Marry Din

Marry Din
Part 17


__ADS_3

Masih tidak menyangka seorang penggemar bisa menikahi idolanya. Delia terus menerus tersenyum sejak mengetahui rahasia Din. Tadi, sebelum membangunkan Din, ia menyentuh-nyentuh wajah tampan yang tidak diduga menjadi suaminya.


"Ganteng banget ternyata, Dylan." Delia mengusap wajah Din.


Din terbiasa dibangunkan alarm ponselnya. Sejak pukul lima pagi. Ia adalah seseorang yang disiplin waktu. Setelah bangun dan melakukan kegiatan rutin pagi hari, ia bergegas mandi dan sarapan bersama. Ia juga tidak melupakan tanggung jawab, memberi makan hewan peliharaan.


Setiap kali melihat keseharian sang suami, Delia jelas terpana. Selalu saja ada cara Din memikatnya. Bukan hanya merawat kucing. Dari informasi akurat, ia juga memperjuangkan hak-hak hewan terlantar. Yayasan yang dulu ia dirikan ternyata dikelola dengan baik oleh manajemen dari Sjarier Group. Mereka fokus menyelamatkan kucing liar.


"Bruno," Delia menatap wallpaper layar ponsel Din.


Fotografer mengirimkan foto pernikahan mereka kemarin. Seharusnya, Din, sudah mendapatkannya juga. Tapi, ia tidak ingin berdebat karena masalah remeh.


Din terbangun. Ia mendengar suara langkah kaki Delia berulang kali. Mondar-mandir. "Kamu lagi kenapa?"


Delia menghentikan langkah dan menatap sang suami, "Gimana ini?"


"Apa? Ada apa?" tanyanya panik.


"Berat badanku naik!''


Tanpa ia sadari, semenjak pergi bulan madu, ia lupa mengontrol asupan karbohidrat dan glukosa. Delia makan banyak coklat tanpa sadar. "Abis rasa coklatnya enak banget... "


"Ah, astaga. Kamu itu nggak kelihatan gendut." Din memegang bahu Delia, mereka menatap cermin yang sama, "Lihat, kamu nggak perlu diet."


Delia memalingkah wajahnya, ia merasa pipinya sedikit chubby. "Nggak mau lihat lagi."


"Kamu itu sama sekali nggak gendut apalagi chubby." Din mencoba menenangkan Delia. Mungkin kejadian masa SD, membuat Delia sedikit trauma. Berat badannya pernah naik drastis karena liburan bersama ayahnya.


"Aku takut gendut."


"Nggak, Del, eh, Sayang. Kamu kalau bilang begini apa kabar Saras?" Din masih terheran, "Jangan takut. Bagiku, kamu yang sekarang seksi."


Delia berhenti merajuk. Ia mengikat jari kelingking mereka, "Benar, ya? Kamu nggak akan bilang gendut atau apapun?"


Din mengangguk, ia setuju.


"Kamu mau menemaniku olahraga nggak?" tanya Delia.

__ADS_1


"Setiap hari, aku kan olahraga di lantai bawah, kalau nggak di rumah Aa Sultan."


"Ya udah."


Pertemanan Din dengan para ayah muda kompleks Andaro sungguh luar biasa. Dia akan datang dengan sekali panggilan telepon. Sebagai anggota termuda yang baru menikah, ia juga sering mendapatkan nasihat bijak dari senior. Mulai dari cara membuat bahagia istri lahir dan batin, lalu cara memanjakan istri.


"Makanya lo, Bro, jangan menunda momongan deh."


Din mengangguk-ngangguk.


"Karena gue pernah menunda dan malah beneran ditunda sama Tuhan. Dikasih momongannya di tahun ke-sembilan pernikahan." Bang Robby, teman nongkrong sekaligus senior yang Din hormati sedang menceritakan masa sulitnya menunggu anak.


"Tapi, cerita kami beda, Bang. Kami kan nikahnya karena paksaan Oma. Sebelum menikah, gue putus sama cinta pertama gue."


Bang Robby menyentil dahi Din, "Anak ini pasti kurang bersyukur! Dikasih istri spek bidadari masih mau bilang belum ada rasa cinta, begitu?"


Din terdiam, kisah mereka hampir sama. Bang Robby juga menikahi istrinya mendadak. Dulu sempat membuat kacau pergosipan kompleks. Nyatanya, ia tidak tahan dengan perlakuan sang mantan kekasih - toxic dan egois.


