Marry Din

Marry Din
Part 33


__ADS_3

Pertama kali melihatnya, ada sesuatu yang menarik tentang pemuda itu. Sosok kocak yang penyayang.


"Tony, lo dimana?" Saras menelepon Tony. Mereka janjian bertemu di kafe Andaro untuk makan siang.


"Gue udah duduk di meja bar."


Saras menemukan Tony. Ia sedang berbincang dengan pegawai kafe Andaro yang sedang naik daun berkat konten video viral.


"Jangan lupa like video aku ya, Kak Tony."


Tony meringis, "Siap."


Saras menarik hoodie Tony. Sudah berapa kali melihat pemandangan yang serupa -- Tony sedang merayu wanita lain.


"Posesif banget deh," ucap Tony dengan nada bercanda.


Mereka duduk di dekat jendela kafe. Tony sendiri tidak tahu maksud Saras mengajaknya bertemu di siang hari yang terik.


"Untungnya gue udah pake sunscreen spf 50 tadi," katanya sembari menatap Saras diam-diam, "Lo tumben dandan cantik siang ini?"


Saras terdiam meski sesekali membuang muka. Ada sebuah tekad kuat dalam dirinya untuk mengakhiri kegalauan hidup.


"Gue bener-bener kaget, gadis itu... " Tony hendak membahas masalah Din tiba-tiba melihat air mata Saras mulai menetes, "Ras, lo, kenapa? What happened?"


Menurut prasangka Tony, Saras sedang galau karena menyukai mantan kekasih internet Delia -- pria Swiss bernama Mark atau siapa itu. "Siapa yang membuat lo sesedih ini? Mantan gebetan Delia?"


Saras menggeleng-geleng. Ia sama sekali tidak menyimpan rasa suka kepada Mark. Mereka hanya sebatas teman. Bahkan berkat Mark, ia berani melangkah maju. Mencoba melewati batas dengan seseorang.


"Siapa yang membuat lo nangis, hei?" Tony menyeka air mata Saras dengan tisu, "Udah terlalu bangka buat lo nangisin cowok, kan?"


Ia mengangguk setuju.


"Jadi, siapa yang sedang lo tangisin?" Tony masih kepo.


"Lo... "


"HAH?!"


Tony tidak bergeming, ia sedang berpikir. Wajah Saras serius, tidak terlihat seperti bergurau.


"Orang yang gue sukai itu bukan Mark, tapi, Antony."


Tebakan Mbak Ipeh benar. Ada maksud dari seorang gadis yang banyak bertingkah. Mulai dari merajuk minta dikirim makanan, marah ketika Tony terlambat datang dan ia bahkan menangis karena cemburu. Padahal Tony tidak merayu pekerja kafe, ia kaget karena gadis viral itu masih rajin bekerja.


"Jangan ketawa... " Saras memegang tangan Tony, "Gue suka sama lo sejak SMA. Hari pertama Din ngenalin lo ke gue dan Delia."

__ADS_1


Tony sedang mengingat momen perkenalan pertama mereka. Tidak ada yang spesial. "Lo kan sedang makan batagor dan cuek banget saat itu."


"Aslinya gue nggak bisa menelan dengan benar hari itu."


Tony tertawa puas, "Ternyata ada yang diam-diam mencintai gue bertahun-tahun."


"Hemm... " gumam Saras.


"Terima kasih banyak atas perasaan tulusnya," Tony mencium tangan Saras. "Gimana kalau kita mengakhiri hubungan babu-majikan dan berubah jadi romantis?"


Ah, Saras ingat. Dia benar-benar memperbudak Tony selama ini. "Maaf... "


"Aku maafin kok," Tony tersenyum lebar. Rasanya seperti hidup kembali setelah mati membosankan.


"Eh, aku?" Saras aneh dengan ucapan dan intonasi suara Tony.


"Aku dan kamu kan sekarang? Aku jadi tahu gimana rasanya mengucapkan kata-kata baku."


Mereka tertawa bersama.


"Jadi, jangan menyuruh pacarmu buat anter makanan lagi. Coba kamu yang anter makanan ke rumahku?"


Saras tidak terbiasa dengan suara lembut Tony. Selain wajahnya tampan, suaranya merdu, ia juga pemuda beretika.


"Beb, aku udah baca novel kamu loh," Tony menunjukan jejaknya di aplikasi novel online. "Ceritanya agak kurang ajar, tetapi, aku bahagia saat kamu setulus ini mencintaiku."


