
Deliana Iristi membuat banyak gadis di sekolah benci. Bukan hanya lahir dari keluarga akademisi kaya raya, dia juga memiliki kecantikan yang sulit dijabarkan logika. Beberapa anak sekolah terkejut melihat orang tua Delia. Ada yang bergunjing mustahil ia anak biologis Pak Indra.
"Apa lo anak angkat? Tapi nggak mungkin, Bang Ryan juga pasti mikir hal yang sama dong?"Saras sering menyangkal kebenaran tapi ia tidak mencaci.
"Kenapa mereka bilang begitu soal orang tua gue, Ras?" Delia miris setiap kali orang-orang bergunjing tentang Papa dan Mama. Baginya lagir dari orang tua seperti mereka adalah anugerah terindah.
"Cup..." Saras memeluk Delia, "Pasti sakit kalau mendengar cacian orang lain tentang keluarga kita."
Anehnya diantara banyak orang hanya Saras dan Din yang memahami dirinya. Din justru sering datang untuk menonton bola bersama ayahnya.
"Kalau tim ini kalah, Om Indra harus ngabulin permintaanku loh!"
"Apa coba sebutin?"
"Om Indra harus cosplay jadi gagak dan keliling kompleks Andaro nanti Aa Sultan yang videoin, hahaha."
Taruhan mereka di luar nalar. Beruntungnya tim kesayangan Pak Indra menang dan Din menerima konsekuensi yang lebih gila dari sekedar memakai kostum gagak.
"Jadi kamu siap dong terima kekalahan. Ingat yang kalah harus ngapain?" Pak Indra tertawa puas meledek Din.
"Yang kalah cosplay jadi gembel," jawabnya lirih.
"Hahaha!" suara tertawa Bang Ryan membuat suasana semakin ramai, "Jangan nantangin bokap gue, Gecko. Lo sendiri yang kalah."
Din mewujudkan keinginan Pak Indra, ia berdandan seperti pemuda udik. Delia dan Saras tentu tidak melewatkan kesempatan untuk melihat cucu konglomerat berakting menjadi gelandangan.
"Tapi tolong lepasin dulu sandal Hermes milik lo, Din." Saras mengambil paksa dan menggantinya dengan sandal japit kebanggaan Indonesia.
"Hahaha... " Delia tertawa terpingkal.
"Lo menikmati banget ya, Del?" tanya Din penuh emosional.
"Banget! Ini benar-benar bikin mood gue baik banget, Din."
Din mengacungkan jari tengahnya saat Delia mengambil foto.
Seorang pemuda berusia dua puluhan duduk di pinggir jalan menyatu dengan pedagang asongan dan pengemis. Mereka tidak tahu lelaki muda itu adalah Din Sjarier.
"Loh ini kok ada mas-mas cakep di pinggir jalan ya?" beberapa gadis muda lewat dan mengamati dengan heran.
"Gila, wajahnya spek sultan banget tapi nggak dengan tongkrongannya si parah."
__ADS_1
"Mendingan jadi selebgram kalau nggak selebtok daripada ngamen di dekat sini, Bang." Ada orang lewat yang memberi saran karena prihatin.
"Masih muda kok males!" Ada juga orang yang menghakimi.
Saat itu meski hanya berpura-pura, Din merasakan sakit hati. Ternyata menyakitkan realita kehidupan. Beberapa orang dengan gampang menjatuhkan mental orang lain. Tidak manusiawi.
"Selamat datang di kehidupan yang kejam, Bro." Seorang pengamen bertato naga menasihati Din, "Kami memang orang yang tidak dipandang tapi kami tetap senang saat bersama tertawa riang."
"Ternyata pertemanan kalian keren," ucap Din.
Setelah misi selesai. Din diam-diam mentraktir orang-orang yang tadi mengajaknya bicara. Ia meminta Tony untuk berpura-pura sebagai tim uang kaget.
"Gue udah beliin ya nasi padang dan aneka permintaan lo." Meski mengeluh, Tony menuruti Din.
"Thanks, Ton."
"Gimana proyek baru lo?" Tony mengetahui lebih dulu bakat Din. Alasan kenapa seorang cucu konglomerat tidak mengambil kuliah bisnis malahan memilih jurusan sastra dan hebatnya Din alumni UI.
"Gue nggak tahu, tapi pihak penerbit sedang menerjemahkan dalam bahasa Inggris. Di luar prediksi."
"Dan semua orang nggak sadar nama pena lo kecuali gue. Hahaha!"
Ini mungkin tidak terlalu menarik tapi baginya bukan tampang yang membuat hatinya terpikat dengan apik kepada seorang lelaki. Delia hanya pernah berkencan dengan Lucky di masa SMA dan hubungan itu pun kandas karena kesibukan Lucky.
Selama empat tahun lebih menjalin hubungan asmara dengan Lucky. Delia percaya bahwa cinta pertamanya itu adalah Lucky. Sosok lelaki muda yang berwibawa dan cerdas.
