
Delia setengah berlari, ia sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara saat menangis.
"Delia!" Panggil Din begitu menyadari kepergian Delia.
Seorang gadis meneteskan air mata keluar dari kamar calon suaminya sendiri. Bukan hanya kisah novel yang membuatnya takjub dan berpikir tidak mungkin. Ia mengalami sendiri. Merasakan jatuh sendiri.
Di hadapan dua keluarga, ia harus menjaga sopan santun dan bersandiwara bahagia. Malam ini, ia ingin sekali menangis keras untuk melepas derita batin. Terkoyak dengan kenyataan. Din masih belum move on dari Rasti.
Delia memilih untuk berjalan-jalan sebentar sambil menenangkan pikiran. Beraninya Rasti dan Din masih berhubungan dengan santai, tidak, mereka tertawa bahagia membicarakan dua ekor kucing.
"Del!" Din ternyata mencari Delia selama dua puluh menit di sekitar hotel.
Seperti angin segar yang menyapa wajahnya mesra. Ada sebuah pikiran gila yang terbesit dalam otak Delia. Dia tidak boleh kalah dari masa lalu Din. Ia harus mengalahkan Rasti.
"Kamu ngapain tadi lari?" Din menyeka keringat di atas bibir Delia. "Besok kita berangkat pagi loh, Del."
"Aku takut ganggu momen kalian."
"Rasti bilang anak-anak kangen denganku... " Din berbicara layaknya ia seorang ayah kucing.
"Oh ya?" tanyanya.
"Bruno semakin besar, Runo juga bikin gemas. Duh... "
Delia tiba-tiba agresif, ia melingkarkan tangan di leher Din. Menatapnya penuh perasaan sayang. "Jadi kamu masih terikat dengan ibu kucing karena mereka ya?"
"Aku akan mengambil Bruno."
"Jangan."
"Ah, kamu kan takut dengan kucing." Din bisa memahami Delia tapi terkadang ia sendiri lupa bahwa Delia benar-benar takut kucing.
Delia memeluk Din, ia tidak peduli dengan setengah hati lelaki tersebut milik siapa. Yang jelas malam itu berkat pertemuan tidak sengaja dengan turis asing membuatnya lebih berani.
"Kamu kok manja banget, Del?" Din sampai kewalahan, Delia menempel erat. "Ini kamu kenapa?"
"Malam ini aku takut tidur sendirian, Din."
"Kamu tadi nggak ngelihat hantu kan?" tanyanya heran.
Seharusnya Din tidak usah mengejar seorang gadis yang menangis karena penghinaan. Delia akan memanfaatkan sebuah momen untuk menghancurkan sisa rasa cinta Rasti. Berkat novel yang Saras tulis, ia mengambil sebuah pelajaran berharga. Kalah atau dikalahkan.
"Del, tidur sana. Ini udah jam dua belas malam. Nggak usah takut lagi." Din menemani Delia. Baru pertama kali, ia melihat sosok Delia yang ketakutan tanpa unsur candaan.
"Nggak... " Delia menyandarkan kepalanya di bahu Din. Rasanya hangat dan beruntungnya bahu lelaki itu lebar. "Aku suka begini. Aku juga suka wangi parfum kamu yang selalu sama... "
__ADS_1
"Hmm... " Din mengelus wajah Delia, "Maaf aku tadi nggak menemani kamu jalan-jalan ataupun makan."
"Kan saat menikah nanti, kamu akan selalu ada. Sekarang aku masih bisa berikan toleransi."
"Beneran?" tanyanya.
"Iya," balasnya.
Delia tertidur tanpa sadar. Tubuhnya begitu nyaman saat bersandar. Hari-hari berat yang ia lewati seolah mulai padam semenjak semangat baru merasuki. Mengalahkan cinta pertama Din.
Sinar mentari mulai terasa menembus jendela. Tirai yang terbuka lumayan lebar membuatnya mau tidak mau harus bangkit dari tidur nyenyak.
"Hoam... " Delia membuka mata lebih lebar. Ia menemukan posisi tidurnya berubah. Bukan lagi di sofa melainkan ranjang. "Din pasti yang mindahin."
Pertama kali baginya melihat Din tidur nyenyak di sofa. Delia iseng menyentuh wajah Din. Tidak ada bekas jerawat, wajah glowing di pagi hari dan bibirnya seksi. "Kamu itu indah."
Diam-diam Delia mengambil foto saat Din masih tidur, ia sengaja mengunggah story dengan kalimat manis agar seseorang mulai merasa getir menyambut harinya.
delianairistiindra
Thanks, My Din. Aku jadi bisa tidur nyenyak semalam ๐ @dinsjarier #marinabaysands
Orang yang pertama memberikan komentar adalah Tony, "Loh? Kalian? Hmm."
Dan orang kedua yang bereaksi histeris adalah Saras, "Jangan bilang lo udah di unboxing Gecko? No!"
