
Saras buru-buru menutup laptop kerja dan menuju ke tempat Delia berada.
"Seharusnya lo bahagia bukan tersiksa gini, Del." Saras tidak tahu jika Delia kesulitan menuju hari pernikahan.
Delia memeluk Saras, "Gue... Capek, Ras."
Tangan kanan Saras mengepal rasanya ingin meninju Din. Belum lama ini, ia juga memergoki Din bertemu Rasti di kafe. Apa yang Din lakukan tentu tidak dibenarkan.
"Lo masih punya waktu buat batalin. Gue takut dia semakin sesuka hati!"
"Mustahil."
"Lo punya impian, Del. Bagaimana dengan Mark? Dia pasti bisa memahami lo lebih baik dari Gecko kan?"
Delia semakin terisak, rasanya seperti menelan racun. Belum lama ini ia berekspetasi untuk membina rumah tangga yang indah dengan Din. Tapi sikapnya dingin menjelang hari pernikahan. Padahal mereka pernah saling bertatapan malu usai bibir mereka bertemu.
Saras mengantar Delia pulang. Tidak mungkin meninggalkan seseorang yang terguncang emosi untuk pulang sendirian.
"Lo minum dulu, Del." Saras menyodorkan sebotol air mineral dingin. "Jangan nangis deh, suara lo itu cempreng banget."
"Lo pintar ngomong semenjak jadi penulis, Ras."
"Hahaha!"
Setengah jam kemudian setelah Saras tertidur di kamar tamu, Delia pergi untuk menemui Din. Din mengirim pesan, ia sudah duduk di ruang tengah. Saat menuruni tangga, Delia memang melihat Din yang begitu santai menikmati camilan.
"Gimana fitting tadi?" tanya Din tanpa merasa bersalah.
"Oke," jawab singkat Delia.
Mereka duduk berdekatan dengan perasaan masing-masing. Delia bahkan membatalkan pertemuan dengan Mark. Din masih santai dan terlihat baik tanpa perasaan menyesal.
"Besok kamu nggak usah bawa mobil, kita diantar oleh sopir rumahku ke bandara. Aku udah menghubungi tim fotografer juga." Din masih menikmati camilan kacang atom sambil sesekali tersenyum melihat acara talk show TV.
"Aku capek dari minggu kemarin sendirian. Kamu kemana? Apa kamu belum selesai dengan masa lalu?" Delia tipikal to the point. Ia tidak lihai untuk basa-basi.
Din terdiam beberapa detik, ia bukan bermaksud menyembunyikan pertemuan dengan Rasti dari Delia. "Kamu marah, Del?"
Delia memalingkan wajahnya dari Din, "Jangan ajak aku ngomong."
"Kamu tadi nangis ya?" Din seharusnya lebih peka, ia justru mengorek luka.
__ADS_1
"Aku capek, Din. Aku seperti menikah sendirian. Apa cuma ini eskpetasiku yang ketinggian?"
"Nggak... " Din mendekap Delia. "Kamu capek banget ya? Aku minta maaf ya."
"Apa kamu pernah tanya keadaanku seminggu ini? Kamu itu cuma tanya udah beres belum, kalau ada yang kurang, kalau ini, kalau itu... Aku capek, Din."
Din mendekap lebih erat tubuh Delia, "Aku emang salah. Aku juga minta maaf lagi karena seminggu ini aku memang jarang pegang handphone. Aku selesain kerjaan lebih cepat biar kita bisa bulan madu lebih lama."
Delia tersenyum sengit, "Kamu udah mikirin bulan madu padahal kamu nggak mencintaiku?''
"Aku memang belum mencintai kamu, Del. Tapi aku yakin setelah menikah hubungan kita berbeda."
"Aku harap kamu ingat ini, Din. Kamu harusnya udah tahu kalau sampai ada perselingkuhan dan perceraian, hak waris kamu hilang dan semua kekayaan kamu pindah." Delia menegaskan sekali lagi. Ia tidak main-main.
Lelaki itu tersenyum, anehnya ia menikmati momen setiap kali Delia bicara ketus. Sudut bibirnya lucu.
"Aku mohon kerja samamu saat kita menikah nanti. Ini pernikahan pertama, ini juga pengalaman pertama untuk kita."
"Terima kasih karena mau menikah denganku." Din melingkarkan kedua tangannya di pinggang Delia, ia juga berbisik, "Aku boleh cium kamu nggak sekarang? Kamu itu cantik banget."
