget padahal.''


Din tertawa, ia hanya ingin menggoda Delia. Tetapi reaksi menggemaskan berpadu cemberut ala Delia imut tidak tertandingi. Dia pemilik julukan ngambek pun tetap indah.


"Aku nggak tahu hal lainnya, tapi, Delia... Bisa nggak kamu peluk aku sebentar?" Din memegang tangan Delia. Ekspresi wajahnya berbeda dari semalam. Tampak terguncang.


Delia sigap memeluknya, "Kamu pasti nggak baik-baik saja."


"Hem," jawabnya datar.

__ADS_1


Mereka sudah mengenal lama. Delia tahu persis perubahan emosi Din, ia tidak perlu menanyakan alasan dan memaksanya untuk cerita. Beberapa orang yang bersedih lebih membutuhkan pelukan.


"Terima kasih karena kamu nggak bertanya apapun," ucap Din dengan intonasi suara rendah dan wajah tanpa ekspresi. "Terima kasih karena kamu memelukku sekarang."


Delia menggenggam erat tangan Din. Ia tidak ingin banyak bicara, yang ia ingin lalukan sebagai seorang istri adalah memberikan dukungan kepada suaminya.


"Sama seperti delapan tahun lalu," bisik Din, "Kamu juga memelukku."


Delia menatap dalam lalu teringat kejadian delapan tahun lalu. Guncangan pertama bagi Din Sjarier, jika berita itu nyata.


"Aku anak haram yang dibesarkan seperti pangeran suci."


Kalimat yang sama. Delia mendengarnya delapan tahun silam. Wajah pucat tanpa ekspresi Din lebih menyakitkan untuk dilihat. Selama ini, ia hanya sesekali mendengar rumor berhembus bahwa Tante Almira bukanlah ibu kandung Din. Meski demikian, beliau adalah ibu tiri terbaik yang pernah ada.


"Aku anak haram, Del. Itu alasanku selalu tahu diri... "


Delia memeluknya lebih erat dan tidak berbicara.


"Meski semua orang menerimaku, tapi, aku tetap sadar diri. Dia bilang, anak haram sepertiku menjijikan."


"Kata siapa menjijikan? Bagiku, kamu adalah orang yang sangat keren dan sangat tampan."


...****************...


Ruang persembunyian. Ia tidak ingin terihat kacau kembali di depan Delia. Din memutuskan untuk menenangkan diri. Ia juga harus mengedit beberapa halaman naskah sebelum cetak.


"Anak haram." Setiap kali mendengar atau membacanya, hati Din terasa sakit.


Di masa lalu, ia hanya pernah mendengar dua orang yang melontarkan cacian 'anak haram'. Raffa pernah dengan lantang mengucapkannya di depan Rasti.


"Jangan pedulikan dia," Rasti bersikap acuh seperti tidak mendengar apapun.


Tidak dengan Din, ia mematung sesaat dan menjelajahi ingatan menyakitkan serupa. "Apa kamu nggak sakit hati? Nggak ada anak haram di dunia ini."


"Kamu pikir aku nggak tahu itu, Din? Aku lebih tahu dari kamu rasanya dipanggil anak haram."


"Aku minta maaf."


Din menyimpan rahasia, luka-luka dan ingatan menyakitkan seorang diri. Bahkan, saat memiliki Rasti di masa lalu -- sulit berdiskusi karena ego Rasti.


Suatu hari yang menyedihkan, saat usianya baru menginjak 17 tahun. Seseorang datang ke rumah Din dengan membawa banyak hadiah mewah dengan senyum penuh bangga. Wanita yang asing di mata Din itu mendominasi ruang keluarga bahkan Oma tidak terlihat marah.

__ADS_1


"Ini, Din?" Wanita berbusana elegan itu memeluk Din, "Senang melihatmu tumbuh menjadi laki-laki yang sangat tampan."


"Anda siapa?" Din melepas pelukan, ia menjaga jarak lalu duduk di dekat Mami Almira.


"Bisa-bisanya anak kandungku lebih dekat dengan ibu tirinya, haha, ini lucu."


Papi tidak ada di rumah karena perjalanan bisnis.


"Lad, jangan membuat Din takut." Mami Almira berusaha melindungi Din.


"Ayolah, Mbak Almira, Din itu anak kandungku. Tapi rasanya dia seperti anakmu."


Din mulai memahami situasi. Ada alasan kenapa kakaknya begitu membenci kehadiran Din di rumah. Satu per satu jawaban muncul.


"Anak haram yang dibesarkan seperti seorang pangeran suci," seseorang turun dari tangga sambil menikmati drama keluarga yang membosankan.


"Tante, Anda masih bernyali juga datang ke rumah kami. Padahal Anda itu sudah hidup sangat nyaman di Amerika."


Kakak Din, Digo, adalah anak istri pertama yang meninggal karena sakit jantung. Sedangkan, Din adalah anak yang lahir di luar nikah resmi saat ibunya kuliah di Amerika -- menikah secara siri demi nama baik keluarga masing-masing. Sementara, Dina, adalah anak terakhir yang lahir dari pernikahan bahagia.


"Digo, jaga bicaramu, Nak." Mami Almira menengahi mereka.


"Benar, kan, Mi? Papi dulu memang menikahi wanita ini secara agama demi menjaga nama baik. Apalagi kalian dulu adalah mahasiswa S2 di Yale."


Langkah kakinya seperti alami melindungi wanita menyebalkan yang berharap dipanggil ibu, "Jangan bilang begitu, Kak."


Lady menatap haru mata sang putra, "Maafin, Mommy, Din."


"Kamu itu satu-satunya aib bagi kami, Din," ucap Digo dengan nada biasa. Ia tidak peduli apapun, ia hanya ingin menyuarakan isi hati. Betapa sakit hati mendengar berita pernikahan mendadak sang ayah di masa lalu.


"Kamu anak jahat! Tega-teganya kamu bilang di depan anakku, bahwa dia anak haram."


"Kamu harus minta maaf, Digo!" tegas Mami Almira.


"Jangan sakiti, Din," ucap Oma sebelum pergi bersama asisten pribadinya menuju ruang kerja.


Din berlari ke luar. Ia yakin hal-hal yang tadi ia dengar hanya sebagian dari mimpi berpadu ilusi karena imajinasinya sebagai penulis. Tetapi nyatanya bukan.


"Oma telfon, katanya lo lagi sedih dan depresi karena binatang peliharaan." Delia mendatanginya dengan berani, "Butuh pelukan teman?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2