Marry Din

Marry Din
Part 34


__ADS_3

"Ada luka di balik luka."


Delia saat itu hanya mengangguk dan tidak mengerti dengan maksud perkataan Oma. Wanita elegan yang tampak tenang pun merasakan luka? Apa Oma hanya ingin menenangkan hati Delia?


"Cucuku yang cantik," sapa Oma.


Delia masih setia menemani Oma di RS setiap malam. "Oma, hari ini, mau makan apa?"


Oma menatap jendela kamar. Sinar hangat mentari pagi menyambutnya. "Oma nggak mau apa-apa, bagi Oma, ini sudah lebih dari cukup."


Delia beranjak dari duduknya. Ia mendekati jendela, "Hangatnya pagi ini."


Pagi yang indah itu adalah pagi terakhir bersama Oma. Rasanya runtuh begitu mendengar kabar di siang hari. Tentang kepergian Oma dari dunia.


"Oma... " beberapa cucu Oma Aliyah berkumpul termasuk Din dan Delia.


Delia masih terkejut dengan air mata yang berderai.


"Del, inilah kenyataan," bisik Din.


Delia melotot, ia tidak percaya melihat betapa tenang Din menghadapi kenyataan. "Bagaimana bisa... Kamu setenang ini?''


Din merangkul Delia, "Kematian memiliki jarak tipis dengan kehidupan, Sayang."


Tamu yang melayat tidak terhitung banyaknya. Banyak dari mereka adalah orang-orang terpandang dunia bisnis. Oma Aliyah adalah salah satu eksekutif bisnis terkenal dengan wawasan dan kebijakannya.


"Turut berduka cita... "


Delia berlari begitu melihat kedua orang tuanya datang untuk melayat.


"Jangan berlarian, Sayang," Papa memeluk Delia erat, "Oma sudah beristirahat di tempat yang tepat."


"Terima kasih, anak cantik. Kamu sudah merawat Oma hingga saat terakhirnya." Mama mencium kening Delia.


Din berdiri tidak jauh dari mereka. Ia melihat betapa harmonisnya keluarga mertua saat menghibur Delia. Tidak seperti dirinya, bingung untuk mencairkan suasana. Karena kepergian Oma sama saja pertanda bahwa persaingan keluarga akan dimulai.


Malam hari setelah acara pengajian untuk Oma. Delia pergi bersama para tante Din berberes di kamar Oma. Mereka akan tetap menyimpan pakaian dan aksesoris lain yang sering Oma kenakan semasa hidup.


"Selamat jalan, Bu... "


"Terima kasih telah bertahan selama ini."


Delia menunduk, ia masih meneteskan air mata. Seperti perpisahan yang tidak nyata.

__ADS_1


"Delia, terima kasih." Tante Juni, istri dari Om Reno, ia memang dekat dengan Delia karena beberapa kali menemani Oma di RS. "Kamu sudah melakukan yang terbaik menjaga Oma."


Delia memeluk Tante Juni, "Aku merasa ini nggak nyata... "


"Ibu pasti bahagia telah memiliki cucu seperti Delia," ucap Tante Juni sembari menepuk bahu Delia.


Malam itu, Delia tidak bisa terlelap meskipun sang suami sudah berusaha mendekapnya erat. Seperti ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Orang yang selalu menantikannya bangun di pagi hari sudah pergi meninggalkan dunia.


"Kamu kok belum tidur, Del?" Din menyadari Delia masih terjaga.


"Memangnya kamu bisa tidur nyenyak sekarang?" tanya balik Delia.


"Nggak... "


"Kita sama."


Masih ada pertanyaan yang ia ingin tanyakan kepada Din, tetapi tak mudah menemukan waktu tepat.


"Ini agak aneh. Kamu seperti menghindariku sejak mengantar Mark ke bandara."


Delia menatap tajam suaminya, "Aku melihat kamu di bandara dengan seseorang."


"Itu Odette, juniorku saat kuliah."


"Gadis itu datang juga ke acara pemakaman dan pengajian tadi."


Din menarik napas pelan dan menyimpulkan bahwa Delia sedang cemburu. "Kamu lagi cemburu, Sayang."


Bukan hanya cemburu. Ia juga merasa mulai bahwa saingan sesungguhnya untuk mendapatkan Din bukan Rasti, tetapi Odette.


