Marry Din

Marry Din
Part 41


__ADS_3

Hari karnaval di kampung.


Delia menarik Din menuju tempat berkumpul lebih awal. Ia sangat bersemangat, mengingat mereka kembali mengenakan seragam SMA.


"Ini seperti nostalgia jaman SMA." Delia merapikan baju Din. "Gantengnya."


Din tersenyum. Mereka lalu berbaris seperti arahan Mas Jarot dan Pak RT. Semua orang tertuju melihat pasangan ini. Tidak bisa dipungkiri, perpaduan lelaki tampan dan perempuan cantik terlalu menarik.


"RT lima harus jadi jawara! Jaya, jaya, jaya!" begitulah yel-yel regu mereka yang merupakan ide Mas Jarot.


Dua puluh orang sebagai perwakilan RT berjalan dengan wajah riang mengelilingi kampung. Mereka juga melambaikan tangan dan tersenyum. Memperingati hari kemerdekaan di kampung yang jauh, membekas sungguh di hati mereka.


"Ini pengalaman pertama buat aku," bisik Din.


Delia hanya membiarkan langkah mereka sejajar sambil sesekali meringis. Seperti menikmati acara sekolah di masa lalu. Ia sering dipasangkan dengan Din.


"Aku juga seneng banget hari ini." Delia memegang balon berwarna merah putih, namun tangan kirinya tetap meraih jemari Din.


"Jadi ingat saat SMA. Kita dipaksa ikut karnaval serupa, dipasangkan dengan sengaja."


"Saat itu, kamu terlihat sebal." Delia hanya ingat raut wajah kecewa Din kala itu. "Kamu kan gak suka dipasangkan terus denganku, dari SD hingga SMA."


"Boleh nggak aku nampar wajah sendiri di depan kamu?'' Din tampak menyesal dalam. Sebuah kebodohan di masa silam. "Atau menenggelamkan diri?"


"Jangan dong!" tegas Delia.


Selesai karnval. Delia berpartisipasi dalam lomba memasak cepat bersama Mas Jarot. Din bahkan melakukan siaran langsung dengan akun instag*ram Delia. Beberapa anggota keluarga dan kerabat memberi semangat dan terkaget.


abeladadimana


Semangat, onty! Hadiahnya nanti buat om saja! Hahaha


saraschabbby


Woyyyyyy kalian para pengkhianat yang asyik ikut lomba tanpa ngasih kabar gue😭


antoniovander


Gue yakin sang suami sedang terpana, ihir, ciye!


ryansyahindra


Emang boleh sekompetisi ini?


inezinezqueen

__ADS_1


Delia pasti menang👐


Din tidak membalas satu pun. Benar yang Tony katakan, ia terpana. Melihat betapa gigih Delia bahkan dalam kompetisi sederhana. Tidak pernah ia meremehkan hal-hal kecil.


Tim mereka melaju di babak final. Delia sangat yakin dengan kemampuan memasaknya, namun perpaduan bumbu dari Mas Jarot tidak bisa diragukan lagi akurat.


"Rasanya udah pas!" ucap Delia.


Mereka berhasil menyajikan makanan unik yang jarak dipikirkan oleh orang lain; terong crispy dengan saos ikan teri.


Setelah setengah jam menunggu penilaian dan keputusan juri. Tim mereka memenangkan juara pertama.


"Selamat, Sayang." Din berjalan ke depan panggung.


"Selamat untuk tim Jarot dan Delia!" ucap MC.


Acara selesai sore hari. Delia yang lumayan capek berjalan, meminta Din untuk menggendongnya. Mereka hampir sampai di rumah, tetapi, ia lelah dan berniat manja.


"Capek, ya?" tanya Din.


"Banget... "


"Nanti langsung mandi, solat dan tidur."


Delia mengangguk. Ia tidak menyangka, aktif berkompetisi begitu menyenangkan. Dan yang paling tidak ia sangka, Din menyiapkan air hangat untuk mandi begitu ia sampai di rumah.


Delia menarik kerah baju Din, ia juga mengecup bibir lekaki itu dengan lembut. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih untuk air hangatnya."


"Aku belajar untuk menjadi suami yang lebih baik dari hari ke hari. Jangan lupa, beri aku kritik dan saran," Din menatap Delia dengan berkaca.