"Selamat atas kemenangan kamu." Delia pernah memberikan Lucky hadiah jaket setelah pengumuman juara OSN.
"Makasih... " ucapnya sedikit malu.
Banyak orang membicarakan kenapa seorang kutu buku yang berwajah biasa mampu membuat seorang Deliana Iristi begitu jatuh hati.
"Lo main santet, Luck?" Tony, sahabat dari Din, sering meledekinya.
Din tidak pernah ikut campur dengan urusan asmara Delia sebelum ia mengetahui fakta bahwa Lucky mulai berselingkuh saat kuliah di Semarang. Jarak yang jauh mungkin membuat Delia lupa bahwa mata pria mudah terpana jika tidak diikat dengan benar.
"Sialan lo!" Din menyeret Lucky. Ia melihat bagaimana Lucky sedang memegang tangan kekasih gelapnya dengan santun, "Gue bakal hancurin lo dan segala kewibawaan palsu lo!"
"Siapa si dia, Beb?" gadis berambut coklat muda itu menatap Din sinis tapi ia juga menemukan bahwa pemuda yang sedang meluapkan amarah itu bukan orang biasa. "Dia pake jaket seharga motor gue, sialan."
"Bilang pun bagi gue nggak masalah. Hubungan gue udah rusak sama Delia." Lucky tersenyum sarkas. "Apa gunanya punya pacar saat dia justru yang bikin gue semakin insecure... "
__ADS_1
Din menghantamkan tinjunya dua kali sebelum Tony datang, "Cowok kaya lo nggak pantes buat Delia!"
Lucky tertawa, ia malu tapi ia sudah lama merasa ada yang salah dengan Din dan Delia, "Daripada lo bersembunyi di balik pertemanan kan? Mustahil nggak nyimpan perasaan saat lo sendiri mentapnya berbeda?"
"Udah diam, Luck." Tony mencoba menjadi penengah.
Din mencoba sabar karena di area parkir banyak orang sudah berkumpul. Bahaya jika salah satu mata-mata orang rumah melihat perkelahian Din.
Berita putus Delia dan Lucky sudah menyebar dengan cepat. Bahkan ayah Lucky sampai minta maaf kalau benar sang anak pernah menyakiti Delia.
"Lo nggak papa?" tanya Din. Tatapan matanya tertuju kepada Delia, ia memperhatikan mata sembabnya. "Mau makan sesuatu nggak? Order apapun dari yang murah sampai mahal, gue bayarin asal itu bikin lo nggak sedih."
"Gue cuma sedih karena ternyata alasan hubungan kami renggang itu salah gue, Din. Kenapa Lucky baru bilang sekarang? Padahal nggak masalah bagi gue, gue bukan gadis yang terobsesi dengan laki-laki tampan."
"Ya, gue percaya itu," Din mengelus pucuk kepala Delia. Rambutnya halus dan bau wangi sampo khas Delia. "Sekarang lo harusnya lebih banyak berpikir kenapa Lucky hanya menitikberatkan semua kesalahan sama lo. Gue yakin dia cerdas dalam pendidikan tapi nggak soal memanusiakan perasaan."
Yang menenangkan dan membuatnya tertawa kembali tetap Din.
Perlu waktu lama baginya untuk menyembuhkan luka karena dikhianati seseorang yang dicintai. Bahkan ia perlu mengatur suasana hati saat menjadi tamu undangan di resepsi pernikahan Lucky.
"Selamat tinggal... " ia hanya membatin.
Rasa kesal karena pengkhianatan hampir ia lupakan tapi dengan sembarangan seseorang mengungkit kembali.
"Kata Mas Lucky loh... " Mas Jarot membeberkan fakta baru, "Katanya kamu yang mohon-mohon buat nggak diputusin dulu. Apa benar begitu?"
"Arggggh!" Delia semakin kesal. Sepertinya Lucky meceritakan bualan kepada orang-orang awam.
Delia kebetulan melihat Lucky sedang menyiram tanaman kesayangannya. Suasana lumayan sepi. Delia membawa sebungkus oncom. Tanpa basa-basi, ia melempar ke wajah Lucky.
"Dasar narsistik! Kapan gue mohon-mohon buat nggak diputusin?" Delia melirik, "Kapan tepatnya kejadian itu?"
Lucky terpojok, ia juga malu. "Iya gue salah, nggak lagi-lagi bergosip sama Mas Jarot deh. Maaf..."
"Lucky, kamu ya!" Pak Haji yang mendengar kebisingan menyadari bahwa sang anak berulah lagi, "Delia, Om minta maaf ya. Nanti Om akan bawa Lucky ke tempat ruqyah siapa tahu di dalam dirinya masih ada sisa jin beraura negatif... "
"Bawa aja Om."
Din dan beberapa orang menikmati drama oncom dengan senyum riang, ia juga melambaikan tangan.
Bersambung...
__ADS_1