
Delia sengaja bangun lebih pagi untuk mengantri bubur ayam dan membawakan sang ayah sarapan kesukaan. Setelah menikah, ia mulai mengerti tentang pergeseran peran. Bukan lagi Papa yang menjadi kepala keluarga. Ketika penghulu menyatakan sah, tanggung jawabnya berpindah kepada Din.
Jalanan kompleks, tempat yang selalu menjadi saksi betapa kompak anak-ayah itu berlari pagi. Meski hanya beberapa menit, ingatan-ingatan saat menghabiskan canda tawa tentu menelisik batin.
"Pa, Ma, " Delia sudah menekan bel. Karena pintu rumah terbuka, ia masuk. "Bang Ryan... Bibi... "
Delia menjelajahi ruangan tengah. Duduk dan berbaring di sofa sambil menonton N*tflix seperti biasa di masa lalu sebelum ia menikah. "Haha, kocak abis!"
Bang Ryan membawa koper besar dan menuruni anak tangga. Ada pemandangan menyebalkan dari seorang pengangguran. "Woi, kalau mau nganggur di kamar sana!"
Delia menjulurkan lidah dan mengacungkan jari tengah, "Diem deh, mumpung lagi di rumah sendiri."
"Gue kasihan sama adik ipar. Dia pasti belum tahu kelakuan buruk lo selama ini. Gue sengaja tutup mulut selama ini, Del." Bang Ryan merasa kasihan tapi juga merasakan keseruan jika salah satu kebiasaan buruk adiknya terungkap.
"Din justru bersyukur dapat ibu peri kaya gue, Bang." Delia meringis dengan berani. Memang saat di rumah keluarga suami, ia banyak menahan diri. "Selama tinggal di rumah Din, gue kangen suasana rumah ini."
"Stop! Gue nggak mau sebelahan kamar sama pengantin baru apalagi Gecko yang kelitan jelas bar-bar." Bang Ryan memakai kaca mata hitam sembari menuruni anak tangga terakhir dengan percaya diri. "Lebih baik gue ikut perjalanan bisnis kantor ke Kuala Lumpur. Dadah, Adek!"
"Jangan lupa oleh-olehnya, Kakak!"
"Ya, baiklah, Dek." Bang Ryan geli sendiri dan berjalan cepat karena rekan kerjanya sudah menunggu di depan gerbang dengan wajah cemberut.
Delia lupa tidak membawa ponsel. Akhir-akhir ini grup chat WA membuatnya sebal. Banyak orang memamerkan pencapaian. Sementara dirinya semenjak wisuda S2, belum menemukan pekerjaan yang tepat. Saras meskipun belum bekerja di kantoran, penghasilan sebagai penulis novel online lumayan melimpah. Fakta bahwa Din adalah Dylan, penulis idolanya, membuat Delia semakin malu. Din yang menurut orang-orang tampak santai menikmati kekayaan keluarga ternyata bekerja lebih keras dari siapapun.
...****************...
"Neng Delia!" Bi Surti baru pulang belanja dari minimarket Andaro begitu senang melihat Delia datang ke rumah. "Apa kabar, Neng Del?"
Delia memeluk Bi Surti, "Baik kok, Bi. Aku kangen rumah, aku kangen juga semua penghuni rumah."
"Bapak dan Ibu lagi ada acara resmi, katanya anak pejabat yang menikah itu bawahannya Ibu di kantor."
"Ah, aku paham siapa, Bi."
__ADS_1
"Ya sudah, Neng, Bibi mau lanjut beberes ruangan di belakang."
"Oke," Delia mengacungkan jempol. Ia kembali melanjutkan aktivitas, menonton N*tflix, drama komedi romantis.
Setengah jam berlalu dengan cepat. Delia terbawa suasana dalam tontonan, kisah lelaki aneh yang jatuh cinta dengan rekan kerja.
"Freak! Hahaha!" Delia tertawa keras sembari memukuli bantal sofa karena adegan konyol.
Seseorang di belakang memperhatikan dan ikut tersenyum. "Kamu nggak bawa HP. Aku nyariin kamu."
Itu Din...
Delia tidak menyadari kedatangan Din. Ia mulai panik. Din pasti akan geli melihat pakaian yang melekat di tubuh Delia.
"Sial, gue pakai kaos ini," gumam Delia.
Din duduk, ia mendekat dan merangkulnya. Delia yang tampak depresi membuat Din semakin ingin menggodanya. "Aku udah lihat kok."
"Argh!" Delia terlihat kesal dan sangat malu.
