
"I love you so much, Din Sjarier," Delia menyentuh hidung Din pelan.
Kebahagiaan itu seperti kejutan baginya. Terkadang, ingin pasrah dan hampir menyerah. Lagi-lagi, Din meluluhkan hatinya dengan cara yang tidak terduga.
"Video ini lucu, kan?'' tanyanya.
Delia tersenyum kembali.
Jauh di lubuk hati, ia berharap kebahagiaan mereka bisa abadi. Tidak ada lagi ganjalan, meski dalam pernikahan sempurna tidak ada yang 100% mulus.
"Bukannya, orang-orang yang membuat konten pernikahan bahagia, mereka nggak sungguhan bahagia."
Delia berbalik menatap Din.
"Bahkan di rumah ini," imbuhnya.
Kemunculan Mommy Lady membawa dampak yang besar bagi Din. Pandangan kebencian dari Digo dan Din sudah membuatnya engap di meja makan. Belum lagi, sindiran halus dari saudara yang lain tentang jatuhnya Revo ke tangan Din.
"Bukannya ini konyol?" tanya Digo kepada Dina.
"Maksud Kak Digo, apa?"
"Oma sangat nggak adil kali ini."
Din menyelesaikan makan dan menarik tangan Delia, "Kami akan bulan madu lagi. Aku nggak peduli tentang Revo sekarang ini. Silahkan, Kak Digo berdiskusi dengan Om Danu atau Papi."
Rencana bulan madu dadakan adalah rencana yang jauh dari ekspetasi. Delia sendiri yakin, hanya sebuah pelarian sementara. Din masih seperti dirinya di masa lalu. Menghindari hal-hal merepotkan.
"Kamu lagi bete, kan?''
"Hah, ternyata kamu memang yang paling memahamiku."
Yang menyebalkan, ia sendiri tidak memiliki tujuan pergi. Hanya mengendarai mobil sesuai kemauan hati. Mereka sudah berada di jalur tol lintas provinsi.
"Ada rekomendasi tempat bagus dan tenang?" tanya Din.
"Gimana kalau kita ke kampung halaman Mas Jarot? Kebetulan dia kan lagi mudik tuh."
"Nice idea!"
Mobil melaju mengikuti petunjuk maps menuju kampung halaman Mas Jarot. Terletak di tengah pulau Jawa, sebuah kota kecil nan indah dengan pemandangan sawah mempesona.
"Indah banget, Din."
__ADS_1
"Kaya kamu," ucap Din dengan nada biasa.
Begitu sampai di rumah orang tua Mas Jarot. Mereka memberi salam, ngobrol sebentar dan meminta ijin tinggal kepada pihak terkait ; Ketua RT.
"Nah, monggo. Rumah sebelah kosong dan sewanya sangat murah." Mas Jarot membawa mereka ke rumah sang kakak yang kosong dan memang sering disewakan.
Din menatap sekeliling. Rumah yang layak ditinggali, ditambah sudah terpasang AC. "Sip, langsung gue transfer."
Ping. Sebuah pesan notifikasi di ponsel Mas Jarot. "Mantap, Bosku! 5 juta lebih dari cukup untuk sewa dan makan satu bulan."
"Ya, kalau bisa termasuk biaya perawatan rumah. Gue nggak mau Delia beberes dan repot masak. Tujuan ke sini adalah bulan madu part two."
Delia mencubit bibir Din, "Hei, Sayang! Aku jadi ingin merasakan belanja di warung kaya apa nih."
"Nggak. Kamu nggak boleh ke luar kamar tidur."
Mas Jarot bergidik mendengar ucapan Din, "Si paling emang dasar..."
Malam pertama mereka tidur di kamar yang lebih sederhana. Mereka saling tatap lalu sesekali mendengar suara segerombolan nyamuk datang.
Delia mengambil lotion nyamuk yang ia dapatkan dari pemilik rumah sore tadi. Dengan hati-hati, ia mengoleskan ke tangan dan kaki Din.
"Ini pertama kalinya ada yang mengoleskan lotion anti-nyamuk," Din tersenyum ramah.
"Ini juga pertama kalinya aku mengoleskan lotion anti-nyamuk untuk orang lain."
Din mengecup bibir Delia berkali-kali sebelum akhirnya mereka terlelap karena mengantuk berat.
...****************...
Pagi hari di teras yang lenggang. Din menikmati secangkir kopi hitam sembari menatap hamparan jalanan.
