Marry Din

Marry Din
Part 18


__ADS_3

Oma Aliyah terkadang mengajak Delia pergi belanja ke mall, sekedar menghabiskan waktu bersama cucu menantu. Setiap kali melihat Delia, ia merasa yakin, bahwa Din pasti akan merasa pernikahan mereka indah.


"Oma, udah capek belum?" Delia dengan sopan bertanya. Ia takut Oma kelelahan.


"Terima kasih, Delia. Oma senang punya cucu perempuan seperti kamu."


Delia tersenyum dan menggandeng Oma pergi menuju foodcourt. Mereka harus makan siang lalu pulang.


Oma Aliyah menyarankan untuk liburan bersama keluarga. Tapi, tidak semua anggota keluarga bersedia. Anak-anaknya lebih memilih bekerja dengan dalih perusahaan tanpa mereka satu hari pasti sunyi.


"Kayaknya belum bisa liburan bersama... " Oma tampak sedih.


Delia mendekap Oma, "Oma bisa pergi sama Delia berdua saja tanpa Din."


Oma menggenggam tangan Delia. Sepertinya rasa sedih itu berkurang. "Terima kasih, Delia."


Malam hari setelah makan malam.


Delia mencoba bernegosiasi dengan Din. Memikirkan bagaimana menata bahasa yang apik di depan penulis hebat. Hanya sekedar minta ijin, ia sudah grogi.


"Uh," Delia menarik napas perlahan lalu menghelanya. "Aku mau nenemin Oma liburan."


"Kamu lagi minta ijin?'' tanyanya.


Dua hari setelah mengetahui jati dirinya sebagai penulis, Delia mudah sekali memalingkan muka. Ia malu berada di dekat Din. Bahkan selama dua hari, ia memilih untuk tidur lebih dulu.


"Aku ijinkan kok," Din memegangi lengan Delia. Ia juga iseng menghentakan jemarinya dengan bebas di lengan istrinya. "Kapan kamu mau menatapku lagi, Del?"


"Anu... Aku belum bisa."


"Hah?" Din kecewa, ia harap tidak ada orang rumah yang melihat apalagi mendengar percakapan. "Kamu itu dua hari menolak diberi nafkah suami. Aku mau protes."


Delia menunduk, ia benar-benar malu. "Maaf..."


Din melihat sekitar. Oma yang kemungkinan sudah tidur, dan pekerja di rumah juga sedang berkumpul di rumah belakang - tempat tinggal terpisah untuk pekerja rumah. Tidak akan ada masalah.


"Aku beneran minta maaf," ucap Delia tulus.


"Hei, Sayang, coba tatap aku." Din sedikit memaksa.


Delia menurut, ia menatap Din. Ada yang berbeda. "Kamu potong rambut undercut? Gila! Gantengnya nggak ngotak!"


"Iya, iya, iya."


Perempuan itu memeluknya erat, mencubit pipi Din dengan gemas. "Ternyata... Din Sjarier secakep ini?"


Ia kembali mengamati lagi. Din yang hanya mengenakan kaos putih dan celana jeans biru lebih berbahaya daripada aktor drama yang ia tonton.


Din menarik tangan Delia, ia juga mencium bibirnya beberapa detik. "Aku lagi ngasih kamu hukuman."

__ADS_1


"Aku boleh nggak panggil kamu Dylan saat kita berdua?" bisik Delia.


"Ya, boleh. Kamu juga harus ganti nama kontakku, kan? Gecko? Tokek? Selama ini, kamu lumayan keterlaluan." Din cemberut, ujung bibirnya terlihat lucu.


Delia menuruti kemauan sang suami. Mengganti nama kontak Din menjadi "Husbando".


Din tertawa keras. Delia memang lain. Dia tidak mempunyai seleranya sendiri. Tapi, Din sudah menamai kontak Delia dengan "Ibu Peri'' sejak mereka menikah.


Mengingat ancaman dan serangan pelakor begitu mengerikan. Delia ingin menaklukan sang suami lebih cepat. "Aku kayaknya beneran jatuh cinta banget sama kamu... "


Din tersenyum, ia percaya. "Kamu belum ugal-ugalan tuh jatuh cintanya sama aku."


Seolah tertantang, Delia tidak mungkin melewatkan kesempatan. Ia mendorong tubuh Din ke sofa dan mulai menggodanya dengan menggelitiki perut dan mencium pipinya berulang kali.


Din tersenyum dan menikmati keagresifan Delia, "Ini baru istriku."


Ketika bibir mereka hampir bertemu kembali untuk menyampaikan gairah rindu, seseorang tidak terduga datang.


"Kalian ngapain?" pertanyaan dari keponakan Din memecah suasana romantis menjadi serangan panik. "Om, jangan mesra-mesraan di depan anak SMA."


Din dan Delia langsung kembali duduk dan merapikan baju dan rambut yang berantakan.


"Tante Delia juga bar-bar banget, aku lihat tadi!"


Mereka saling tatap. Merasa bersalah. Bagaimana bisa keponakannya datang di waktu yang salah.


"Amel, kamu mau uang jajan nggak?" Din mulai bernegosiasi.


Din mentransfer tiga juta rupiah, "Sisanya bisa untuk uang makan."


Amel membatalkan niat awal untuk menginap. Ia tahu diri dan segera undur diri dari hadapan Din dan Delia. "Kyaaaa.... Selamat menikmati momen indah ya, Om, Tante! Amel juga mau ketemu Jaehyun (Idol/NCT)!"