...****************...


Seminggu telah berlalu sejak kepergian Oma.


Prediksi demi prediksi yang pernah Oma katakan kepada Delia benar terjadi. Anak-anak yang malas menanyakan kabar ibunya bahkan datang lebih awal di hari pengumuman keputusan pengacara keluarga tentang bagi waris.


"Saham di equestrian sepenuhnya akan berpindah tangan ke Pak Reno Sjarier. Saham di perhotelan dan RS akan ditransfer ke Pak Donny Sjarier. Saham industri Sjarier Corp akan menjadi hak Pak Danu Sjarier. Kepemilikan ritel akan diambil oleh Ibu Almira. Yayasan pendidikan dan amal akan menjadi hak Ibu Ratna separuh, dan Ibu Juni separuh. Dan start up Revo akan menjadi hak Din Sjarier. Digo akan mendapatkan haknya sebagai direksi pertambangan Sjarier. Arman akan mendapatkan hak sebagai direksi perusahaan distribusi kopi Sjarier. Dina akan mendapatkan lahan besar di Surabaya. Dan untuk Delia, beliau menitipkan sebuah galeri seni, letaknya di area equestrian Sjarier."


Begitu pengacara selesai membaca. Semua orang terkejut mendengar titipan Oma kepada Delia.


"Look jadi milik Delia?" tanya Om Danu heran, "Ini gila. Ibu sangat mencintai cucu menantunya."


"Apa kamu tahu tanggung jawab?" tanya Tante Ratna, "Aku pikir Look akan menjadi milikku, ini sangat konyol. Aku keberatan."

__ADS_1


"Bukan hanya Revo yang jatuh ke tangan orang konyol, tapi Look juga jatuh ke tangan pengangguran," Digo menatap kesal ke arah Delia. "Dia bahkan bukan lulusan kampus Ivy League seperti Tante Ratna."


Hanya orang tua Din yang tidak mengeluh. Mereka menerima dengan hati lapang.


"Del, jangan dimasukin hati," Tante Juni menggenggam tangan Delia.


Din sendiri tidak mengerti kenapa ia harus mengelola Revo -- perusahaan start up dengan income tertinggi di Indonesia. Bukan juga bidang yang ia geluti. Oma benar-benar memberikan kejutan kepada semua orang.


"Keputusan ini tidak dapat digugat.''


Banyak anggota keluarga yang masih kesal sambil bernegosiasi satu sama lain. Digo, Arman, Om Danu dan Tante Ratna mereka ada di kubu yang sama. Kubu kontra dengan surat wasiat.


"Lihat wanita licik ini datang begitu anaknya mendapatkan Revo," ucap Tante Ratna begitu Lady datang ke rumah.


"Aku berniat untuk melayat bukan untuk berebut wasiat seperti kalian!"


Din menarik tangan Lady, "Mommy, ngapain coba datang ke sini? Kita semua lagi dalam keadaan nggak baik."


Delia baru pernah melihat sosok ibu biologis Din, "Halo, Tante."


Lady memeluk Delia, "Kamu Delia, ya? Istri anakku ternyata lebih cantik dariku."


Din melepas pelukan mereka.


"Mommy harus bicara serius dengan kamu."


"Ayo," Din mengajak Lady pergi ke taman belakang.


Digo masih tidak menyangka ada wanita setidak tahu malu seperti Lady. Dina juga tidak terlalu nyaman setiap kali Lady datang karena suatu alasan.


"Lihat mantan istrimu, Don."


Delia yang terjebak di ruang tengah merasa gerah dengan suasana mereka. Ia memutuskan pergi ke kamar.


"Papi selalu begini setiap kali dia datang." Dina tidak biasa protes, tapi ia merasa sebal sekali melihat ekspresi sang ayah. "Papi nggak bisa memarahi dia, Papi juga nggak bisa mengusir dia."


"Din,'' Almira mencoba menenangkan Dina, "Ke kamar yuk."


"Padahal Papi tahu... Mami sedih setiap kali wanita yang disebut ibu kandung Kak Din ini datang ke rumah."


Donny masih diam. Ia tidak ingin terlibat banyak perdebatan malam hari. Semenjak kepergiaan ibunya, separuh dunianya ikut berubah dalam sekejap. Ada rahasia yang masih ia jaga dengan mantan istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2