Marry Din

Marry Din
Part 22


__ADS_3

Hanya karena membenci seseorang, bukan berarti ia layak untuk didoakan mati. Celah kebencian yang tertanam di dalam hati tanpa terasa akan merusak diri. Manusia memang kompleks dalam berpikir, tapi seseorang yang tidak menerima maaf orang lain; tidak bisa disalahkan.


Wanita berusia dua puluh lima tahun itu sudah tahu jika kecemasannya di masa lalu tidak lagi imajinasi, menjadi nyata. Segigih apapun bertahan dalam hubungan, mereka tidak ditakdirkan bersama.


Status sosial begitu memuakkan baginya. Semenjak mulai bekerja di salah satu kantor kementrian dan mengurungkan niat S3, ia banyak berpikir; status yang tinggi akan dihormati bahkan saat menginjakan kaki di lumpur. Keluarga Sjarier terkenal tanpa rumor. Tidak banyak media dapat meliput bahkan saat Din dan Delia menikah.


"Rasti, apa kamu masih memikirkan Din?" tanya ibunya


"Ya, jelas, Bu."


Ibu memeluknya, "Pasti nggak mudah, tapi kamu pasti bisa dapat yang lebih kaya dari dia. Lagian, Din itu, dia nggak mau masuk ke perusahaan keluarga, nggak mau gitu kerja kantoran."


Rasti tidak memberitahu siapapun jika Din adalah Dylan, penulis terkenal. Tentu kaya. Din bahkan sudah mengenakan baju bermerek, baginya itu seperti membeli permen mint.


"Begini lagi," Rasti pernah mengeluh sebal. Ia melihat Din begitu bebas membeli kaos jutaan rupiah tanpa pikir panjang.


"Abis kaos ini tuh kayaknya paling pas buat santai."


Terbiasa hidup nyaman membuatnya tidak banyak berpikir untuk menghabiskan uang jutaan rupiah dalam sekejap mata.


"Kamu juga jangan pakai tas kusam itu lagi." Din memberinya tas mahal; miu-miu. "Pakai ya kalau ngampus."


Hadiah mahal pertama yang ia dapatkan setelah menjadi kekasih Din. Terkadang, ia berpergian ke luar negeri dan membawa buah tangan untuk keluarga Rasti. Teman-temannya selalu bergunjing tentang betapa nyaman masuk dalam keluarga Sjarier. Mereka tidak perlu lagi berjuang esktra untuk mendapatkan pekerjaan.


Rasti membuka lemarinya. Banyak barang-barang mewah pemberian Din yang masih ia gunakan. Mulai dari sepatu Bottega Veneta yang masih sering ia pakai ke acara resmi, kacamata Dior hingga sweater Gucci.


Ia mulai mengikuti akun Delia. Memantau hubungan mereka, apakah berlanjut sangat mesra seperti cerita orang. Delia tidak sering memakai pakaian mahal, bahkan tasnya tergolong terjangkau.


"Delia lagi pesta piyama sama Saras," Rasti melihat seksama layar ponselnya. "Ah, Saras kelihatan happy."


Menurutnya, ia sudah berusaha maksimal mendekati Saras sebagai sepupu. Tetapi, ia tetap saja dibenci. Mungkin karena Raffa dan ibunya pindah dari rumah utama. Ia tidak merasa bersalah, ia justru bahagia karena mendapatkan seorang ayah dari kalangan pejabat.


"Din, aku kangen kamu." Rasti mengirim pesan suara kepada Din.


Din tidak pernah membalas. Ia juga tidak membuka pesan. "Apa dia pakai nomor lain? Din selalu punya dua hape."


Kesal karena tidak pernah dibalas, Rasti sering bertanya kepada Tony. Bukan jawaban yang ia dapatkan justru candaan.

__ADS_1


"Lo nanya?" tanya Tony, ia sedang sibuk bersama pekerja bengkel membahas sesuatu.


"Din udah nggak peduli lagi sama gue, Ton."


"Hadeh... " Tony menghela napas sesaat, "Benar-benar hidup lo kurang gebrakan, Ras."


"Tolong bilangin Din, buka pesan dan cepat balas!" ucap Rasti dengan nada tegas.


"Lo bercita-cita jadi pelakor, ya? Halo, ini 2023 dan lo punya mimpi kaya gini? Daripada jadi pelakor, mendin lo coba daftar audisi kontes dangdut. Muka lo mendukung buat berdendang."


Rasti langsung mematikan telepon. Benar-benar menyebalkan jika bicara dengan Tony.


...****************...