...****************...


Di kamar yang luas dengan nuansa merah muda. Dina sedang berdiskusi dengan banyak hal di kepala. Akhir-akhir ini, ia merasa kacau. Soal pembagian warisan. Digo menginginkan tanah beberapa hektar juga. Kakak tertua yang rakus itu membuatnya stress.


"Mami masuk, Din." Mami Almira masuk dengan membawa nampan berisi segelas jus melon kesukaan Dina.


"Papi sering bertemu Tante Lady, kan?''


"Dia itu kan masih istrinya, meskipun siri."


Ada sedikit kecewa di hati Dina. Seandainya ia tidak melihat senyum bahagia sang ayah bersama ibu kandung Din, mungkin tidak akan sesedih ini.


"Mami sedih?" Dina memeluk erat Mami Almira.


"Tentu."

__ADS_1


Setelah mengantarkan jus. Mami Almira pergi ke kamar. Ia tidak ingin bersedih lagi, toh, itu bagian dari resiko masuk keluarga Sjarier. Dulu ia menerima saja tawaran dijodohkan karena itu Donny Sjarier. Hampir semua wanita di masa lalu, ingin menjadikannya suami.


"Jangan begitu, Lad." Samar, ia mendengar suara suaminya sedang berbicara di balkon dengan Lady.


"Aku akan pikirkan cara agar kalian tidak terluka."


...****************...


Setelah kematian istri pertamanya, Anita, Donny Sjarier memutuskan untuk dingin terhadap wanita manapun. Tetapi, Lady berhasil dengan cara licik membuatnya menikahinya.


"Kalian akan kencan terang-terangan dan berniat menghancurkan mental Dina, Mas?" Almira menghadang Donny.


"Mir, kamu serius dengan perkataan barusan?"


Almira menatap kesal suaminya. Puluhan tahun hidup bersama dengan seseorang yang setengah mencintainya. Di depan anak-anak, ia berperan sebagai lovely daddy.


"Kamu dua hari ini puas, Mas?"


Donny yang hendak memejamkan mata, akhirnya bangkit dan beranjak pergi. "Dia itu istriku juga."


"Kamu pernah nggak mikirin gimana hancur hatiku setiap kali berpura baik-baik saja di rumah ini dan mencoba jadi ibu yang baik?" Almira menatapnya lama, ia hampir meledakan air mata yang tertahan. "Aku harus ikut berperan membesarkan dua anak laki-laki yang lahir bukan dari rahimku. Mereka lahir dari dua rahim wanita lain, Mas!"


Donny hanya diam. Faktanya, ia juga bukan suami terbaik bagi Almira. Setelah ditinggal istri pertama, ibu Digo, hidupnya seperti mengambang. Lalu, suatu hari, ia bertemu dengan Lady. Gadis dari fakultas yang sama saat menempuh pendidikan S2 di Universitas Yale.


"Aku minta maaf kalau masa laluku masih menyakiti kamu, Mir."


"Yang aku heran cuma satu, Mas. Kamu itu selalu memperhatikan Lady meskipun kamu juga terlihat mencintaiku. Ini sangat menyakitkan terkadang."


"Iya, aku minta maaf. Aku memang bukanlah pria dewasa yang baik, tapi sebagai seorang ayah dan suami. Aku ingin bilang satu hal. Mir, tolong jangan sakiti Din."


Almira tertawa sarkas. Mendengar perkataan konyol Donny.


"Jangan sakiti Din."


Dalam batas tertentu, ia sudah maskimal untuk menyembunyikan banyak fakta di rumah Sjarier. Tetapi, begitu Lady mendatanginya dengan air mata, semua berubah.


"Bagaimana bisa, Mas?" Lady memukul-mukul lengan Donny. "Aku nggak akan diam lagi kalau melihat anakku... "


Donny langsung memeluknya erat, "Aku akan berusaha untuk mencegah hal itu, Lad."


"Din itu anak kamu, dia adalah yang paling mirip denganmu dari dua anakmu yang lain."


"Aku tahu itu," ucap Donny sembari mengelap air mata Lady, "Terima kasih sudah melahirkan Din ke dunia ini."


"Ingat, dia adalah anak kita."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2