"Aku kan tipemu banget, betul?"


"Iya!"


...****************...


Setelah mengantar Mark ke bandara. Delia tidak langsung pulang. Ia berada di dekat kafe sekitar bandara dan melihat seseorang yang sangat ia kenal. Din bersama wanita lain.


"Siapa dia?" tanyanya dalam batin.


Delia tidak membahas masalah rumah tangganya di depan orang lain, meskipun itu Saras. Baginya, urusan pernikahan adalah urusan dua orang. Tidak baik banyak pihak ikut campur.


Malam harinya mereka tidak tidur satu kamar. Delia memilih untuk menemani Oma Aliyah. Kesehatan Oma menurun, ia sudah beberapa hari opname.


"Del... " suara lirih Oma membangunkan lamunan Delia.


"Oma? Jangan banyak bergerak, ya." Delia membantu Oma duduk dengan nyaman.


"Kamu kelihatan sedih. Kamu pasti capek nungguin nenek tua ini, ya?" tanya Oma dengan nada bergurau.

__ADS_1


Tidak mungkin menceritakan masalah yang ia hadapi kepada Oma. Delia berpura-pura tersenyum saat batinnya tertimpa luka dalam, "Delia nggak papa, Oma."


"Oma lega mendengar ini."


Beberapa menit kemudian. Oma tertidur. Delia masih terjaga, ia mengecek ponsel. Tidak ada pesan dari suaminya. Tidak seperti kemarin-kemarin. Din tidak lagi iseng.


"Tiba-tiba kamu jadi dingin... "


Suara ping. Ada pesan masuk dari Mark, ia mengabari bahwa sudah selamat sampai tujuan. Ia juga mengirimkan foto dengan teman baiknya, Aiden.


"Aku bersama Aiden. Dia lebih tampan kan dariku? Kamu jangan menyukainya, hahaha."


Delia tersenyum. Sudah dua kali juga bertemu dengan teman baik Mark. Saat mereka melalukan video call dua tahun lalu, ada Aiden di dekat Mark. Lalu, kemarin. Ia melihat Aiden di bandara.


"Bagaimana dengan Din?'' tiba-tiba saja Mark mengirim pesan membahas Din.


"Kamu melihatnya kemarin. Terima kasih, Mark. Kamu tidak menceritakan ini kepada Saras. Aku takut dia akan mengamuk, hehe."


"Aiden bilang, aku seharusnya berhenti ikut campur urusanmu. Tapi, Delia, kamu itu teman baikku."


Air matanya berderai membahasi wajah. Sambil mengatur suara tangisnya agar tidak menganggu tidur Oma. Kenapa ia mulai merasa bersalah karena menyakiti Mark?


"Teman baikku bilang, jangan menangisi sesuatu yang belum pasti. Lebih baik sekarang kamu istirahat. Kamu juga bisa bertanya besok. Aku mendukungmu, Delia."


Delia menatap jarum jam. Hatinya sedang tidak karuan. Rasa cintanya yang besar kepada Din mulai terkontaminasi rasa waspada. Istilah pelakor itu terlalu menyeramkan.


"Del!" suara Saras memecah lagi pergelutan batin Delia.


Saras tiba-tiba memeluk Delia, "Gue kangen banget sama lo."


"Bohong. Tony pasti bilang sesuatu."


Saras sudah mengabari orang terpenting dalam hidupnya bahwa ia dan Tony resmi menjalin asmara. Tetapi, Tony menceritakan hal yang lebih penting setelah mereka resmi pacaran.


"Katanya, gadis itu datang lagi. Dia adalah penyakit bagi hubungan Din dan Rasti di masa lalu."


"Odette, ya?'' Delia tersenyum sengit, "Gue mulai takut nih."


Saras menarik Delia untuk pergi ke area kafetaria RS -- kebetulan kafetaria buka 24 jam.


"Padahal kemarin, Din, nggak sedingin ini."


Saras memeluk Delia, "Bestie gue yang paling cantik, pliss, jangan sampai lo tersakiti. Udah cukup cecunguk Lucky selingkuhin lo di masa lalu. Nyeselnya sampai tua tuh si cecunguk!"


"Senang sekali memiliki sahabat seperti ini. Aku tidak meminta lebih, bagiku, dia adalah orang yang pandai membaca perasaanku daripada diriku sendiri."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2