Delia dan Saras puas karena berhasil mengantarkan Riri menuju pelaminan megah dengan tamu undangan tujuh ratus. Tidak disangka koneksi keluarganya begitu luas.


"Lega... " Saras bersandar di bahu Delia, "Tinggal gue yang belum menikah."


Delia menepuk bahu Saras. Ia juga tidak mengira akan menikah lebih cepat, jodoh memang misterius tetapi dijodohkan juga tidak terlalu buruk.


"Kamu cantik banget," kata Din sembari melirik kaca mobil.


"Makasih."


"Kalau capek, tidur aja deh."


Selama dua jam perjalanan pulang, Delia tidur nyenyak. Begitu bangun, ia sudah sampai di depan rumah Din. Satpam langsung membuka pintu gerbang. Oma menyambut kedatangan mereka. Ia sudah menunggu kepulangan Delia.


"Delia harus istirahat dulu, Oma." Din mencegah Oma yang berniat mengajak Delia pergi ke arisan kompleks Andaro.


"Maaf, Oma. Delia ijin dulu absen arisan." Delia tidak enak mengingkari janjinya tapi melihat eskpresi cemberut Din jauh menyebalkan.


"Ini pasti karena Din." Oma Aliyah berlalu, ia tidak masalah berangkat sendiri. Toh, nanti bertemu banyak orang.


Setelah mandi, Delia dibuat heran dengan sikap Din. Din menyiapkan jus jeruk dan menaruhnya di meja kamar. Sikap yang tidak biasa.


"Kamu yang bikin jus?" tanya Delia.

__ADS_1


Din tersenyum, "Yang jelas, nggak."


Delia tidak akan percaya seorang anak manja seperti Din mampu menyiapkan makanan dan minuman sendiri. Tapi ia menghargai hal-hal kecil, perhatian sedikit demi sedikit dari Din.


"Terima kasih, Sayang," Delia mencium pipi kiri Din.


Din tertawa.


"Kamu kenapa, Sayang?"


"Aku seneng banget karena kamu pulang," bisik Din.


Delia memeluk Din erat. Kedua tangannya tidak ingin melepas pelukan. Entah kenapa, ia juga merasakan rindu yang memuncak padahal hanya semalam berpisah.


Din mengangkat tubuh istrinya dan memindakannya ke ranjang untuk berbaring, "Kamu capek. Malam ini, kamu harus tidur nyenyak."


Kedua tangan Delia masih melingkar di leher Din, ia memang mengantuk, tapi rasanya ingin sekali menyentuh bibir Din.


Lalu, Din mencium bibir Delia lebih lama. Demi menebus kerinduan, ia hampir serakah. "Ini udah lebih dari cukup. Selamat tidur, Sayang," Din mencium kening Delia.


Delia masih melingkarkan kedua tangannya di pinggang Din, ia belum sepenuhnya terlelap. Masih ada ganjalan dalam pikiran. Tentang pesan ancaman yang ia dapatkan kemarin malam. Ia belum berani bercerita.


"Kamu tidur," Din menatapnya. Mata mereka bertemu. "Apa kamu lagi mikirin sesuatu?"


Tiba-tiba ia kepikiran saat bertemu teman kuliah. Mereka memiliki karir bagus, pendapatan besar dan pantas dibanggakan. Sementara dirinya, masih seperti sebelumnya. S2 pengangguran. Bahkan Saras tidak sepenuhnya menganggur. Ia seorang penulis novel online populer sekarang. Din juga yang terkesan santai, dia memiliki pekerjaan dengan bayaran fantastis.


''Mereka bicara pencapaian, karir dan tujuan masa depan. Aku rasa, aku masih jalan di tempat... "


Din memegang tangan Delia, "Kamu bukan jalan di tempat. Kamu sudah menemukan jalanmu kok, menjadi istri yang baik. Aku berjanji, aku akan bertanggung jawab, bekerja lebih keras lagi. Istriku nggak perlu melakukan apapun, selain menemaniku."


Delia meneteskan air mata tanpa terasa, "Aku masih nggak percaya ini adalah Din."


Din memeluk dan berusaha menenangkan Delia, "Hm, ini aku, suamimu kok."


Banyak petuah Oma yang benar, cinta dalam pernikahan tumbuh karena terbiasa. Anggota keluarga Sjarier tidak diijinkan selingkuh atau bermain wanita sembarangan. Din tidak menyukai bar dan diskotik, ia lebih memilih bengkel, liburan dan menulis. Ada seseorang yang bilang, cara terbaik untuk melindungi diri adalah menjadi orang berprinsip.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2