"Nggak!" Delia menutup bibirnya dengan tangan.
Dari lantai dua. Saras yang sudah bangun tidur sedang menikmati drama romantis sore hari ditemani Bi Surti.
"Benar itu, Mbak."
...----------------...
Hari pemotretan pre-wedding di Singapura. Din sudah menghubungi salah satu staf studio foto. Mereka akan mengambil dua foto saja. Karena harus kembali esok hari.
"Okay, great!"
"Thanks, Sir."
Pemotretan memakan waktu tiga jam. Tidak ada kendala. Delia juga tampak bahagia. Dia tersenyum kepada semua orang yang bekerja untuk mereka. Tidak lupa, ia juga membagikan sedikit camilan asli Indonesia.
"Thank you so much."
Delia tersenyum puas mendengar orang-orang menikmati camilan viral di kompleks Andaro tersebut.
Sesaat ia berpikir apa keputusan menikah Din sudah benar, ataukah pernikahan paksa yang mereka lakukan hanya demi rekayasa. Din tidak mencintainya, masih ada Rasti di dalam hatinya. Cinta pertama tokoh utama yang sulit disingkirkan. Sementara Delia, ia saja belum menemui Mark karena alasan waktu yang belum tepat. Tapi, ia akan mengundang Mark di acara resepsi pernikahan. Mungkin juga Mark menyadari gadis yang ia sukai ini ternyata jahat.
__ADS_1
"Aku mau jalan-jalan sebentar di Newton Food Centre."
"Hmm, jangan pulang tengah malam." Dia hanya mengatakan beberapa kata tanpa peduli.
Delia memutuskan untuk menikmati waktu sendiri, ia pernah dua kali datang ke Newton Food Centre. Yang pertama dengan keluarga dan yang kedua dengan Saras. Berbekal maps ponsel dan membawa banyak uang tunai. Ia ingin menjernihkan pikiran buruk sebelum pernikahan.
"Demi mencicipi kembali Hup Kee Oyster Omelette dan kepiting saus Singapura..." Delia sudah memantapkan tujuan. Ia mengunjungi kedai R&B Express dan memilih area indoor untuk makan.
Ia tidak menyesal karena menikmati waktu sendiri. Menyantap makanan enak juga merupakan obat penyembuh lara terbaik untuknya.
Pukul sepuluh malam. Delia tidak ingin langsung pulang, ia mampir untuk duduk di kerumunan. Menepis kesepian.
Orang-orang yang datang bersama pasangan mereka terlihat bahagia, saling melempar senyum dan bercanda. "Kapan ya kami begitu?"
Seseorang memperhatikan Delia terus menerus. Seorang gadis cantik berbicara sendirian. Pasti karena kesepian tanpa pasangan. "Halo?"
Suara orang asing membuat Delia kaget, ia membalas sapaan degan menundukan kepala. "Hello... "
"Khuṇ xyāk cex c̄hạn h̄ịm?"
Delia diserang sakit kepala. Ia tahu jika orang asing tersebut berasal dari Thailand, tapi rasanya telinga ikut membeku seketika. "Dia ngomong apaan?"
"Khuṇ s̄wyngām māk."
"I don't know what are you saying but i just say sorry and thanks!" Delia pamit undur diri. Tidak mungkin berkenalan dengan pria asing yang langsung memuji wajah. Mencurigakan tentu. Ia langsung memesan taksi dan bersiap pulang ke hotel.
Delia tidak melupakan Din, ia juga membawakan makanan dan kopi untuk Din. Kamar mereka berdekatan. Kebetulan tidak dikunci, Delia berulang kali mengetuk pintu. "Din... Aku tadi ketemu orang Thai... "
Din tidak mendengar suara Delia, ia sedang melakukan panggilan video dengan seseorang. Yang lebih menyakitkan lagi ia tertawa begitu lepas.
"Aku yakin kamu itu lupa deh kalau Bruno belum dikasih makan."
"Tapi itu lucu banget kalau Bruno dan Runo foto bareng,'' lanjutnya. Delia tahu nama Bruno dan Runo. Kucing peliharaan Din dan Rasti.
Matanya sudah tidak kuat untuk menahan tangis. Semakin dalam rasa suka yang mulai ia rasakan kepada Din, semakin luas penyesalan yang akan ia dapatkan.
Bersambung...
......................
Foto pre-wedding Delia dan Din menggunakan konsep sederhana dan elegan kurang lebih seperti ini.
__ADS_1