
Ketika semua orang sibuk membicarakan ketidakadilan hak waris yang mereka terima. Delia seorang diri, ia menangis karena terlalu sesak berada di tengah manusia egois. Seharusnya, ada yang memberikan pendapat untuk menunda pembagian warisan.
"Oma,'' ucap Delia lembut sembari menatap foto Oma di hari pernikahan mereka. Ada senyum indah khas berpadu setelan batik mahal.
"Apa cuma Delia yang rindu Oma?'' tanyanya dalam batin.
Delia merebahkan tubuhnya ke ranjang. Setiap kali akan tidur, ia selalu menatap foto pernikahan. Berharap Din melakukan hal yang sama setiap malam; nyatanya nihil. Akhir-akhir ini, ia mulai merasa gelisah. Sosok junior suaminya, Odette -- nama itu sangat menganggu telinganya.
"Del, gue dapat info gila."
"Apa?'' tanya Delia.
"Rasti mau menikah sama anggota DPR yang viral itu loh."
Tiba-tiba, Rasti akan menikah dengan seorang anggota DPR muda yang sedang naik daun karena menyuarakan suara rakyat internet dengan cepat.
"Gue lega mendengarnya."
"Ah, Delia. Lo emang berhati peri." Saras sendiri merasakan hal yang sama; lega.
Kabar pernikahan Rasti begitu cepat menyebar di grup sekolah, internet bahkan berita hiburan TV.
"Kamu udah dengar?" tanya Delia kepada Din yang sedang memberi makan Bruno.
"Aku tahu kok," Din tidak terlihat sedih. Ia masih bisa tersenyum seperti biasa. Mereka menjalin asmara lama, tetapi, sungguh mengecewakan melihat ekspresi tenang Din.
"Aku pikir kamu akan kaget,'' Delia menatap Din, "Jadi ini ekspresi orang yang sudah move on, ya?"
Din mengelus kucing kesayangannya. Sepertinya tidak buruk melupakan cinta pertama.
"Aku dapat undangan pernikahan Rasti."
"Kamu akan tanya kan, aku mau datang atau nggak?"
Delia menyandarkan kepala di bahu suaminya, "Ayo kita datang."
"Itu ide yang bagus."
Jarak mereka hanya beberapa senti. Akhir-akhir ini tidak banyak percakapan terjadi, tidak banyak kata-kata cinta diucapkan. Semenjak kepergian Oma, ada yang berubah. Sulit menemukan penyebab pasti. Menyelidiki pun butuh keberanian. Bertanya pun ia urungkan demi ketenangan batin.
Ada kalanya ia merindukan suasana bulan madu. Menghabiskan waktu berdua dengan Din adalah hal terindah bagi Delia.
__ADS_1
"Kamu belum selesai dengan pekerjaan editor?'' Delia memberanikan diri bertanya duluan.
"Nggak. Cepat atau lambat, menulis ataupun mengedit naskah bukan lagi pekerjaan utama." Din masih berat meninggalkan salah satu pekerjaan impiannya.
"Pasti berat, ya?" Delia mendekap Din, "Aku tahu ini sedikit berat untuk kamu."
"Hemm, ini sedikit membuat sakit kepala."
"Aku akan mendukung apapun keputusan kamu, Sayang."
Din berbalik badan dan menatap lama Delia, "Terima kasih, Delia.''
Delia tersenyum lebar. Hatinya sedikit ngilu ketika lelaki itu tidak lagi memanggilnya sayang. Perubahan ini, sejak kapan mulai terasa menyesakkan dada?
"Aku akan tidur duluan," Delia melepas pelukan. Ia memejamkan mata dan mencoba tidur tanpa basa-basi manja.
"Ya, tidur aja."
"Selamat malam."
Sebenarnya, ia tidak sepenuhnya terlelap. Ia masih yakin Din masih dengan posisi awal. Masih mengetik pesan untuk seseorang. Perkara siapa penerima, ia tidak ingin tahu. Takutnya perempuan bernama Odette lagi.
"Haha, ada-ada aja," ucap Din gemas.
"Cepat hentikan akting kamu, Delia," Din menyentil perut Delia, "Aku tahu kamu penasaran dan banyak pertanyaan, kan?''
Tertangkap. Begitulah yang Delia rasakan.
...****************...