"Ah, udaranya sangat bersih." Ia tidak berhenti kagum setiap kali menghela napas.
Permasalahan hidup pekik yang sedang ia alami sepertinya perlahan tersingkir. Tentang Revo, perusahaan start up yang diwariskan kepadanya. Pun, tentang keluarga Mommy -- memperebutkan posisi terkuat pewaris.
Orang-orang sekarang mulai lupa perjuangan orang tua. Yang tertanam dalam pikiran hanya bagaimana mendapatkan hak anak, melupakan kewajiban. Terkadang, Din sangat miris melihat beberapa teman Oma yang memilih panti jompo sebagai tempat istirahat terbaik dibanding rumah megah mereka. Anak-anak yang galak terkadang membentak tanpa peduli rasa sakit yang membekas kelak.
Siang hari. Delia memutuskan untuk memasak. Ia menyiapkan menu tradisional seperti tumis kangkung dengan udang, ayam kecap dan sambal terasi.
"Padahal, aku melarang kamu buat capek." Din memeluk Delia dari belakang. "Terima kasih untuk makan siangnya, Sayangku."
Delia tersenyum, tidak sia-sia, ia bertanya letak warung yang menjual sayur segar terdekat. Dengan hati-hati, ia menyendok nasi dan lauk untuk Din terlebih dahulu.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang." Din hampir menangis haru karena merasakan dihormati sebagai suami begitu indah. Tidak seperti kisah seseorang -- Mommy. "Kamu juga harus makan yang banyak."
Anehnya, Delia merasa kenyang setiap kali melihat Din melahap nasi dan lauk, "Bagiku, melihatmu lahap setara dengan kenyang."
Setelah makan siang. Rencana mereka adalah mengunjungi gubuk di area sawah Mas Jarot. Tempat tenang dan tidak terjamah banyak orang. Din mulai mendapat inspirasi untuk menulis.
Delia bersenandung. Suaranya tidak terlalu merdu tapi tidak buruk didengar. Din sendiri lebih buta nada.
Din memejamkan mata. Angin sepoi sawah membuatnya terpikat sejenak, ia sampai lupa masalah berat.
Melihat sang suami fokus sekali dengan suasana. Delia berhenti bersenandung. Ia hanya menatap dalam Din. "Semu yang telah terjadi, membuat kita akan semakin dewasa kan?"
Din reflek mengangguk. Ia yang semula duduk tenang berganti posisi -- merebahkan kepalanya di paha Delia. "Aku mungkin belum bisa jadi suami yang baik, tapi, bersama kamu... Aku menjadi lebih hidup."
Delia mengelus rambut Din. Bau sampo yang sama dengannya menandakan memang mereka hidup sebagai pasangan menikah.
"Cium aku lagi," ucap Din. Ia menatap Delia sambil memperhatikan satu jerawat di hidung Delia, "Nanti jerawatnya hilang kok."
Delia menurut. Ia melihat sekitar dan merasa aman. Ia mencium leher Din, "Aku malu. Aku takut dikira mesum."
Laki-laki itu tertawa terpingkal. Sangat konyol mendengar istri sendiri mengatakannya. "Hahaha!"
Delia tersenyum sendiri. Memang aneh juga didengar, "Aku cuma takut ada yang lihat. Ini kan di kampung."
"Kita itu pasutri, Sayang," Din bangun, ia duduk tegak dan merangkul istrinya. "Kita boleh melakukan hal mesum kok kan udah sah secara agama dan negara."
"Iya." Jawab Delia pendek.
Mereka saling bertatapan. Tidak mungkin mereka tidak memahami kode.
"Aha, sepertinya kita harus kembali ke rumah," Din menggendong Delia.
"Ih, malu," bisik Delia.
Hanya berjarak beberapa meter. Mas Jarot yang sedang santai menikmati kelapa muda harus disadarkan dengan fakta mereka masih pengantin baru.
"Romantisnya mereka... "
Rasa sebal sedang melanda. Kisah cintanya dengan biduan jelita sudah berakhir. Yang lebih sial lagi, ia tidak sengaja mendengar percakapan menggelikan Din dan Delia saat tadi pagi.
"Aku nggak mau kamu ada di atas terus."
"Tapi pas tukar posisi, kamu itu banyak menjeritnya. Apalagi di kamar kita nggak ada peredam suara."
__ADS_1
Mas Jarot yang saat tadi pagi menyapu dedaunan pekarangan seketika membatu. "Orang-orang bar-bar ini, ya!"
Bersambung...