Setelah pulang berolahraga di rumah Sultan Andaro, Din langsung pulang ke rumah. Rumah besar yang awalnya sepi mulai sedikit terisi bising. Delia yang menyatu dengan anggota keluarga Sjarier yang lain. Karena orang tua Din lebih suka tinggal di Amerika - mereka memiliki dua rumah dan satu vila di luar negeri termasuk Amerika, Swiss dan Beijing.


"Makasih banget, kamu udah mau bawain tasku."


Din sejak tadi berpikir. Ia mulai terpana dan sadar. Seseorang yang menyambutnya dengan senyum bahkan menyeka keringat di wajahnya adalah Delia bukan Rasti. Semakin dewasa laki-laki, ia tentu banyak berpikir, lebih baik beradaptasi dengan natural.


...****************...


Tony awalnya berniat untuk bangun sore hari. Tapi, seseorang datang dan menganggu istirahatnya.


"Ton, gimana nih?" Din agak histeris.


"Ekspresi lebay lo ini bikin gue muak di siang hari."


Menyebalkan sekali melihat lelaki mencolok. Penampilan Din membuat asisten rumah Tony tentu heboh. Seperti jumpa fans, ia terkadang bertingkah gila. Delia saja belum melihatnya segila apa.


"Ini jaket Guc*i asli kan, Mas Din?" tanya asisten rumah Tony, Mbak Ipeh. "Kaya yang ada di drakor!"


"Mbak Ipeh kok lebih gaul dari Tony? Besok, aku belikan kaos Guc*i deh." Din tidak asal berjanji. Ia sungguhan membelikan kaos mahal untuk orang yang bercanda.

__ADS_1


Sejak SMP, dia adalah seorang teman yang tidak biasa. Bagaiamana bisa seorang anak SMP sudah bisa menulis naskah novel? Awalnya Tony pikir itu hanya bualan Din.


"Dylan itu nama pena gue. Cerpen pertama gue berjudul "Bersandar di Bahu Pangeran Kodok" juga dicetak majalah remaja. Dan traktiran kemarin, itu uang komisi dari lomba puisi yang gue menangin." Din pertama kali mengatakan rahasianya kepada Tony.


"Ah, ngibul lo kebangetan." Tony tidak ingin terbuai hal-hal tidak nyata apalagi imajinasi anak SMP. "Puber lo mungkin kurang gebrakan nggak si?"


Din menjitak lengan Tony, "Sial, itu lo!"


Setiap kali liburan semester, ia pergi bersama ibunya ke luar negeri. Tony mendapatkan oleh-oleh juga. "Gue juga bawain buat lo!"


"Sabuk bermerek?" Tony terpukau, "Ini berpotensi dijambret nggak?"


"Aman, apalagi warna hitam. Lo bakal bebas dari nasihat bijak BK." Din tertawa kecil. Ia hanya teringat pernah di skors karena berbuat ulah.


Terkadang, ia terlihat ceria ketika membicarakan yayasan penyelamat hewan. Terkadang pula ia tampak sedih. Dia memang ramah dan memiliki banyak teman, tapi bagi Din, Tony adalah sahabat terbaiknya.


"Jadi, hari ini, lo kenapa?" tanya Tony.


"Delia adalah pemilik akun 'baperindylan'... "


"APA?!"


Tony dan Din mengecek bersama. Akun sosial media yang tidak pernah mereka sangka pemiliknya.


"Ha, ini lucu dan seru." Tony membuka lagi postingan akun kedua Delia itu, "Dia udah bercita-cita jadi istri online lo sejak dua tahunan lalu."


Din menelan ludah, "Gue pernah dapat DM yang lumayan menyentuh hati."


Tony langsung mengambil ponsel milik Din dan mulai merasa geli dengan fakta.


baperindylan


Hei, Kak Dylan, aku penggemar baru. Baru menyukai baca buku Kak Dylan dua tahunan ini. Buku pertama kakak itu keren, aku jadi berhenti untuk menangisi mantan pacarku loh! Padahal temanku jelas memergokinya selingkuh dulu. Saat aku terpuruk karena merasa nggak bisa jadi seperti orang tuaku, aku jadi teringat kalimat bagus di buku kakak loh. Kak Dylan, aku yakin orang yang keren dan bijak. Tapi, membaca buku kedua, aku ikut menangis. Kakak begitu mencintainya, cinta pertama itu. Aku berpikir, bagaimana jika nanti itu bukan takdir kita? Apa kita harus menyesal karena nggak bisa bersama dengan cinta pertama kita?


Selesai membaca bersama, mereka dapat menyimpulkan satu hal pasti. Lucky adalah cinta pertama Delia yang berselingkuh dan dipergoki oleh Din.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2