Rasanya seperti melihat orang lain. Din yang selalu menunjukkan sisi baru yang memikat. Terkadang, jika waktu bisa diputar, Delia ingin sekali melakukan itu dulu. Ingin lebih memperhatikan Din. Tanpa ia sadari, terus-menerus menatap mata Din. Terpesona.


"Daya pikatmu ternyata banyak."


"Apa maksudnya?" Din menatap balik Delia, "Kamu semakin jatuh cinta?"


"Hei, kegantenganmu kadang terasa nggak nyata. Aku mengerti kenapa dulu adik kelas sangat menyukai Din Sjarier."


Din ikut tersenyum. Sejak kecil, ia sering mendengar pujian seperti itu. Anak kecil yang tampan, pemuda tampan, dan pria mempesona. Keadaan yang ia rasakan justru kebalikannya. Din sedang merasakan bahwa Delia mulai menguasai hatinya.


...****************...


Delia sedang memikirkan sesuatu. Saat orang tuanya tidak sibuk, ia akan membicarakan mengenai karir. Menjadi seorang dosen seperti sang ayah masih menjadi cita-cita mulianya. Ia juga harus membicarakannya dengan Din.


Sejam sebelum tidur siang. Ia melihat Din sedang mengeluarkan beberapa kaos dari lemari pakaian besar. "Kamu lagi beresin baju, Sayang?"


Din mengangguk, ia ingin menaruh beberapa kaos bermereknya untuk disumbangkan. "Kamu tahu? Membosankan kalau banyak orang yang pakai apalagi menduplikat."

__ADS_1


"Aku heran dari dulu... Kamu kenapa sesuka ini sama kaos bermerek? Aku yakin kaos paling murah di lemari ini tetap jutaan rupiah kan?"


Lelaki itu mengangguk pelan. Ia sendiri tidak yakin dengan awal terobsesi kaos bermerek, sneakers mahal dan tas mahal. Hanya mengingat satu momen di masa lalu. Melihat seorang anak lelaki keren mengenakan cardygan dan sepatu mahal. Mami memberitahunya untuk tampil seperti anak asing tidaklah salah. Din mempraktikannya saat masuk SMA. Ia adalah satu-satunya laki-laki di sekolah yang mengenakan cadygan Guc*i dengan sneakers J*rdan puluhan juta.


"Ketemu." Din menemukan cardygan lamanya di tumpukan bawah. Bahkan, ia masih menyimpan seragam putih abu-abu lengkap.


"Apa yang mau kamu lakukan, Sayang?'' tanya Delia heran.


Din memakai kembali seragam putih abu-abu dan berpose imut di depan Delia. "Kak, mau jalan-jalan naik motorku nggak?"


Delia tidak mampu menahan godaan ketampanan sang suami. Bisa-bisanya ia terlihat sangat keren dengan memakai kembali seragam SMA apalagi cardyan legendaris itu. Selain merasa senang, ia juga merasa bersalah.


"Ampuni aku," ucapnya tiba-tiba.


"Kenapa? Ayo, kita naik motor, Del! Berasa jalan sama brondong ntar... "


Delia menurunkan setengah badan dan menunduk, "Aku bersalah di masa lalu dengan cardygan ini."


"Kenapa?"


Kembali teringat kejadian masa lalu yang membuatnya beku. Delia saat itu sedang kalut karena hari pertama menstruasi. Jarak kelas terdekat toilet adalah kelas Din. Saras yang mengambil cardygan mahalnya untuk menutupi bercak darah di rok Delia. Lalu, saat mereka pergi ke taman usai sekolah, Delia tidak sengaja menduduki kotoran burung. Dan saat yang kurang tepat, ia sembarang menaruh cardygan di sofa.


"Apa yang lo lakukan?" Delia memergoki sang kakak dengan asik mengupil dan menaruhnya dengan bebas di cardygan Din.


Bang Ryan masih santai dan rebahan, "Lebay! Cuma ngupil doang kok gempar? Ini sebuah perkenalan kepada baju baru loh, Del."


Dia mengatakan dengan santai dan masih tertawa kemudian menyadari jari kelingkingya tergores kotoran burung taman. "Aha, ini benar-benar hukum alam... "


Bang Ryan tampak lesu dan tertekan. Ia juga langsung mensterilkan hidungnya dan membuat keributan karena bakteri kotoran burung sudah menyapa paru-parunya. Bahkan, ia langsung mengunjungi dokter spesialis paru.


"Dulu pernah kena kotoran unggas, hehe." Delia menutupnya dengan lihai di depan sang suami.


"Yang penting bukan kotoran burung apalagi upil manusia. Aku benci dua hal itu, Del."


Dar! Rasanya lebih baik ia ditampar sang suami daripada mendengar kalimat penuh tekanan juga sebuah ancaman mental.


"Maafkan aku... " Delia mendekap Din erat, "Aku bersalah dengan cardygan ini."


Din memegangi erat tangan istrinya, "Itu kan udah lama, Sayangku. Yang penting bukan dua itu lah. Aku langsung kasih jaketku ke Tony setelah dia naruh upilnya, itu jorok bagiku."


Lebih baik ia mendapatkan sebuah tamparan di masa lalu karena tidak jujur.


Bersambung...


......................


Sekedar visualisasi outfit Din pas SMA


__ADS_1



__ADS_2