Hari pernikahan Rasti seperti reuni kecil dengan teman SMA. Din datang bersama dengan Delia, mereka kompak mengenakan warna biru muda. Mempesona setiap mata.
"Del!" Saras memeluk Delia, "Cantik banget, Bestie!"
"Aha, lo juga," Delia menyikut bahu Saras lalu berbisik, "Jadi kapan Tony mau melamar?"
Saras tertawa sarkas, "Hahaha, nggak tahu mungkin nunggu gajah bertelur."
Tiba giliran Din dan Delia untuk memberikan ucapan selamat kepada Rasti.
Seperti sebuah kisah dalam film remaja, cerita cinta masa SMA mereka sudah berakhir. Sisa perasaan tentu masih ada di hati Rasti, tetapi ia tidak ingin menjadi wanita gila yang berusaha merusak rumah tangga orang yang pernah menempati posisi penting dalam hidupnya.
__ADS_1
"Semoga menjadi keluarga yang bahagia hingga tua bersama. Semoga kalian saling mencintai dunia dan akherat." Din menjabat tangan Rasti, ia juga tersenyum.
"Terima kasih, Din... " Rasti tidak memungkiri bahwa pria yang sedang menjabat tangannya adalah orang yang spesial pernah hadir.
Tiba giliran Delia. Ia tentu memeluk Rasti lebih dulu dan membisikan sebuah nasihat, "Kamu itu wanita cantik dan cerdas. Aku berharap kalian bahagia untuk selamanya, saling melengkapi dan saling mencintai hingga tua nanti."
"Terima kasih, Delia. Dan... Maaf untuk semua keegoisanku saat itu."
Mereka bertatapan. Mereka mulai berdamai dengan perasaan satu sama lain. Tidak ada lagi benci.
"Kamu pasti Din, ya? Aku pribadi ingin mengucapkan terima kasih karena kalian sudah berkenan datang." Suami Rasti mungkin sudah tahu masa lalu mereka. Din hanya tersenyum dan menunduk dengan sopan.
Din dan Delia langsung pulang setelah menyapa beberapa kenalan semasa sekolah.
"Ternyata jodoh itu misteri, ya?" tiba-tiba saja Din bertanya dengan wajah tenang.
Delia tidak paham konsep jodoh, terkadang tidak terbayangkan ia akan menikahi Din. Terkadang, ingatannya masih saja bertaut dengan masa SMA.
"Aku bahagia karena dijodohkan dan menikah dengan kamu, Din."
"Masa?'' ledek Din.
Mereka tidak langsung pulang ke rumah. Din membawa Delia berkeliling dengan mobil. Akhir-akhir ini, ia sangat senang mengendarai Rover baru hasil kerja kerasnya. Tujuan belum ditentukan.
"Aku malu karena berpikir kamu berubah."
Din mencubit pipi Delia, ia juga memastikan hati-hati dalam berkendara. "Aku tertawa karena ingat satu hal. Aku dan Oma pernah nonton video pinguin itu bersama. Oma terlihat happy... "
Ternyata ia adalah orang yang paling merindukan neneknya. Terlihat tegar tidak berarti hatinya sekuat pagar. Ada kalanya seseorang akan melakukan kebiasaan bermodalkan sisa kenangan yang terekam. Rindu yang paling menyiksa adalah merindukan seseorang yang suara helaan nafasnya sudah terampas.
"Kamu menangis?" tanya Delia lirih.
Air matanya menetes. Ia sendiri sudah sebaik mungkin bersikap tegar di rumah. Tetapi, di depan Delia, selalu saja terlihat lemah.
"Karena setelah Oma pergi... Aku rasa seperti setengah duniaku menjauhiku... "
Din menepikan mobil, ia tidak mungkin menyetir dalam keadaan kacau. Mereka berganti posisi duduk.
Delia mengecup air mata Din yang jatuh di sekitar pipi, "Aku mencintaimu, Din."
"Aku akan mencintaimu sebaik kamu mencintaiku. Tidak, aku yakin, aku yang lebih mencintaimu saat ini, Delia. Semua yang telah terjalin indah dengan kamu, membuatku memahami sebesar apa perasaanmu. Bahkan mendengar kamu mulai cemburu, anehnya aku merasa bangga dan membatin orang yang sangat cantik ini sedang cemburu."
__ADS_1
"I love you, Delia. I swear, it's true."
Bersambung...