"Ciye bucins!" Saras melakukan perintah Ibu Peri dan benar hanya dalam hitungan detik, Rasti datang karena penasaran. Apalagi Delia terang-terangan menggunakan foto Din yang masih tidur. "Gue beneran nggak nyangka, lo segila ini. Padahal kemarin di Mall, gue udah sedih banget."
"Seperti novel yang lo tulis sendiri. Kalah atau dikalahkan."
"Keren!" ucap Saras antusias.
"Gue matiin telepon ini ya, mau siap-siap pulang. Ingat, hari Sabtu gue nikah."
"See you, Bestie."
...****************...
Hari yang tidak pernah mereka sangka datang dalam kehidupan masing-masing. Hari pernikahan dua orang yang bersahabat sejak kecil menjadi buah bibir apalagi terlalu mendadak.
Delia menghabiskan hampir tiga jam demi mendapatkan riasan elegan tapi natural. Gaun pengantin yang ia pakai merupakan karya terbaik Kak Inez, tunangan Bang Ryan. Gaun seharga tujuh puluh jutaan mampu menampilkan kesan anggun mempelai wanita dengan proporsi tubuh indah sepertinya.
Beberapa kali ia melempar senyum ke arah Papa dan Mama. Meyakinkan bahwa pernikahan terpaksa yang ia lakukan akan membawa kebahagiaan kelak.
"Del... " Bang Ryan juga menangis. Seperti melepas sesuatu yang ia paling sayangi.
__ADS_1
"Nggak usah nangis terus deh," Kak Inez menepuk bahu kekasihnya dan menyadari air mata bercampur ingus membuatnya bergidik.
"Maaf, Yang. Aku emosional... "
"Iya, tapi bersihin dulu ingusnya dong." Kak Inez mengambilkan beberapa helai tisu dan dengan sabar menenangkan Ryan.
Acara ijab selesai dan mereka sudah resmi sebagai pasangan suami-istri. Din sendiri tidak pernah membayangkan gadis yang ia nikahi itu Delia. Bahkan memimpikan Delia saja tidak pernah.
Oma Aliyah tersenyum bahagia begitupun dengan anggota keluarga mereka. Saras masih menangis di sudut ruangan lain karena tidak rela melepas sahabatnya untuk Gecko.
Acara resepsi dilaksanakan malam hari. Tamu yang diundang terbatas, hanya keluarga dan kolega terdekat. Dari pihak Din, ia memiliki banyak teman. Tentunya Din menemani mereka mengobrol terlebih dahulu. Sementara Delia sering bersama Saras, menemui beberapa teman saat mereka S2. Ada beberapa guru masa sekolah yang hadir, dosen saat kuliah dan beberapa orang yang tidak disangka.
"Selamat buat mantan cantik gue." Lucky dan sang istri datang.
"Selamat buat Delia dan Din," istri Lucky memeluk Delia. "Nggak nyangka tebakan gue saat di Semarang beneran kejadian loh, Pi! Din suka kan sama Delia dari dulu."
"Mungkin benar, Mi!" balas Lucky.
Tunggu. Delia tidak tahu apa yang sedang Nana bicarakan. Tapi demi menjaga kesopanan, ia tetap tersenyum ceria meski di masa lalu mereka pernah menyumbang luka.
Saras tidak ingin ikut campur. Ia mengalihkan pandangan dan menemukan bahwa Mark datang datang dan melambaikan tangan, "Mark!"
Mark menyadari sosok yang melambaikan tangan adalah Saras, sahabat baik Delia. Mereka pernah video call bertiga, tentunya dengan Delia.
"Congrates! I hope you always happy!" Mark tidak memeluk Delia, ia hanya bersalaman. Beberapa hari di Jakarta membuatnya belajar budaya dan kebiasaan masyarakat setempat. "Now, you are somebody's wife... "
Delia meneteskan air mata, ia sudah berusaha semaksimal mungkin tapi kalimat yang Mark ucapkan merupakan pukulan telak baginya. "Mark... "
Dari kejauhan. Din sedang asik mengobrol dengan Tony dan juga geng motor besar mereka. Tetapi salah seorang teman SMA datang, "Din, pria asing yang bersama Delia itu mantan pacarnya ya? Tadi kayaknya Delia itu meneteskan air mata."
Tony melirik, memang benar. Seseorang yang sering Saras bicarakan mungkin adalah Mark. Pria asing dari Swiss yang membuat seorang Delia terkesan.
"Wow, ini berat, Din." Tony merangkul sahabatnya, "Saingan lo datang."
Din tidak merasa tersaingi sama sekali. Tinggi mereka sama, wajah juga ia tidak kalah. Rambut cuma beda warna. "Itu mantan gebetan Delia."
"Gue tim rambut hitam!" Tony meledek Din.
"Berisik lo."
"Tapi beneran pas di Singapura, gue penasaran satu hal. Lo belum unboxing Delia kan?" Tony tidak biasanya penasaran tapi seru meledek Din.
"Niat gue malam ini. Ada masalah?" balasnya dengan nada menantang.
"Hahaha!"
__ADS_1
Bersambung...