"Aku dapat kaos ini waktu nemenin Papa ke toko material, kata pemiliknya, ini kaos cat tembok paling premium dengan bahan katun yang cocok untuk santai di rumah." Delia berusaha menjelaskan, ia juga tidak berbohong dengan kejadian yang pernah dialaminya. "Kaos ini juga super adem, semriwing."
Din terdiam, ia juga heran. Bukannya ingin mencela selera unik Delia, tapi beberapa kali ia datang ke kantor penerbitan yang sedang direnovasi. Tukang cat juga mengenakan kaos yang sama dengan sang istri. Tapi ia tetap kagum dengan kesederhanaan Ibu Peri.
"Bagaimanapun ini kaos ternyamanku." Delia melirik ke arah kaos putih Din yang berharga dua jutaan (Stussy), belum lagi kaca mata baca yang masih ia pakai seharga lima juta rupiah (Oakley). "Jadi ini yang dinamakan jomplang," imbuhnya sembari merana.
"Apa kamu juga punya kaos bumbu dari Mas Jarot? Dia kan bestie kamu." Din kepo karena asisten rumahnya sering bilang Mas Jarot membagikan kaos gratis dari merek bumbu dapur terkenal.
Delia mengangguk pelan.
"Beneran?" Din terheran. Dilihat dari keunikan Delia, sungguh di luar prediksi seorang pengamat fashion. "Coba nanti malam pakai kaos bumbu, Sayang. Aku jadi penasaran nih!"
Sisi buruk yang sengaja ia tutup di rumah keluarga Sjarier adalah aneka kaos unik yang sulit diterima kalangan elit. Din sampai tersenyum heran.
__ADS_1
"Tapi aku nggak nyangka, kamu punya sisi yang seperti ini." Din gemas, ia memeluk Delia erat. "Kamu padahal maniak parfum mahal."
"Hehehe... " Delia tersipu, wajahnya memerah. Apalagi berada dalam pelukan suami dengan spek melebihi idol K-pop itu anugerah terindah.
Din merapatkan jari jemari mereka, "Jari kamu lebih kecil, lucu."
"Nggak lucu, setiap kali menggandeng tanganmu. Aku merasakan kehancuran." Delia sebagai seorang wanita, ia tidak menyukai gelang, tapi melihat gelang Ca*rtier yang Din pakai terasa sekali perbedaan selera mereka.
"Kamu mau pakai gelang pasangan nggak? Itu, kaya pemeran pria di drama yang lagi kamu tonton." Din menunjuk gelangnya. "Ada juga seri untuk pasangan."
"Hmm, itu pasti mahal banget. Aku cukup dengan keserdahanaanku begini, kamu nikmatilah kemewahan turun menurunmu." Delia tersenyum lebar, ia merasa dirasuki arwah kebijaksanaan.
Melihat cara bicara Delia, Din semakin gemas. Ya, memang begitulah Delia. Dia lebih bijak dari siapapun meski terkadang naif.
"Ternyata memang begini, Delia," Din memainkan rambut Delia.
"Emang kamu pikir aku palsu?"
"Kamu itu sulit dijabarkan."
"Tapi, kamu menjabarkan cinta pertama dengan indah di novel." Delia mengeluh karena merasa hatinya keruh setiap kali ingat kalimat-kalimat indah yang Dylan rangkai untuk cinta pertamanya. Novel pertama yang ia baca memiliki judul "Inisial R", "Rasti kan?"
Din mengangguk, ia tidak bisa berbohong. Novel itu memang saat ia dimabuk asmara dengan cinta pertama. "Kamu bukan cinta pertamaku. Tapi, mulai sekarang, kamu itu satu untuk selamanya."
"Hmm," gumam Delia.
"Aku minta maaf untuk kebodohanku di masa lalu." Din mendaratkan sebuah kecupan di bibir Delia, "Aku beruntung karena mendapatkan Ibu Peri."
Delia tidak bisa menahan tangis, ia bahagia, ia juga semakin terpikat dengan Din. Bagaimana bisa setiap hari jatuh cinta dengan orang yang sama. Persis seperti yang Mark pernah katakan.
"Saat perasaan kalian tumbuh alami, itu akan terasa lebih berarti dan kamu mungkin berpikir, bagaimana bisa pesonanya membuatmu jatuh cinta setiap hari. Aku harap kamu menyadari hal ini, berarti pernikahanmu bahagia."
"Aku akan tersiksa jika melihatmu menangisi orang lain."
__ADS_1
Bersambung...